Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Keluarga dan Parenting

Bagaimana Menumbuhkan (Kembali) Minat Baca pada Anak-anak Kita?

  Di jaman yang dipenuhi dengan produk digital dan video pendek ini, kadang saya bingung bagaimana caranya mengembalikan anak-anak kita pada kesukaan membaca. Saya memperhatikan sekitar saya, dan menemukan bahwa semakin sedikit anak kecil dan anak muda yang masih berminat dengan membaca. Mereka lebih tertarik dengan video pendek dan tulisan pendek yang setiap hari mereka konsumsi di medsos. Bahkan kita yang belum lama kenalan dengan medsos saja langsung jatuh cinta dengan hiburan di medsos, apalagi anak-anak kita yang sejak lahir sudah dimanjakan oleh teknologi tersebut. Bagaimana pun juga, anak-anak harus kenal dan tetap suka dengan kegiatan membaca. Karena kalau mereka hanya menjadi konsumen medsos setiap hari, kemungkinan besar mereka akan kehilangan kemampuan berpikir dan berkonsentrasi dalam jangka waktu lama. Di tengah kebingungan tersebut, saya mendapatkan banyak pencerahan dari beberapa artikel. Kebetulan artikel tersebut berbahasa Inggris, tetapi isinya membuat saya seol...

Hati-hati dengan Kalimat yang Keluar dari Mulutmu, Bu

  Entah kenapa tiba-tiba saya teringat kenangan masa lalu. Kala itu saya masih kanak-kanak. Sebagai anak kecil pada umumnya, saya juga kerap bermain ke rumah teman. Bahkan kadang tidak hanya berhenti di satu rumah saja, karena justru kami akan menghampiri lebih banyak teman  lain lalu bermain bersama-sama. Sungguh masa kecil yang menyenangkan. Sayangnya, di balik semua kenangan manis tersebut, saya justru masih menyimpan kenangan tidak mengenakkan. Kejadian tidak mengenakkan itu bukan tentang saya, tetapi tentang keluarga teman saya. Sebut saja teman saya itu namanya Bunga. Bunga adalah anak sulung dan hanya mempunyai seorang adik laki-laki. Kedua orang tuanya adalah pemilik warung kelontong. Pada saat itu saya cukup sering main ke rumah Bunga karena jaraknya cukup dekat dengan rumah saya. Kami biasanya bermain di ruang tengah yang kebetulan memanjang dan jadi satu dengan warungnya. Saat sedang bermain bersama tersebut kami sering melihat adik Bunga membuka laci dan mengam...

A Great Marriage

 “A Great marriage is not when the ‘perfect couple’ comes together. It is when an imperfect couple learns to enjoy their differences.”—Dave Meurer   Kalimat di atas sedikit saya coba artikan, yaitu pernikahan yang hebat bukanlah pernikahan yang dilakukan oleh orang-orang yang sempurna, tetapi pernikahan hebat adalah pernikahan di mana isinya orang-orang yang tidak sempurna yang belajar menikmati perbedaan. Pernah mendengar sebuah nasihat bahwa pernikahan adalah ibadah seumur hidup? Ya, bagi yang telah menjalani kehidupan berumah tangga tentu paham dengan kalimat bijak tersebut. Menjalani sebuah pernikahan tentu tidaklah semudah dan seindah bayangan. Ada banyak sekali rintangan, ujian dan bahkan mungkin kekacauan yang terjadi di dalamnya. Ada masa di dalam pernikahan itu terasa sangat berat dan hampir menyerah. Tak jarang malah merutuki diri, betapa bodohnya memilih dia sebagai pasangan hidup. Heheheh…tetapi itulah ujian pernikahan. Berbagai rasa tidak enak itu mau tidak ...

Pasangan Berkhianat?

Pernah punya pengalaman serupa, atau mungkin mendengar curhatan saudara atau teman? Geregetan, marah, ingin memaki para pengkhianat cinta, semacam itulah efek buruknya bagi saya jika membicarakan isu populer tersebut. Hingga akhirnya lebih sering memunculkan perbuatan-perbuatan yang justru memalukan jika tidak dikendalikan. Dan menulis menjadi salah satu terapi untuk mengendalikan kemarahan ^_^. Si pelaku terlihat menjijikkan dan bagian penderita tampak menyedihkan. Lalu saya? Apa yang bisa saya lakukan? Mendengarkan, dan sesekali melontarkan kata-kata "sabar". Klise.  Bagaimana menyikapi dan menghadapi para pengkhianat cinta yang tanpa ampun mencabik-cabik harga diri pasangan sahnya?  Cih...memangnya mereka siapa? #pasang muka sinis.  Melelahkan dan akan mengganggu produktivitas jika kita kalah dalam menghadapi persoalan selingkuh diselingkuhi. Sudah diselingkuhi, ditambah merasa sedih dan terpuruk karena diselingkuhi? Rugii besar lah! Saya ingin menyika...

Belajar bahasa ibu … Bahasa Jawa

Saya tinggal di Yogya, membesarkan dan mendidik anak-anak juga di kota ini. Kota Yogya masih berada di wilayah Jawa Tengah . Jadi, sudah barang tentu, bahasa ibu yang digunakan adalah Bahasa Jawa . Itu sudah harga mati, tidak boleh ditawar! Kecuali kita menginginkan anak cucu kelak tidak mengenal lagi bahasa ibunya (Bahasa Jawa). Saya bukan ibu yang baik sebenarnya, terutama dalam memperkenalkan bahasa ibu kepada anak-anak saya. Ada banyak alasan saya untuk itu *hhh… terlalu banyak alasan, atau memang sengaja ngeles. Hehehe, tetapi tentu saja saya tetap ingin memperbaiki keadaan, sekaligus juga dipaksa oleh keadaan untuk dapat mengajari anak-anak berbicara dan mengerti Bahasa Jawa *iya, karena pelajaran Bahasa Jawa ada di mapel sekolah dasar hehehe … Oke, ternyata di tengah masa saling belajar itu, saya menemukan kejanggalan … Apakah itu? Ternyata eh ternyata, kosakata Bahasa Jawa sudah merupakan hal yang merepotkan untuk dapat mempelajari bahasa tersebut. Banyak sekali kata-ka...

Menyiapkan Liburan

Liburan akhir semester dan akhir tahun sudah di depan mata. Anak-anak riang bukan kepalang. Membayangkan bebasnya hari-hari mereka tanpa tumpukan tugas, PR dan belajar. Tetapi saya kok malah agak riweuh mempersiapkannya. Hehehe. Karena saya tidak ingin liburan anak-anak hanya diisi dengan rutinitas yang kurang bermanfaat. Saya memang berusaha membuat anak-anak tidak semakin jatuh cinta dengan TV dan gadget. Penyebab mengapa saya menghindari kedua piranti tersebut tentu tidak perlu saya sebutkan karena sudah banyak ahli yang menyarankan dan memberi penjelasan mengenai hal tersebut. Lalu bagaimana agar waktu liburan yang cukup panjang itu dapat berkesan bagi anak-anak tetapi juga ada efek positif khususnya bagi mereka. Karenanya saya coba ngubek-ubek artikel tentang liburan dan inilah hasilnya yang telah saya sesuaikan dengan kebutuhan keluarga kami: 1.    Isi liburan dengan kegiatan yang menunjang kreatifitas anak misal membuat kerajinan tangan bersama-sama. Belum la...

Asyiknya Jadi Pengusaha Cilik

Sumber Gambar disini       Anak-anak saya sangat senang jika tiba hari Sabtu. Yaitu hari di mana mereka bisa membawa uang saku ke sekolah, karena selain hari Sabtu anak-anak dilarang membawa uang untuk jajan. Dan uang saku yang boleh dibawa itu tetap tidak boleh lebih besar dari Rp 2.000,- hehehe. Meski begitu mereka girang bukan kepalang J . Ya, karena Saturday is Market Day ! Yeaayy! Hari Sabtu memang hari yang seru, karena anak-anak boleh berjualan! Ya, mereka boleh berjualan apa saja asalkan tidak berjualan mainan. Dulu pernah diperbolehkan berjualan mainan tetapi karena lebih banyak masalah yang ditimbulkan daripada manfaatnya, maka jualan mainan termasuk yang dilarang sekarang. Ketika mendengar gagasan tersebut dulu saya sempat berpikir “Ah masa anak-anak mau berjualan”. Tapi olala! Ternyata di luar dugaan saya, anak-anak banyak sekali yang berminat menjadi pengusaha cilik, termasuk anak-anak saya hehehe. Alhasil setiap hari Jumat sepulang...

Memantaskan Diri untuk Dicintai

“Aku dimadu mbak, dan aku tidak mempunyai kekuatan sehingga aku terpaksa tinggal serumah dengan maduku. Tak masalah jika aku diperlakukan adil, tetapi di rumah itu aku hanya bagaikan pembantu. Anak hasil pernikahanku dengan suamiku pun tidak mendapat perhatian selayaknya seorang ayah kepada anaknya. Dan aku ke sini untuk dapat bekerja dan mengumpulkan uang. Aku ingin segera mengajukan gugatan cerai!” Termangu saya mendengar kisah rumah tangga yang dialami salah seorang kerabat jauh saya. Heran, sedih, prihatin tetapi saya juga ingin marah dan memaki sosok lelaki yang telah berlaku arogan tersebut. Tetapi setelah berbicara lebih lanjut dan mengenal lebih dekat dengan sosok wanita berperawakan subur itu, saya jadi memahami satu hal. Ketidakadilan yang dialaminya itu bukan serta merta terjadi karena arogansi sang suami tetapi faktor yang ada dalam sang istri juga turut andil. Kejadian yang menimpanya mungkin bisa jika dimasukkan dalam kategori Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT...

Berbahagialah Wahai Istri

Semua wanita termasuk saya pasti ingin menjadi istri yang baik. Tak ada yang menikah untuk menunjukkan pada dunia bahwa dia seorang wanita kasar, tidak penurut, rewel bahkan sering menyakiti hati suaminya. Tetapi mengapa tetap saja masih bertebaran istri yang seperti tersebut di atas? Apa masalahnya? Padahal sudah jelas-jelas disebutkan dalam sebuah ajaran bahwa kewajiban seorang istri adalah tunduk pada perintah suaminya selama perintah suaminya itu tidak bertentangan dengan perintah agama. Tetapi kenapa semua seakan hanya hiasan bibir semata? Bukan tanpa sebab masih ada istri yang berlaku tidak manis pada suaminya. Sejujurnya sebagai seorang istri dari lubuk hati yang terdalam ingin mengabdikan hidupnya untuk berbakti pada suaminya. Tetapi kok susah sekali menjalankannya? Seorang istri yang selalu dituntut menyelesaikan urusan rumah tangga lebih sering tersulut emosi. Memang berat mengendalikan emosi apalagi jika lelah telah mengerubungi seluruh badan. Bukan senyuman yan...

Anak Hebat itu Anak Ayah!

Pernah mendengar ungkapan dari para ayah “Anak Hebat Pasti Anak Ayah!”, dan kalau anak sedang tidak berprestasi atau mungkin malah sedang bermasalah maka menjadi anak ibunya. Masih adakah suami-suami yang biasa berucap demikian? Agak nyinyir dan nyebelin ya dengernya? Yah, bagaimana tidak, ibu yang susah payah jungkir balik (nah mulai lebay kan… J ) mendidik dan mendampingi anak-anak. Dikala ayah di luar menjalankan kewajibannya, maka tugas mendidik anak-anak menjadi kewajiban seorang ibu. Lantas mengapa para ayah suka mengaku-ngaku kalau itu adalah prestasinya. Huh! Agak jengah ya? Hehehehe aku dulu juga sering merasa jengah kalau suami, yang mungkin sebenarnya niatnya hanya menggoda, berlaku seperti yang telah disebutkan di atas. Tetapi sekarang malah sudah kebal, alias ya sudahlah. Ambil aja kalau mau! Begitulah kira-kira bahasa kasarnya. J Bagi seorang ibu, sudah tidak penting lagi apakah kebaikan dan prestasi yang ditunjukkan anak-anak, akan berimbas pada diakuinya...

Belajar dan Berproseslah Nak!

Jarak kelahiran antara anak saya yang pertama dan kedua sangat dekat. Mereka hanya selisih 1 tahun 6 hari. Ya! Saya mengandung untuk anak yang ke dua setelah 3 bulan saya melahirkan anak saya yang pertama. Sangat mengagetkan bagi saya. Dan tentu juga sangat melelahkan. Lelah, baik secara fisik maupun psikis. Suami termasuk orang yang sangat bertanggung jawab untuk urusan mencari nafkah. Sehingga, urusan domestik, mutlak menjadi otoritas saya. Selama hamil anak yang kedua tersebut, belum begitu terasa repotnya. Meski tidak bisa dikatakan mudah. Sambil mengurus anak yang pertama, saya tetap mengurus segala tetek bengek urusan rumah tangga dan anak. Belum terpikir untuk mencari ART. Karena saya merasa masih mampu melakukan semua sendiri. Hingga anak kedua lahir, urusan pengasuhan anak saya lakukan sendiri. Repot? Iya tentu saja. Tetapi saya menikmatinya. Karena semua dilakukan sendiri, tak sadar waktu terus berlari. Hingga anak telah mencapai masa untuk dikenalkan dengan lingkungan...

Problematika Rumah Tangga dan Mengatasinya

Problematika Rumah Tangga dan Mengatasinya     Kemarin, untuk kesekian kalinya saya menjadi konsultan dadakan untuk keluarga, rumah tangga dan problematikanya. Sebenarnya awalnya saya dijadikan sebagai tempat curhatan untuk teman dan saudara yang mempunyai masalah dalam pernikahannya tetapi keterusan sampai sekarang. Saya tetap setia mendengar dan memberi masukan untuk saudara yang sedang mengalami masalah. Bukan merasa lebih pandai dalam menghadapi persoalan karena saya juga masih berproses dalam menjalani kehidupan keluarga saya yang tentunya juga sama, penuh dengan berbagai liku-liku. Jadi saya malah sering mengambil pelajaran dari berbagai persoalan yang dihadapi dan dipusingkan oleh beberapa teman dan saudara saya tersebut.   Catatan yang dapat saya tulis, terkait pelajaran dari berbagai kasus yang dihadapi teman dan saudara saya tersebut yaitu banyaknya persoalan yang mengiringi perjalanan berumah tangga akan lebih mudah dan lebih terasa enteng jika ...

Tips Mengatur "Jatah Bulanan"

Tips Mengatur "Jatah Bulanan" Ibu-ibu dan calon ibu yang baik hati. Tulisan ini saya buat sebagai pengingat diri saya dan mudah-mudahan dapat bermanfaat untuk ibu-ibu dan para calon ibu sekalian.  Ibu rumah tangga (IRT), identik dengan ibu-ibu yang repot mengurus anak, keluarga dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Tidak sedikit ibu rumah tangga yang tetap bekerja di luar rumah sebagai pegawai swasta maupun abdi negara. Banyak pula ibu rumah tangga yang memilih fokus mengurus keluarga dan anak-anak serta perkara yang melingkupinya, disamping itu banyak pula yang menyelingi kesibukannya dengan berwirausaha. Apapun dan bagaimanapun profesi tambahannya, ibu rumah tangga masih  dituntut untuk dapat menjadi manajer yang baik bagi rumah tangganya.   Salah satu tugas penting seorang ibu disamping tugas-tugas penting lainnya adalah mengurus dan mengelola keuangan keluarga (seorang istri mempunyai tanggung jawab untuk menjaga harta suaminya). Seiring dengan perk...