Senin, 20 Oktober 2014

Belajar dan Berproseslah Nak!


Jarak kelahiran antara anak saya yang pertama dan kedua sangat dekat. Mereka hanya selisih 1 tahun 6 hari. Ya! Saya mengandung untuk anak yang ke dua setelah 3 bulan saya melahirkan anak saya yang pertama. Sangat mengagetkan bagi saya. Dan tentu juga sangat melelahkan. Lelah, baik secara fisik maupun psikis. Suami termasuk orang yang sangat bertanggung jawab untuk urusan mencari nafkah. Sehingga, urusan domestik, mutlak menjadi otoritas saya.

Selama hamil anak yang kedua tersebut, belum begitu terasa repotnya. Meski tidak bisa dikatakan mudah. Sambil mengurus anak yang pertama, saya tetap mengurus segala tetek bengek urusan rumah tangga dan anak. Belum terpikir untuk mencari ART. Karena saya merasa masih mampu melakukan semua sendiri. Hingga anak kedua lahir, urusan pengasuhan anak saya lakukan sendiri. Repot? Iya tentu saja. Tetapi saya menikmatinya. Karena semua dilakukan sendiri, tak sadar waktu terus berlari. Hingga anak telah mencapai masa untuk dikenalkan dengan lingkungan sekitar. Dan saya mungkin agak terlambat melakukannya.

Hingga tiba saatnya saya harus memasukkan anak-anak ke sekolah, untuk dapat melengkapi proses perjalanan kehidupan mereka. Mereka berdua bersamaan saya daftarkan di sekolah yang sama. Maksud saya agar mereka saling menguatkan. Karena anak-anak sangat lengket dengan saya, maka proses ini sangat berat bagi kami. Hampir setiap hari, selama satu bulan, anak-anak saya menangis di sekolahnya. Mereka menangis bergantian! Sepanjang waktu selama di sekolah! Selama di sekolah mereka tidak bersedia bermain bersama teman-temannya, apalagi urusan makan dan minum.

Kerja sama dengan pihak sekolah sangatlah baik. Para guru dengan sabar menemani dan mendekati anak-anak saya. Membuat anak-anak saya menemukan kenyamanan di lingkungan barunya tersebut. Meskipun begitu, saya hampir putus asa dan berniat menarik salah seorang anak saya yang paling kecil. Hal tersebut saya maksudnya untuk mengurangi kerepotan bagi para guru. Hingga tiba waktu menjemput anak-anak. Saya sudah membulatkan tekad, untuk mengatakan niat saya tersebut pada guru dan kepala sekolah tempat anak saya bersekolah.

Dengan tegang saya memasuki pintu gerbang sekolah anak saya tersebut, dan disambut oleh senyum manis seorang guru. Sambil tersenyum sang guru tersebut berujar “Alhamdulillah Bu, hari ini anak-anak sudah bisa bermain bersama teman-temannya, mereka juga mau makan.” Seakan tidak percaya saya meminta kejelasan dari maksud ucapan guru tadi, dan dijawab oleh senyuman dan tawa riang guru tersebut. Lega hati saya mengetahui hal tersebut. Apalagi saat saya menyaksikan anak-anak saya saat tengah asyik bermain pasir bersama dengan anak-anak yang lain.

Rasanya ucapan terima kasih tidak cukup untuk menggambarkan betapa besar kebahagian saya kala itu. Apalagi untuk dapat membalas jasa para guru tersebut terhadap kami, terutama anak-anak itu. Hanya doa tulus terselip di balik senyum bahagia saya, semoga kebahagiaan, kebaikan dan kesejahteraan selalu menyertai para guru semua. Kebaikan dan ketulusan kalian memberikan nilai-nilai kebaikan pada anak-anak yang sedang belajar dan berproses. Keindahan proses ini semoga terpatri dalam dada anak-anak ini. Hingga kelak dirinya dewasa, mereka memiliki tabungan cinta di dalam jiwanya untuk dapat disebarkan dan demi kebaikan semesta.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar