Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Ragam Hidup

Menulis adalah Rumah Paling Nyaman

  Suami saya sudah lama tahu kalau saya suka menulis dan saya mempunyai blog pribadi. Meskipun begitu, sepertinya suami tidak pernah tahu atau belum terlalu ingin tahu seperti apa tulisan istrinya ini. Hingga akhirnya ketika akhir-akhir ini saya sering membagikan link blog saya di media sosial, sepertinya suami sempat membaca sekilas. Dan menurut pengakuannya, beliau memang baru membaca sekilas, tidak sampai tuntas, alasannya tentu saja menurutnya tulisannya cukup panjang dan dirinya tidak cukup waktu luang, saat itu. Baiklah, tidak apa-apa. Toh memang selama ini saya menulis bukan untuk beliau saja, atau mungkin memang saya menulis dan saya bahagia, itu sudah cukup. Tak berapa lama setelah saya mulai sering membagikan tulisan di media sosial, suami menanyakan sebuah hal, “Kamu nulis itu pake AI, gak?” *AI itu Artificial Intelligence , yang artinya kecerdasan buatan. Itu satu mata kuliah sendiri dulu waktu kuliah, jadi yang ingin tahu lebih lanjut apa itu AI bisa cari-cari send...

Mengambil Jeda dengan Kesadaran

Saya lupa sejak kapan mulainya, tetapi saya baru menyadari sesuatu bahwa seiring bertambahnya umur dan semakin banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan, orang dewasa sering lupa untuk sekedar menghela napas panjang dengan sadar. Sejak bangun pagi rasanya tubuh dan pikiran bahkan mungkin hati dipaksa untuk bisa langsung ON. Kita lupa bahwa mengisi waktu dengan memberi jeda saja itu tidak apa-apa. Kadang karena tertimbun dalam banyak tugas bisa sampai membuat dada saya terasa sesak dan napas menjadi pendek-pendek. Hal tersebut membuat semua tugas terasa semakin berat. Sebagai ibu rumah tangga tentunya setiap hari memiliki banyak tugas dan tanggung jawab yang menunggu diselesaikan. Ketegangan yang kadang timbul dalam menjalani aktivitas memang lumrah terjadi, tetapi kalau tidak disiasati tentu akan membuat kita kewalahan sendiri. Alhamdulillah, akhir-akhir ini saya menyadari bahwa ada satu hal kecil yang sudah lama saya lupakan. Hal yang terkesan sepele itu adalah mengambil napas p...

IRT Kece

  Menjalani peran sebagai ibu rumah tangga (IRT) sering membuat seorang ibu melupakan kebutuhan dirinya sendiri. Peran dan tanggung jawab yang sangat banyak dan beragam sering kali membuat dirinya merasa tak ada waktu untuk menyenangkan diri sendiri. Peran sebagai IRT adalah peran yang sangat rawan dengan stress dan burn out . Setiap hari berkutat dengan pekerjaan yang sama, bertemu dengan hal-hal serupa, pergaulan yang sangat terbatas karena padatnya tanggung jawab yang dimiliki seorang IRT menjadikan kemungkinan emosi menjadi tidak stabil. IRT yang hampir setiap hari terkungkung di rumah memang bisa membuat jiwa ibu rapuh. Dibentak sedikit langsung sakit hati, diomongin tetangga langsung baper, dikritik suami jadi emosi tingkat tinggi dan masih banyak lagi kekacauan yang bisa muncul jika seorang ibu sedang tidak baik-baik saja. Diakui atau tidak, tetapi tantangan IRT itu banyak sekali loh. Tanpa persiapan kita dituntut untuk bisa menjalani banyak profesi. Terkadang kita harus ...

Lakukan Saja Semampumu

 “Do what you can, with what you have, where you are.”—Theodore Roosevelt Saya teringat apa yang telah disampaikan oleh Gus Baha. Pada suatu kali beliau pernah ditanya oleh salah seorang jamaah pengajiannya. Orang itu bertanya tentang peran sekolah atau Lembaga Pendidikan tertentu yang seolah-olah menjadi jaminan jika seseorang bersekolah di sekolah itu maka akan menjadi sukses. Sebagai ulama ahli ilmu hakikat tentu Gus Baha menjawab pertanyaan tadi lewat ilmu hakikat. Menurut beliau hal tersebut tidak bisa dijadikan jaminan. Di mana pun tempat seseorang itu belajar atau sekolah tidak lantas serta merta menjadikan orang itu pintar lalu berakhir pada keberhasilan hidup. Pada kenyataannya yang biasanya ditampilkan dan terkenal itu yang memang yang sukses, sedangkan yang prestasinya biasa-biasa saja atau bahkan cenderung kurang atau tidak pintar maka tentu tidak akan dikenal masyarakat luas. Lalu bagaimana menyikapi hal tersebut, ketika seseorang sudah bersekolah di sekolah yang sanga...

Pasangan Berkhianat?

Pernah punya pengalaman serupa, atau mungkin mendengar curhatan saudara atau teman? Geregetan, marah, ingin memaki para pengkhianat cinta, semacam itulah efek buruknya bagi saya jika membicarakan isu populer tersebut. Hingga akhirnya lebih sering memunculkan perbuatan-perbuatan yang justru memalukan jika tidak dikendalikan. Dan menulis menjadi salah satu terapi untuk mengendalikan kemarahan ^_^. Si pelaku terlihat menjijikkan dan bagian penderita tampak menyedihkan. Lalu saya? Apa yang bisa saya lakukan? Mendengarkan, dan sesekali melontarkan kata-kata "sabar". Klise.  Bagaimana menyikapi dan menghadapi para pengkhianat cinta yang tanpa ampun mencabik-cabik harga diri pasangan sahnya?  Cih...memangnya mereka siapa? #pasang muka sinis.  Melelahkan dan akan mengganggu produktivitas jika kita kalah dalam menghadapi persoalan selingkuh diselingkuhi. Sudah diselingkuhi, ditambah merasa sedih dan terpuruk karena diselingkuhi? Rugii besar lah! Saya ingin menyika...

Sukseskah kita? (Sepertinya saya curhat, maaf)

"Selamat ya, sekarang kamu udah sukses..." Pernah mendapat komentar seperti itu dari teman. Saya sudah pernah sih...emmm meskipun kalimat itu bukan untuk saya hehehe. Mendengar itu semua saya lalu penasaran sebenarnya sukses itu apa sih. Dan saya mendapat jawaban dari seorang teman. Menurutnya sukses adalah ketika seseorang tidak lagi direpotkan masalah keuangan. Ada lagi teman yang berpendapat bahwa sukses adalah ketika apa-apa yang dilakukan mendapat ridlo Allah SWT. Pada saat itu saya berpendapat bahwa sukses seseorang tergantung dari awalannya. Yaps, awalan di mana mimpi itu dimulai. Saat seseorang mempunyai mimpi, maka disitulah awal dia akan meraih sukses, yaitu saat mimpinya tercapai. Pada saat itu, dia akan dengan bangga mengatakan bahwa dirinya sukses.  Setelah melewati beberapa periode kehidupan, lengkap dengan hiruk pikuknya saya menemukan sesuatu. Halah. Ya, kalo tadi pendapat saya mengatakan bahwa sukses tergantung mimpinya. Maka sekarang saya ingin menamb...

Long Time No See...

It has been so long time since my last posting in this blog. Bismillah... i'll try to start again. Start from zero? Nevermind, cause i'll try to make my day cheers up with this blog. Sudah ah pemanasan pakai bahasa Inggrisnya, berasa tambah pegel nulisnya. Karena jari-jari dah siap mengetik eh, isi kepala belum bisa ditranslate ke Bahasa Inggris. Memang harus banyak belajar lagi nih, disamping harus belajar nulis lagi dan lagi... sepertinya belajar nulis pake bahasa Inggris itu perlu banget. Yah, itung-itung supaya bisa ngajari anak-anak pas mereka ada PR Bahasa Inggris. Berarti start from zero kali ini akan ada tambahan tanggung jawab dan target buat saya pribadi. Bismillah saya ingin menargetkan diri ini untuk minimal bisa posting seminggu sekali. Dan semoga juga target untuk dapat posting dalam Bahasa Inggris minimal sebulan sekali dapat terpenuhi. Amiiin ... *Malu sebenarnya posting-posting tentang target, tetapi gimana lagi, kalau ga begini bakal lebih sering lupa dari...

Sharing yuk!

Kalau sedang stres paling enak ya tidur. Yup, molor aja, tarik selimut tak lupa krukupin muka pake bantal. Dengan harapan setelah bangun tidur suasana hati menjadi lebih baik dan bisa berpikir untuk dapat memecahkan masalah tersebut. Sukur-sukur masalah selesai dengan sendirinya setelah bangun dari tidur. Itu kalau saya. Karena masalah yang sering muncul dan harus dihadapi lebih-lebih diatasi membuat persendian rasanya sakit untuk digerakkan. Otak mejadi kebas, tak bisa di ajak berpikir. Jadi enaknya ya diistirahatkan. Balik lagi emang maunya tidur kalau lagi banyak masalah *bukan untuk ditiru loh ya...   Tapi jika masalah hadir secara beruntun, apakah tidur tetap menjadi pilihan untuk meringankan beban? Trus gimana kabarnya Life Must Go On ? Jika setiap masalah yang hadir disikapi dengan perasaan berat yang melenakan, yang membolehkan kita untuk down . Sehingga berimbas pada macetnya kreativitas bahkan semangat. Gawat kan?   Lantas bagaimana agar masalah itu selesai...

Bijak Berkendara. Bisa kan?

Beberapa hari lalu kota Jogja geger oleh kasus Moge. Hmmm... kalau dibilang tidak terganggu dengan seliweran para geng motor itu memang bohong. Tidak mungkin masyarakat rela mempersilakan orang-orang yang merasa dapat membeli dunia itu untuk melanggar hak mereka.  Sebelum kisah moge itu menggemparkan dunia nyata dan dunia maya, ada juga geng motor lain yaitu rombongan motor King, dan sebelumnya lagi ada rombongan motor CB yang tak kalah membuat geregetan. Mereka memadati seluruh jalan dan mengancam keselamatan pengguna jalan yang lain.  Saya yang juga tinggal di Jogja sebenarnya sudah sering menemui banyak geng motor menunjukkan aksinya, yang menurut saya tidak banyak memberikan manfaat itu. Justru banyak korban dalam even tersebut. Korbannya tidak hanya dari para peserta touring, tetapi juga pengguna jalan bahkan pejalan kaki harus ikut terkena dampak buruknya. See... mengapa kami menjadi galak? Ya karena nyawa kami terancam, bukan sekedar terganggu. Saya tidak a...

Sedikit Hikmah dari Sebuah Peristiwa

Hampir saja bulan Juli ini terlewat tanpa ada satu pun postingan di blog ini. Fiuuh, cepat sekali rasanya hari berlalu. Lha kok, tiba-tiba sudah ada di penghujung bulan. Bulan ini memang menjadi bulan sibuk bagi saya *bukan sok sibuk lho ya. Awal bulan yang masih bulan Ramadhan dan tentunya setelah itu dilanjutkan dengan jadwal padat di bulan Syawal *apalagi kalau bukan silaturahim ke sanak saudara, baik yang di dalam kota maupun yang luar kota. Sebenarnya sih, kemarin sudah ada plan untuk menyisakan waktu di rumah selama seminggu terakhir sebelum libur lebaran usai. Tetapi, manusia berkehendak dan Tuhan  yang menentukan *begitukan pepatah bijak mengatakan. Yah, saya dan keluarga menerima kabar mengagetkan sekaligus sangat menyedihkan bagi kami. Kakak ipar laki-laki yang tinggal di luar kota, yaitu di Jakarta meninggal dunia setelah selama dua tahun berjuang tak kenal lelah mengejar kesembuhan untuk kesehatan jantungnya. Dan sekali lagi, kehendak Tuhan berkata lain.  Di s...

Belajar bahasa ibu … Bahasa Jawa

Saya tinggal di Yogya, membesarkan dan mendidik anak-anak juga di kota ini. Kota Yogya masih berada di wilayah Jawa Tengah . Jadi, sudah barang tentu, bahasa ibu yang digunakan adalah Bahasa Jawa . Itu sudah harga mati, tidak boleh ditawar! Kecuali kita menginginkan anak cucu kelak tidak mengenal lagi bahasa ibunya (Bahasa Jawa). Saya bukan ibu yang baik sebenarnya, terutama dalam memperkenalkan bahasa ibu kepada anak-anak saya. Ada banyak alasan saya untuk itu *hhh… terlalu banyak alasan, atau memang sengaja ngeles. Hehehe, tetapi tentu saja saya tetap ingin memperbaiki keadaan, sekaligus juga dipaksa oleh keadaan untuk dapat mengajari anak-anak berbicara dan mengerti Bahasa Jawa *iya, karena pelajaran Bahasa Jawa ada di mapel sekolah dasar hehehe … Oke, ternyata di tengah masa saling belajar itu, saya menemukan kejanggalan … Apakah itu? Ternyata eh ternyata, kosakata Bahasa Jawa sudah merupakan hal yang merepotkan untuk dapat mempelajari bahasa tersebut. Banyak sekali kata-ka...

Curhat sebentar. Boleh ya ...

Sudah berapa hari ya, blog ini tidak saya rapikan, bersihkan? Kok mulai berdebu. Hmmm ... lama atau sebentar tergantung sih, tapi saya yang baru memulai menulis dan berani menyebut diri blogger ini agak malu juga kalau sebentar saja tidak ngutak-atik isi blog. Apalagi ini sudah 2 minggu. Whatt? Cepat sekali rasanya waktu berlalu. Kayaknya baru kemarin saya mengisi blog dengan tulisan untuk kompetesi dengan DL bulan Mei. Alhamdulillah, dari kompetisi itu ada yang nyangkut dan dapat hadiah. Alhamdulillah Ya Allah ...E lha tapi kok sudah masuk bulan Juni aja. Dua minggu, yah sepertinya 2 minggu saya absen tidak membuka laptop. Iya, saya tidak membuka laptop! Dan gadget smartphone saya juga tidak bersahabat dengan saya dua minggu terakhir ini. Sehingga banyak info dan deadline kompetisi menulis terlewatkan. ah, tapi tidak mengapa. Disesali juga malah semakin membuang energi.  Jadi, saya mulai kemasi sampah yang berserakan, saya buang ke tempat sampah sebelum saya pilah dulu tentuny...

Tenang Berbelanja Online

Siapa sih yang meragukan hasrat belanja kaum hawa? Saya rasa semua percaya bahwa hampir semua kaum penyuka keindahan ini sangat senang berbelanja. Tak heran banyak kemudahan dan kelebihan yang ditawarkan oleh toko online maupun konvensional. Mulai dari tampilan toko, harga yang menarik, berbagai macam produk yang ciamik serta kemudahan transaksi. Semakin sempitnya waktu untuk shopping membuat para perempuan memilih berbelanja online. Karena apa? Tentu saja agar lebih fleksibel menyesuaikan dengan waktu longgar mereka. Tapi berbelanja online bukan aktivitas yang tanpa resiko loh, karena di luar sana berkeliaran penjahat dunia maya. Serem kan?! Saya juga sering maju mundur cantik kalau ingin belanja lewat online shop .  Sehingga dibutuhkan semacam garansi untuk memastikan bahwa penjual yang kita ajak bertransaksi itu jujur dan amanah. Tapi beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan informasi dari teman blogger bahwa ada media iklan  toko online yang dapat dipercaya, namany...

Kamulah Jawaban Doaku

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Suamiku ... Ternyata sudah 10 tahun kita menjalani hari-hari bersama dalam naungan pernikahan. Pertemuan yang tidak pernah aku sangka sebelumnya. Pernikahan yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Suka duka kita jalani bersama, meskipun sebenarnya aku merasa lebih banyak sukanya ketimbang dukanya. Apakah kau juga merasa demikian? Suamiku ... Setelah sekian lama berada di sampingmu, mempelajari tabiatmu, mengerti kebiasaanmu dan belajar mencintai apa-apa yang kaucintai, menyadarkanku bahwa telah banyak hal yang aku pelajari dari dirimu. Banyak pengertian yang kurangkum dalam setiap perbuatan dan perkataanmu. Bahwa cinta tidak mengenal kata benci, bahwa mencintai berarti mengajaknya memperbaiki diri, bahwa mencintai orang lain setulus hati bukan sekedar empati melainkan perwujudan kecintaan pada Ilahi.  Suamiku ... Meski terkadang kerasnya tabiatmu membuatku sesak dan tak bisa bergerak, tetapi tabiatmu itulah yang telah menggiringku...

Nikah Yuk!

Ngomongin tentang nikah itu sering menimbulkan rasa sensitif dalam hati, terutama di dalam hati jomblowan dan jomblowati. Dan dulu, duluuuuu sekali ketika saya masih sebagai gadis imut yang tentu masih jomblo, saya sering merasa mupeng *agak ke iri sih sebenarnya hahaha ... *, jika ada teman seumuran yang udah nikah. Rasanya kok ajib aja gitu, masih muda tapi sudah ada yang punya, halal pula hehehe ... Karena penasaran dengan apa dan bagaimana persiapan menuju pernikahan yang barokah, maka ketika kuliah dan ada seminar pra nikah saya pun ikut serta hehehehe... Dan hasilnya saya semakin ingin menikah muda hahaha... Nah lo, kenapa? Iya, karena di seminar yang disampaikan oleh Mohammad Fauzil Adzim itu, membagi cerita tentang berbagai pernikahan muda yang tetap penuh prestasi. Oke banget kan? Contohnya ga usah jauh-jauh, Bapak yang nulis buku best seller Kupinang Engkau dengan Hamdalah ini adalah salah satu contoh bukti bahwa pernikahan di usia muda tidak akan memberi dampak buruk ba...

[Suka Duka Hijabku] Jilbabmu Mempesonaku

Dari judulnya terkesan bahwa yang nulis ikhwan (alias mas-mas) yang sedang terkagum-kagum dengan kibaran jilbab seorang akhwat bukan? Eits, Anda keliru teman, yang nulis ini perempuan tulen (buktinya dah melahirkan dua anak laki-laki hehehe ...). Tapi begitulah, jilbab (begitu saya biasa menyebutnya) telah saya kenal sejak tahun 1996, tepatnya sejak saya duduk di kelas 2 SMP. *Nah mulai menghitung kan, kira-kira sekarang saya umur berapa, hehehe ...* Yah, biarpun pada masa itu jilbab belum sepopuler sekarang, tapi di sekolah saya jilbab biasa digunakan saat ada pelajaran agama, sehingga lumayan kenal lah dengan jilbab. Pada jaman saya masih remaja imut itu, saya termasuk yang kolot *itu kata orang tua saya dulu hehehe*. Iya, karena saya selalu menolak memakai baju ketat dengan lengan super pendek, apalagi yang model you can see my lek ( baju yang ga ada lengannya ituuu...), aduuuh ga banget deh. Rasanya kok kayak seluruh tubuh saya tidak tertutup baju. Betul kan saya bilang tadi, sa...

Obrolan Meja Makan

Melanjutkan cerita tentang   Mumun   yang sedang memperjuangkan perkataan cinta dari suaminya. Pagi ini Mumun dan Maman sedang sarapan bersama. Kebetulan hari ini mereka sarapan tanpa anak-anak. Karena anak-anak sudah berangkat sekolah. Mumun yang memang senang caper (cari perhatian) dan sedikit   menthel   (centil) senantiasa mencuri-curi kesempatan untuk bermanja-manja dengan suaminya. Dan pagi itu sepasang suami istri itu makan bersama sambil tentunya ngobrol santai. "Pah, Mamah pernah dengar nanti kalau kita sudah meninggal, jika kita tinggal di surga maka istri akan ditemani oleh suaminya yang terakhir.  Maksudnya laki-laki yang terakhir menjadi suami itulah yang akan menemani sang istri di surga." Mumun berusaha menjelaskan.*entah dapat ilmu dari mana Si Mumun* Tapi yang jelas Mumun bercerita dengan semangat. "Kalau begitu Mamah tidak akan menikah lagi jikalau Papah meninggal duluan. Supaya kalau Mamah udah meninggal dan boleh tinggal di surg...