“Piye, Si A sudah baca pesan WA-mu?” Laki-laki itu bertanya. Aku berhenti sejenak dari aktivitasku. Sebenarnya tidak terlalu bersemangat membahas hal itu. “Hmm, gak tau. Gak penting juga. Setauku ada fitur untuk me-nonaktif-kan mode read pada WA.” Jawabku sambil mengaduk kopi panas. Aroma menyenangkan langsung menguar, menyisipkan rasa bahagia bagi setiap pecintanya. “Pesanmu sudah centang dua?” “Sudah.” “Sudah dibaca?” Aku balik badan. Sekarang bisa melihat matanya yang menatapku tajam, seperti sedang mencari jawaban. “Kan sudah kubilang itu tidak penting. Kalau memang orang itu merasa bahwa komunikasi masih diperlukan pasti dia buka, dia baca dan pesannya sampai.” Laki-laki itu masih menatapku, seolah menunggu kalimat selanjutnya. Aku menarik kursi lalu duduk di hadapannya. “Biarkan saja begini. Aku sudah menemukan kesimpulanku. Pada carut marutnya dunia kecil yang ada di sekelilingku ini aku memilih setia. Tak masalah lagi dengan dia atau mereka.” Lak...