Pernah gak merasa kok, kehidupan orang lain kayaknya lebih enak daripada kehidupan diri sendiri? Saya pernah. Dan pikiran seperti itu cukup lama menemani saya. Banyak contoh kita menginginkan kehidupan orang lain. Kok, enak banget dia masih bisa main ke mana saja padahal sama-sama IRT. Kok kayaknya hidupnya santai banget. Kok enak banget dia suaminya selalu pengertian. Dan masih banyak lagi keluhan khas seorang istri dan ibu.
Kok ngeluh, sih? Apa gak tau kalau banyak ngeluh itu tidak baik? Ya, tahu. Pinginnya juga tidak mengeluh, tetapi ternyata yang dilihat dan dihadapi berbeda dengan harapan, sehingga mudah mengeluh. Ya, belajar dikit-dikit ya…..*Hmm, emak ini memang masih harus banyak belajar.
Di sisi lain, orang lain ternyata juga sering beranggapan bahwa kita lebih beruntung, hidupnya enak, di rumah tapi masih bisa berkarya dan sebagainya. Anehnya kalimat dari orang lain tersebut seolah terlupakan saat kita melihat kehidupan orang lain. Dan biasanya kita akan lebih perhatian dengan orang yang memiliki kehidupan yang kita idam-idamkan. Bukankah begitu, Mak?
Saya justru mulai bisa menerima kehidupan saya dan sangat menyukurinya saat ada seorang teman yang dalam sebuah obrolan tiba-tiba nyeletuk, “Aku malah pingin jadi kamu.” Sebuah kalimat yang membuat saya melihat ke dalam diri saya. Saya mulai menyadari bahwa kehidupan saya, yang menurut saya biasa saja ini, mungkin impian orang lain. Sama seperti ketika saya sangat menginginkan kehidupan orang lain juga. Ah, betapa bodohnya saya. Sibuk melihat keluar sampai-sampai lupa menikmati yang dimiliki, apapun itu. Hal tersebut mengingatkan saya pada ajaran Jawa, Wang Sinawang.
Sejak kecil saya sudah cukup akrab dengan falsafah Jawa yang kerap muncul dalam obrolan simbah-simbah saya. Mereka sering mengucapkan kalimat itu di tengah obrolan saat mereka tanpa sadar membicarakan kehebatan seseorang. Selalu ada orang yang menyadarkan dengan kalimat, “Wong urip kui jane muk wang sinawang.” Orang hidup itu sebenarnya hanya saling memandang atau melihat.
Saya baru bisa meresapi kalimat tersebut. Memang benar, kadang kita tertipu oleh pandangan mata kita sendiri. Saat pikiran dan perasaan kita sudah tidak adil, bahkan sebelum kita memahami sebuah peristiwa. Dari awal sudah terganggu dengan satu hal dan menginginkan kebalikan dari yang sekarang kita miliki, maka saat melihat orang lain memilikinya kita merasa orang tersebut beruntung. Kita lupa bahwa ada hal lain yang tidak kita lihat. Kita sering melewatkan bahwa orang lain juga pasti mempunyai keinginan yang bisa jadi keinginan tersebut juga belum kesampaian.
Saat kita melihat orang lain kita merasa hidupnya enak, padahal kita tidak tahu apakah kenyataannya betul seperti itu. Kita juga pasti tidak tahu pengorbanan apa yang dilakukan teman kita tersebut. Sebagai contoh saat kita melihat pasangan orang lain lebih baik daripada pasangan kita masing-masing, bisa jadi karena ada beberapa hal yang tidak bisa diberikan oleh pasangan tersebut. Bisa jadi dari sisi ekonomi yang masih belum mapan, persaingan karier yang membuat stress atau kondisi keluarga dan orang tua yang tenyata cukup memusingkan dan masih banyak hal lainnya. Dan sekali lagi kita tidak tahu hal tersebut. Karena kita hanya melihat luarnya saja, di balik itu banyak hal yang mereka alami dan rasakan yang bahkan mungkin lebih berat, yang kalau kita yang mengalami belum tentu kita sanggup. Nah, kita kadang lupa sisi pedih yang dihadapi teman kita hanya karena kita tidak menghadapi kepedihan yang sama dengan teman kita tersebut.
Dari banyak kejadian dan bertemu banyak orang membuat saya berhenti menginginkan kehidupan orang lain. Mungkin kehidupan saya belum menjadi kehidupan yang ideal. Karena saya yakin memang tidak ada yang akan ideal selama kita masih hidup di dunia. Jadi nikmati saja ketidakidealan tersebut dengan menghargai yang sudah ada, sekecil apa pun itu.
Hampir saja saya menjadi bagian dari orang yang tidak pandai bersyukur. Mata dan hati terlalu sibuk menginginkan kehidupan orang lain, hingga lupa bahwa banyak hal baik yang telah Allah anugerahkan kepada saya. Falsafah hidup orang Jawa, Wang Sinawang, menjadi pengingat saya bahwa sejatinya hidup enak itu tergantung dari sisi mana kita memandangnya. Tidak selamanya hidup orang lain yang kita anggap baik itu tanpa cela, dan sebaliknya juga sama, bahwa yang orang lain anggap diri kita dan kehidupan kita lebih baik itu sebenarnya tidak demikian adanya. Semoga dengan tulisan ini membuat kita selalu ingat untuk lebih menghargai dan menyukuri yang kita miliki. Karena sudah jelas disampaikan dalam Al Quran bahwa semakin kita bersyukur akan semakin bertambah nikmat kita.

Komentar
Posting Komentar