Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2014

Hamil dan βHCg

Masih cerita tentang kehamilan saya. Ya, saya memang pernah mengalami berbagai rasa dalam menjalani kehamilan. Dari yang hamil tidak disadari dan keguguran, hingga hamil yang mengharuskan saya nginep di rumah sakit selama 21 hari serta hamil yang menyenangkan. Ini cerita tentang kehamilan saya yang kedua. Setelah saya keguguran pada kehamilan pertama dan dilanjutkan dikuret. Maka saya dan suami bertekad untuk bersemangat agar segera dapat hamil lagi. Hingga dokter yang dulu menangani saya sewaktu keguguran menjadi konsultan kami untuk dapat segera hamil lagi. Alhamdulillah kehamilan yang ditunggu itu datang lagi. Suka cita kami rasakan dan tentunya menjadi lebih hati-hati dan waspada. Setelah mengetahui saya hamil tersebut, saya rajin memeriksakan kandungan. Dan atas rekomendasi salah satu temannya, maka kami memilih salah satu dokter spesialis kandungan yang cukup senior dan terkenal di kota kami. Kehamilan saya yang kedua ternyata tidak jauh berbeda dengan kehamilan saya...

Hamil dan Infeksi Saluran Kencing

Setelah menikah ternyata saya tidak membutuhkan waktu lama untuk hamil , tetapi gejala awal kehamilan saya tidak dicurigai sebagai ciri orang hamil . Saya tidak mual muntah seperti orang hamil pada umumnya, tetapi saya mengalami gejala sering BAK dan BAK yang tidak tuntas dan menjadi sering ngompol karena tidak dapat menahan BAK. Melihat itu, ibu mengajak saya ke bidan dekat rumah untuk memeriksakan diri. Tak tahu kenapa kok bidannya tanpa ba bi bu langsung mengatakan bahwa gejala yang saya alami itu mungkin dikarenakan cuaca yang sedang tidak bersahabat untuk tubuh. Sehingga sistem pembuangan saya bermasalah. Saya dianjurkan banyak minum air putih dan diberi beberapa jenis obat. Bukannya membaik, saya kok jadi semakin sering BAK dan rasanya bertambah sakit. Tidak tahan, akhirnya saya menelepon salah satu rumah sakit untuk disambungkan ke bagian obsgyn dan diterima perawatnya. Bersyukur setelah mendengar keluhan saya, perawat itu memberikan penjelasan mengenai gejala yang s...

Asyiknya Jadi Pengusaha Cilik

Sumber Gambar disini       Anak-anak saya sangat senang jika tiba hari Sabtu. Yaitu hari di mana mereka bisa membawa uang saku ke sekolah, karena selain hari Sabtu anak-anak dilarang membawa uang untuk jajan. Dan uang saku yang boleh dibawa itu tetap tidak boleh lebih besar dari Rp 2.000,- hehehe. Meski begitu mereka girang bukan kepalang J . Ya, karena Saturday is Market Day ! Yeaayy! Hari Sabtu memang hari yang seru, karena anak-anak boleh berjualan! Ya, mereka boleh berjualan apa saja asalkan tidak berjualan mainan. Dulu pernah diperbolehkan berjualan mainan tetapi karena lebih banyak masalah yang ditimbulkan daripada manfaatnya, maka jualan mainan termasuk yang dilarang sekarang. Ketika mendengar gagasan tersebut dulu saya sempat berpikir “Ah masa anak-anak mau berjualan”. Tapi olala! Ternyata di luar dugaan saya, anak-anak banyak sekali yang berminat menjadi pengusaha cilik, termasuk anak-anak saya hehehe. Alhasil setiap hari Jumat sepulang...

Menulis itu Seni yang Bisa Dipelajari

Saya pernah membaca bahwa penulis itu merupakan sebuah profesi. Sama seperti profesi lainnya yang dapat menghasilkan keuntungan misalnya profesi guru, profesi dokter dsb. Selain itu penulis itu juga pekerja seni, dan menulis itu disebut sebagai salah satu kegiatan yang bernilai seni. Saya sepakat dengan kedua pendapat tersebut. Seseorang yang berprofesi sebagai penulis berarti juga sedang berusaha menghasilkan karya seni. Karena suatu karya yang indah itulah yang disebut dengan karya seni. Seseorang yang dapat menghasilkan suatu karya yang mempesona penikmatnya berarti berhasil dalam membuat sebuah karya seni yang indah. Sama seperti aktivitas berkaitan dengan seni lainnya yang proses pembuatannya membutuhkan kedalaman hati dan pikiran, membuat tulisan juga membutuhkan keterlibatan hati. Tulisan yang dihasilkan sepenuh hati oleh penulisnya tentu akan menghasilkan tulisan yang ‘beda’ dengan tulisan lain yang dilakukan tanpa melibatkan hati di dalamnya. Kata-kata yang dihasilka...

Memantaskan Diri untuk Dicintai

“Aku dimadu mbak, dan aku tidak mempunyai kekuatan sehingga aku terpaksa tinggal serumah dengan maduku. Tak masalah jika aku diperlakukan adil, tetapi di rumah itu aku hanya bagaikan pembantu. Anak hasil pernikahanku dengan suamiku pun tidak mendapat perhatian selayaknya seorang ayah kepada anaknya. Dan aku ke sini untuk dapat bekerja dan mengumpulkan uang. Aku ingin segera mengajukan gugatan cerai!” Termangu saya mendengar kisah rumah tangga yang dialami salah seorang kerabat jauh saya. Heran, sedih, prihatin tetapi saya juga ingin marah dan memaki sosok lelaki yang telah berlaku arogan tersebut. Tetapi setelah berbicara lebih lanjut dan mengenal lebih dekat dengan sosok wanita berperawakan subur itu, saya jadi memahami satu hal. Ketidakadilan yang dialaminya itu bukan serta merta terjadi karena arogansi sang suami tetapi faktor yang ada dalam sang istri juga turut andil. Kejadian yang menimpanya mungkin bisa jika dimasukkan dalam kategori Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT...

Pentingnya Kerangka Tulisan

Sebenarnya saya sudah sering mendengar betapa pentingnya kerangka tulisan dalam sebuah karangan/tulisan. Ibarat bangunan yang membutuhkan pondasi maka sebuah karangan juga membutuhkan kerangka untuk dapat memudahkan proses pengerjaannya. Tetapi yang sering terjadi saya mengabaikan hal tersebut. Bukan karena saya menganggapnya tidak penting, tetapi ternyata bagi saya lebih mudah membuat tulisan tanpa memulainya dengan kerangka karangan. Padahal itu jelas-jelas tidak bisa diabaikan. Itu merupakan langkah keliru yang dapat merobohkan bangunan karangan saya dengan sekali tiup. Membuat kerangka tulisan sebenarnya sudah diajarkan sejak dulu ketika belajar pelajaran Bahasa Indonesia. Tetapi karena terlalu sering nulis diary yang biasanya pasti tanpa didahului kerangka tulisan, maka inilah jadinya. Saya jadi kagok untuk menuliskan dan menerjemahkan ide-ide ke dalam sebuah kerangka tulisan. Lantas bagaimana cara membuat kerangka tulisan? Menurut berbagai sumber yang saya gali, maka...

Transparansi dalam Pajak

Mendengar kata pajak pasti membuat sebagian besar orang akan menyingkir. Atau malah berusaha berpikir untuk dapat membayar pajak sekecil mungkin. Jadi slogan “Hari ini tidak bayar pajak? Apa kata dunia?” Itu bukan menjadi ancaman yang memalukan bagi para wajib pajak. Tapi jangan langsung menyalahkan para wajib pajak. Karena kepercayaan rakyat khususnya para wajib pajak memang harus dimunculkan kembali setelah berbagai kasus yang menjerat para aparat di dirjen pajak. Tetapi bukan hanya itu masalahnya. Bagi para wajib pajak, hak-hak yang melekat seiring dengan kewajiban membayar pajak sepertinya bukanlah hak yang sebenarnya harus diperoleh oleh wajib pajak. Mengapa demikian? Hal itu karena dari sekian hak-hak wajib pajak semuanya berujung pada kewajiban yang hanya diperlonggar saja. Wajib pajak masih diperlakukan sebagai objek dan bukan subjek. Misalnya seperti yang tercantum pada buku panduan Hak dan Kewajiban Wajib Pajak, misalnya hak dalam hal wajib pajak dilakukan pemeri...

Hati-hati dengan Komunitas Menulis!

Agak terhenyak ya membaca judulnya? Judul di atas memang terkesan menyudutkan keberadaan komunitas menulis yang akhir-akhir ini semakin menjamur. Tapi suerrrr… bukan itu maksudnya! Banyaknya komunitas penulisan memang sangat menggiurkan bagi kami para pecinta dunia menulis dan blog. Bukan tanpa alasan kami ingin terlibat pada banyak komunitas dan grup penulisan. Hal itu karena kami ingin mempunyai kesempatan lebih luas untuk belajar. Pada komunitas penulisan kami kerap mendapatkan ilmu yang selama ini kami tak pernah tahu. Disamping itu semangat dari orang yang mempunyai passion sama membuat kami merasa bahwa kami tidak sendiri. Saat kesulitan-kesulitan dalam proses pembelajaran penulisan itu bertubi-tubi mencoba menghentikan langkah kami, kami tidak serta merta berputus asa. Para penulis senior dan para blogger yang telah lama malang melintang di dunia maya adalah guru kami. Terima kasih banyak untuk ilmunya. Maaf jika kami khususnya saya sering datang tak diundang dan p...

Berprasangka Baik Kepada-Nya

Pernah suatu ketika di sebuah kajian rutin yang saya ikuti, seorang teman menyeletuk sebuah hal yang membuat saya cukup lama merenunginya bahkan berusaha mencari jawaban dengan mengajak berdiskusi beberapa orang yang saya anggap “mengerti”. Ketika itu, pembicaraan menyoroti masalah syukur dan mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya. Ketika semua orang sedang khusuk menyimak, salah seorang teman saya tersebut berujar “Tapi menjalani kehidupan saat ‘diatas’ tentu lebih mudah kan ya bu, dari pada menjalani kehidupan saat berada ‘dibawah’.”   Saya agak tersentak dengan kalimat yang diucapkan teman saya tersebut. Dan berbagai jawaban berusaha saya cari untuk dapat menolak anggapan ibu itu. Hingga beberapa hari setelahnya, pernyataan mengagetkan itu masih saya cari jawaban sebenarnya. Setelah beberapa hari kemudian, ada jawaban dari teman saya yang saya ajak diskusi mengenai hal tersebut. Dari pembicaraan tersebut satu kesimpulan yang dapat diambil ba...

Kebenaran Tidak Akan Datang Terlambat

Pernahkah teman-teman merasa galau terhadap suatu perkara? Bingung untuk melangkah ke kanan atau ke kiri? Gamang ketika akan melakukan kebaikan dan kebenaran? Semakin tua usia bumi ini semakin dilengkapi dengan berragamnya godaan di dalamnya. Seakan syetan dan iblis telah memenuhi seluruh pelosok di berbagai belahan dunia ini. Tidak hanya menyerang anak-anak dan kaum muda, kegamangan bertindak juga dialami oleh kaum dewasa dan lanjut usia. Berapa banyak dari kita yang lebih malu menunjukkan kebaikan daripada keburukan? Mengapa orang-orang menjadi lebih mudah berperilaku seenaknya tanpa mengenal susila? Jawabannya sudah jelas, mereka tidak sabar menunggu hasil setia pada kebenaran itu datang. Keyakinan terhadap nilai kebenaran sudah semakin memudar. Benar begitu? Budaya serba instan semakin memperparah keadaan. Kesabaran pada proses pencarian dan kesetiaan pada nilai-nilai kebenaran dan kebaikan seakan sudah tidak dihiraukan. Sehingga para pecinta kebenaran memang harus ber...

Berbahagialah Wahai Istri

Semua wanita termasuk saya pasti ingin menjadi istri yang baik. Tak ada yang menikah untuk menunjukkan pada dunia bahwa dia seorang wanita kasar, tidak penurut, rewel bahkan sering menyakiti hati suaminya. Tetapi mengapa tetap saja masih bertebaran istri yang seperti tersebut di atas? Apa masalahnya? Padahal sudah jelas-jelas disebutkan dalam sebuah ajaran bahwa kewajiban seorang istri adalah tunduk pada perintah suaminya selama perintah suaminya itu tidak bertentangan dengan perintah agama. Tetapi kenapa semua seakan hanya hiasan bibir semata? Bukan tanpa sebab masih ada istri yang berlaku tidak manis pada suaminya. Sejujurnya sebagai seorang istri dari lubuk hati yang terdalam ingin mengabdikan hidupnya untuk berbakti pada suaminya. Tetapi kok susah sekali menjalankannya? Seorang istri yang selalu dituntut menyelesaikan urusan rumah tangga lebih sering tersulut emosi. Memang berat mengendalikan emosi apalagi jika lelah telah mengerubungi seluruh badan. Bukan senyuman yan...

Bukan Malaikat

Menjalani hari dengan berbagai rutinitas biasanya membuat orang lupa terhadap hak masing-masing bagian tubuhnya. Karena setiap detil tubuh itu tidak pernah berteriak, maka anggapan kita semua masih baik-baik saja. Mungkin rasa sakit dan letih baru menyadarkan otak kita bahwa tubuh kita juga perlu beristirahat. Tetapi seringkali terlupa dan tidak terdengar keluhan dari bagian tubuh yang satu ini. Ya, bagian tubuh yang satu ini memang terkenal pendiam dibandingkan dengan bagian tubuh yang lain. Dan bagian tubuh itu biasa kita panggil “hati”. Seringkali kita tanpa sadar melupakan bahwa hati juga membutuhkan “ me time -nya”. Berbagai macam aktivitas yang ditengarai disebabkan oleh semakin meningkatnya kebutuhan dan tanggungjawab membuat diri lupa mengistirahatkannya. Alarm hati sebenarnya mungkin telah sering berbunyi, tetapi karena tekanan kesibukan hingga tidak terdengarlah oleh kita suara alarm hati tersebut. Bagaimana mungkin alarm yang berbunyi sampai tidak terdengar? Hmm...

Cari Lingkungan yang Baik dan Membaikkan!

Pernahkah teman-teman merasa sangat malas melakukan apapun? Pinginnya hanya leyeh-leyeh di depan TV, ganti-ganti chanel TV hingga tak terasa waktu berjalan sangat cepat dan kita hanya mendapatkan sebuah kehampaan? Jujur saya lumayan sering merasa demikian (hehehe malu saya…), tapi ya itulah yang terjadi dan memang harus saya akui. Hal tersebut seringkali tak sadar melenakan kita, berdalih ah hari ini santai-santai saja, toh kemarin-kemarin sudah bekerja sangat keras. Hmmm bolehlah bersantai, toh tubuh kita juga punya hak untuk beristirahat dan bersantai sejenak. Tetapi jangan keterusan, karena sesuatu yang melenakan itu biasanya mudah berubah menjadi candu. Kecanduan itu saya lihat sebagai suatu aktivitas yang berlebihan. Jadi harus dihilangkan. Segala sesuatu yang berlebihan kan tidak baik, begitu kan kata orang bijak? Lalu apa yang harus dilakukan jika kita mulai merasa kecanduan terhadap sesuatu, terutama yang bisa berdampak buruk pada diri kita? Contoh paling dekat den...