Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2014

Menyiapkan Liburan

Liburan akhir semester dan akhir tahun sudah di depan mata. Anak-anak riang bukan kepalang. Membayangkan bebasnya hari-hari mereka tanpa tumpukan tugas, PR dan belajar. Tetapi saya kok malah agak riweuh mempersiapkannya. Hehehe. Karena saya tidak ingin liburan anak-anak hanya diisi dengan rutinitas yang kurang bermanfaat. Saya memang berusaha membuat anak-anak tidak semakin jatuh cinta dengan TV dan gadget. Penyebab mengapa saya menghindari kedua piranti tersebut tentu tidak perlu saya sebutkan karena sudah banyak ahli yang menyarankan dan memberi penjelasan mengenai hal tersebut. Lalu bagaimana agar waktu liburan yang cukup panjang itu dapat berkesan bagi anak-anak tetapi juga ada efek positif khususnya bagi mereka. Karenanya saya coba ngubek-ubek artikel tentang liburan dan inilah hasilnya yang telah saya sesuaikan dengan kebutuhan keluarga kami: 1.    Isi liburan dengan kegiatan yang menunjang kreatifitas anak misal membuat kerajinan tangan bersama-sama. Belum la...

Lika-Liku Merawat Wajah

Di usia yang sudah memasuki kepala 3 tentu banyak sekali permasalahan kulit yang dihadapi ibu-ibu. Dari mulai kulit kering, kulit kusam, berjerawat dan bintik hitam. Memang kecantikan fisik bukan segalanya, tetapi bukankah menjaga keindahannya juga tidak masalah sebagai wujud syukur atas kulit yang membungkus tubuh kita. Saya juga pernah merasakan ribet dan ga sabar dalam merawat kulit terutama kulit wajah. Meski begitu saya tetap melakukan standar membersihkan wajah dan menjaga kelembaban kulit. Karena kulit saya sepertinya lebih mudah kering dan kusam, saya keranjingan dengan produk kecantikan (yang ada di pasaran) untuk menjaga kelembaban kulit. Berbagai produk kecantikan yang dapat menjaga kelembaban kulit pernah saya coba. Tetapi tidak semua produk itu cocok untuk semua jenis kulit. Tapi karena keterbatasan pengetahuan tentangnya, maka saya hanya coba-coba dan mengikuti feeling untuk memilih suatu produk pelembab (untuk kulit wajah kok coba-coba..:)). Ya dari pada tida...

IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis Interaktif)

Pernah saya menuliskan tentang pilihan sikap yang harus berhati-hati menyikapi maraknya komunitas penulisan yang saya tulis disini . Dan dengan mempertimbangkan kesesuaian antara gaya dan selera dalam belajar menulis, saya merasa sangat senang dapat bergabung dengan IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis Interaktif). IIDN yang didirikan oleh Ibu Indari Mastuti dan telah beranggotakan ribuan ibu-ibu dan calon ibu yang mencintai dunia penulisan ini membuat saya semakin senang menulis. Meski saya tidak tahu pasti apakah kesukaan menulis saya ini nantinya akan memberikan manfaat secara finansial atau tidak. Yang lebih saya syukuri sekarang adalah saya memperoleh lingkungan (meski di dunia maya) yang sangat kondusif dan membangun. Semangat menulis dan membaca saya jadi semakin membara. Hehehe… Meski belum lama gabung di IIDN, tetapi sudah banyak ilmu yang saya dapat. Mulai dari ilmu manajemen waktu, ilmu EYD, ilmu menangkap dan memanajemen ide, ilmu mencari uang lewat tulisan dan masih banyak ...

Tamparan keras dari Upin Ipin

 Sumber Gambar disini  Siapa yang tak kenal Upin Ipin? Tokoh kartun yang setiap hari tayang di salah satu TV swasta Indonesia. Sosoknya yang lucu, polos dan cerita yang lebih manusiawi dan masuk akal membuat film kartun yang satu itu menjadi salah satu yang direkomendasikan oleh para ibu untuk ditonton oleh anak-anaknya. Yah, dibanding film kartun lain seperti Sinchan, Naruto, SpongeBob dll sepertinya Upin Ipin masih layak tonton. Cerita yang ditampilkan memang disesuaikan dengan Negara asalnya yaitu Malaysia. Dengan logat Melayu yang awalnya terasa asing di telinga anak-anak, tidak membuat mereka kehilangan pecintanya di sini. Perlahan dan sangat pasti anak-anak mulai dapat mengikuti dan memahami berbagai logat yang ada dalam cerita Upin Ipin tersebut. Bahkan mereka mulai fasih menirukan berbagai aksen dan logat bicara seperti yang ada dalam kartun kesayangan mereka tersebut. Di awal perubahan aksen dan logat bicara anak-anak yang ke-Melayu Melayu-an itu terkes...

Perjalanan Menuju Kebahagiaan

Dulu ketika saya masih remaja, saya mempunyai mimpi bahwa saat dewasa nanti saya ingin menjadi wanita karier. Pokoknya menjadi wanita yang bekerja di kantor, yang berangkat pagi pulang petang. Pagi-pagi sudah wangi, cantik dan keren. Memakai pakaian kerja setiap hari. Dan tentunya mempunyai penghasilan “lumayan”. Kala itu sepertinya saya lupa, bahwa impian terpendam saya yang lainnya adalah mempunyai keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Menjadi ibu yang mendampingi dan menjadi saksi proses perjalanan hidup anak-anak saya. Hingga beranjak dewasa lha kok usaha yang saya lakukan tanpa saya sengaja lebih condong mengarah mimpi saya yang kedua. Saya lebih tertarik dengan kegiatan-kegiatan untuk mempersiapkan peran saya sebagai seorang istri dan ibu, dari pada kegiatan yang menuntun saya menjadi wanita karier. Hingga waktu mempertemukan saya dengan bapaknya anak-anak. Jadilah impian saya yang kedua lebih cepat terwujud dari pada mimpi lainnya. Tak berapa lama, lahirlah anak-anak me...

Hipnotis

Pernah mendengar kata hipnotis? Atau mungkin pernah menjadi salah satu korban hipnotis? Atau jangan-jangan malah bertindak sebagai pelaku hipnotis? Hmmm saya pernah menjadi salah satu korbannya. Menyebalkan sekali. Ya! Dihipnotis adalah pengalaman pertama kali saya mengalami hal yang sebelumnya saya anggap tidak masuk akal. Jika ingat kejadian tersebut rasanya saya ingin kembali ke masa ketika saya dihipnotis dan memaki orang yang menghipnotis saya tersebut. Tidak akan saya lupakan dan mungkin sampai sekarang saya belum memaafkan perbuatannya kepada saya. Karena yang saya alami bukan sekedar hipnotis yang ada di TV yang biasa digunakan untuk membuka rahasia (aib) sendiri. Ini penipuan! Grrrr geram sekali saya jika mengingat peristiwa sekitar 2 tahun yang lalu. Peristiwa itu dimulai dengan adanya sms masuk di hp suami saya. Entah mengapa suami yang biasanya cuek dengan berbagai sms yang berisi menjadi pemenang undian, eh ini kok malah antusias. Dia merasa mungkin memang ben...

Jangan menua dalam hampa.

Terinspirasi dari kalimat yang dibuat oleh seorang teman. Mengingatkan saya pada perjalanan hidup yang sudah berjalan cukup jauh. Jika menilik perjalanan kehidupan Kanjeng Nabi Muhammad SAW, maka saya sudah sampai diseparuh perjalanan beliau. Ahh, tidak terasa, sekian puluh ribu hari telah saya lalui. Jika boleh melihat ke dalam diri dan berkaca, apakah yang telah saya isi di terowongan panjang yang telah saya lalui? Apakah kehampaan saja ataukah meninggalkan jejak-jejak penuh keberartian? Apakah saya menjalani proses untuk menjadi seperti kalimat teman saya tersebut “menua dalam hampa”? Dan saya semakin yakin, selama ini saya hanya meninggalkan kehampaan. Menyedihkan. Tapi jika berpikir ke belakang hanya menyebabkan diri ini meratap saja maka akan semakin rugilah diri ini. Tak ada lagi waktu untuk meratapi kehampaan di belakang perjalanan. Yang ada sekarang adalah titik dimana saya berdiri dan pasti akan meninggalkan jejaknya. Memilih jejak yang memberi arti tentu tidak mudah, ...