Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2026

Menulis adalah Rumah Paling Nyaman

  Suami saya sudah lama tahu kalau saya suka menulis dan saya mempunyai blog pribadi. Meskipun begitu, sepertinya suami tidak pernah tahu atau belum terlalu ingin tahu seperti apa tulisan istrinya ini. Hingga akhirnya ketika akhir-akhir ini saya sering membagikan link blog saya di media sosial, sepertinya suami sempat membaca sekilas. Dan menurut pengakuannya, beliau memang baru membaca sekilas, tidak sampai tuntas, alasannya tentu saja menurutnya tulisannya cukup panjang dan dirinya tidak cukup waktu luang, saat itu. Baiklah, tidak apa-apa. Toh memang selama ini saya menulis bukan untuk beliau saja, atau mungkin memang saya menulis dan saya bahagia, itu sudah cukup. Tak berapa lama setelah saya mulai sering membagikan tulisan di media sosial, suami menanyakan sebuah hal, “Kamu nulis itu pake AI, gak?” *AI itu Artificial Intelligence , yang artinya kecerdasan buatan. Itu satu mata kuliah sendiri dulu waktu kuliah, jadi yang ingin tahu lebih lanjut apa itu AI bisa cari-cari send...

Ibarat Peribahasa: Anjing Menggonggong Kafilah Berlalu

  “ You will never reach your destination if you stop and throw stones at every dog that barks .” –Winston Churchill. Sebuah kuote yang hampir sama artinya dengan kalimat yang tertera di judul artikel ini, yang kurang lebih artinya adalah kita tidak akan pernah mencapai tujuan jika sibuk mengurusi komentar dari orang-orang. Jadi, kalau kita sudah menentukan tujuan maka sebaiknya fokus mencapai tujuan tersebut. Di dalam proses pencapaian tujuan pasti akan ada banyak yang berkomentar dan bahkan mungkin sangsi dengan kemampuan kita. Tetapi jika kita sibuk menanggapi berbagai macam komentar orang maka kita tidak akan sampai ke tujuan yang kita inginkan. Menjalani proses pencapaian tujuan memang tidaklah mudah. Dibutuhkan konsistensi dan keteguhan dalam menapaki satu demi satu prosesnya. Saya pernah mendengar sebuah kisah yang bercerita tentang adanya perlombaan memanjat tembok bangunan tinggi yang akan dilakukan oleh sekumpulan kura-kura. Seketika semua orang tertarik untuk bisa me...

Journaling agar Jiwa Lebih Bening

  “Piye, Si A sudah baca pesan WA-mu?” Laki-laki itu bertanya. Aku berhenti sejenak dari aktivitasku. Sebenarnya tidak terlalu bersemangat membahas hal itu. “Hmm, gak tau. Gak penting juga. Setauku ada fitur untuk me-nonaktif-kan mode read pada WA.” Jawabku sambil mengaduk kopi panas. Aroma menyenangkan langsung menguar, menyisipkan rasa bahagia bagi setiap pecintanya. “Pesanmu sudah centang dua?” “Sudah.” “Sudah dibaca?” Aku balik badan. Sekarang bisa melihat matanya yang menatapku tajam, seperti sedang mencari jawaban.   “Kan sudah kubilang itu tidak penting. Kalau memang orang itu merasa bahwa komunikasi masih diperlukan pasti dia buka, dia baca dan pesannya sampai.” Laki-laki itu masih menatapku, seolah menunggu kalimat selanjutnya. Aku menarik kursi lalu duduk di hadapannya. “Biarkan saja begini. Aku sudah menemukan kesimpulanku. Pada carut marutnya dunia kecil yang ada di sekelilingku ini aku memilih setia. Tak masalah lagi dengan dia atau mereka.” Lak...