Sudah sejak lama saya tertarik dengan buku-buku nonfiksi. Lebih khusus lagi adalah buku-buku yang membahas tentang proses pengembangan diri, mencintai diri sendiri dan berbagai petunjuk mencapai ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Ya, semua orang di dunia ini juga pasti ingin bermuara pada kebahagiaan, kan?
Dari sekian banyak buku yang membagikan petunjuk kebahagiaan, salah satunya adalah buku Ajaran Bahagia dari Jawa. Buku ini sudah masuk radar saya karena sejak awal tahun berseliweran di beranda media sosial.
Awalnya saya masih ragu untuk membelinya, dengan berbagai alasan yang menyertai. Ya, in this economy kadang membuat saya berpikir ulang untuk menambah koleksi buku. Walaupun pada akhirnya saya tetap berhasil memiliki buku ini di sebuah pameran buku di tempat tinggal saya, Jogja.
Tentu saja saya membeli buku ini bukan hanya karena sentiment kedaerahan, karena penulisnya berasal dari daerah yang sama dengan saya. Kendatipun demikian, tetap tidak bisa dipungkiri sebagai seseorang yang juga ingin menghasilkan tulisan berupa buku solo, bisa membaca karya penulis dari daerah yang sama meningkatkan ketertarikan saya. Apalagi alirannya saya banget. Hehehe.
Spesifikasi Buku Ajaran Bahagia dari Jawa
Buku ini ditulis oleh seorang seniman yang memang berlatar belakang pendidikan Sastra Jawa. Hal itu membuat saya semakin tertarik membaca buah pikiran penulisnya. Buku yang sudah cukup lama berseliweran di media sosial saya itu akhirnya saya beli setelah bisa memegang wujudnya. Sampul buku ini didominasi warna hijau tua dengan ilustrasi yang kental menunjukkan kehidupan masyarakat Jawa pada masa lampau.
Detail identitas bukunya sebagai berikut:
· Sub judul: Filosofi untuk Hidup Tenang dan Legawa
· Penulis: Paksi Raras Alit
· Cetakan: Ketiga, Mei 2026
· Penerbit: Buku Mojok
· Jumlah halaman: viii + 206 halaman
Sebagai orang yang senang menenteng buku dan membaca di mana saja, buku ini terasa pas bagi saya. Ukurannya tidak terlalu besar dan juga tidak kekecilan, sehingga bisa masuk ke dalam tas yang tidak terlalu besar. Singkatnya, buku ini mudah dibawa kemana-mana.
Selain itu, hal yang saya suka adalah tentu saja di dalamnya kita akan menemukan pembatas buku. Barang yang mungkin dianggap sederhana tetapi wajib ada di buku saya. Entah kenapa, saya selalu merasa ada yang kurang jika buku yang saya beli tidak menyertakan pembatas buku di dalamnya. Adakah yang sama seperti saya? Hehehe.
Isi Buku
Seperti judulnya, buku ini mengupas falsafah hidup orang Jawa yang mungkin sudah mulai terpinggirkan di kehidupan modern sekarang ini. Pitutur berisi nasihat yang semakin dianggap kurang pas untuk zaman yang konon katanya serba individualis dan materialis ini. Padahal mungkin kita justru perlu jeda sejenak untuk melihat lebih jelas, apakah benar jalan yang kita tempuh menuju pada kebahagiaan yang selama ini kita cari?
Beberapa ajaran bahagia ala Jawa yang dibagikan dalam buku ini membangkitkan memori saya tentang masa lalu. Ya, bagaimana pun juga beberapa dari sekian banyak falsafah Jawa yang diusung dalam buku ini dulu kerap saya dengar dari para orang tua, yang mungkin mulai saya abaikan. Dan kejutan yang menyenangkan adalah saat menemukan beberapa istilah yang masih asing di benak saya, salah satunya istilah Melik Nggendhong Lali. Di samping itu, point of view penulis dengan segala pengalamannya terkait ajaran leluhur Jawa dalam buku ini semakin memperjelas maksud dan kegunaan falsafah hidup tersebut.
Beberapa pola pikir masyarakat Jawa zaman dulu diterangkan dengan gamblang, lengkap dengan contoh peristiwa yang bisa diambil hikmahnya. Seperti kisah seorang penjual jajanan pasar yang sudah sepuh di sudut kota Jogja. Kecanggihan teknologi membuat keberadaannya yang sebelumnya tersembunyi jadi dikenal lebih banyak orang. Berbekal rasa simpati dan penasaran menyebabkan semakin banyak orang yang datang membeli dagangan simbah tersebut. Satu hal yang menarik adalah kesempatan tersebut justru tidak dijadikan ajang aji mumpung. Pilihan sikap simbah tersebut tampak berbanding terbalik dengan strategi yang banyak digaungkan para ahli ekonomi: semakin tinggi permintaan maka supply-nya harus ditingkatnya.
Dalam hal ini simbah tersebut masih mempraktikkan ajaran hidup Samadya atau Hiduplah Secukupnya. Sikap yang dipilih oleh simbah tersebut mungkin tampak janggal bagi siapa pun yang mengejar kebahagiaan melalui tumpukan materi. Beliau justru mengingatkan kita semua perihal merasa cukup. Dan masih banyak lagi falsafah Jawa yang disampaikan dengan ringan di buku ini, diantaranya Adigang Adigung Adiguna, Aja Gumunan, Aja Gege Mangsa dan Wang Sinawang. Lebih lengkapnya langsung baca saja di buku Ajaran Bahagia dari Jawa.
Kesan Setelah Membaca
Buku ini seolah mengingatkan saya mengenai ajaran leluhur yang hampir saya lupakan. Memang benar, akhir-akhir ini kita tanpa sadar menjadikan ukuran kesuksesan dengan cara hidup cepat dan berbagai pencapaian yang harus sesuai standar orang kebanyakan. Hal tersebut telah membuat kita selalu tergesa dalam menjalani hidup. Tuntutan yang hadir itu justru sering menyebabkan kita lupa menikmati waktu yang ada.
Nah, dengan membaca buku ini saya diajak untuk sedikit menilik lagi makna bahagia yang sebenarnya. Apakah bahagia kita harus selalu didasarkan atas validasi umum atau kita bisa menjalani hidup yang penuh kebahagiaan sejati, yang mungkin akan bertentangan dengan kebiasaan manusia modern?
Nasihat-nasihat yang disuguhkan mengingatkan saya mengenai ajaran hidup yang dianggap sudah kuno oleh sebagian masyarakat, tetapi justru dampak ajaran tersebut bisa memberikan kebahagiaan yang selama ini kita cari.
Bagi pembaca yang memang suka dengan buku nonfiksi bertema ketenangan dan kebahagiaan, buku Ajaran Bahagia dari Jawa ini sangat bisa dipilih untuk menambah referensi kalian. Selamat membaca dan selamat berbahagia!
Komentar
Posting Komentar