Sebut saja namanya Rani dan Dewi. Keduanya adalah teman yang sangat akrab. Sebagai perempuan yang sudah berkeluarga dan rentang usia yang hampir sama membuat pertemanan mereka lebih mudah terbentuk. Apalagi jarak rumah diantara kedua ibu muda itu tidak terlalu jauh, sehingga mereka cukup sering bertemu. Seperti umumnya sahabat dekat, mereka kerap bertukar cerita untuk sekedar membuang penat atau memang ingin mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Kadang Rani yang sibuk bercerita, tak jarang pula Dewi yang mencurahkan perasaannya, berharap mendapatkan sedikit rasa lega setelah menumpahkan uneg-unegnya. Memang lebih sering Dewi yang mencurahkan banyak kisah hidup dibandingkan Rani, tetapi mereka tetap bisa nyambung.
Tidak
seperti biasanya, pagi ini Dewi menelpon Rani. Dari seberang suara Dewi terdengar
diantara deru suara knalpot. Menelpon dengan diawali kalimat yang sudah sangat dihapal Rani.
“Ran, aku
mau cerita banyak kali ini jadi kamu jangan bosan.” Rani mengehntikan aktivitasnya, berusaha menyimak suara nyaring
sahabatnya itu sambil tersenyum. Perasaan selama ini dia memang selalu cerita
panjang lebar, belum pernah pendek. Ah, memang begitulah persahabatan, selalu
penuh pengertian.
Dewi beralasan
harus menelpon karena dirinya masih repot dan tidak ada waktu lagi untuk datang
ke rumah Rani. Maksudnya suasana hati Dewi yang memang tidak ada waktu menunggu
untuk ditumpahkan. Ya, kurang lebih begitulah kalau ibu-ibu sudah frustrasi.
Dewi cerita banyak
tentang kondisinya, kali ini memang agak lebih panjang. Telinga Rani dibuat
panas demi mendengarkan semua polemik sahabatnya tersebut. Dia merasa diperlakukan
tidak adil oleh mertuanya padahal merasa sudah melakukan apa saja untuk membuat
keluarga suaminya menyukainya, tetapi ternyata yang diperoleh justru
kebalikannya. Tentu saja Dewi merasa kecewa. Rani menghela napas panjang. Cukup
lelah karena harus mendengarkan dan menyimak serta harus mengulang nasihat yang
hampir sama.
Dewi memang orang yang cukup temperamental, di samping itu dia juga terlalu sensitif dan perasa. Bahkan Rani harus sering ngemong agar Dewi tidak tersinggung dengan perkataannya. Sebagai orang yang tidak bisa berbasa-basi, Rani merasa cukup repot menghadapi tingkah Dewi. Bisa dibayangkan bagaimana dia harus mencari diksi yang tepat agar kejujurannya tidak terdengar terlalu pedas bagi telinga temannya tersebut.
Dewi masih bersemangat
menceritakan semuanya secara runtut, tanpa koma apalagi titik. Rani sudah
sangat hapal. Jadi, meskipun kadang dibuat geregetan
oleh tingkah Dewi, Rani tetap tidak tega. Selalu rela menjadi tempat
mengeluarkan beban hati dan pikiran sahabatnya tersebut. Yang Rani tahu, Dewi
sebenarnya orang baik. Hanya saja, Dewi terlalu polos atau mungkin karena Dewi kurang suka baca. Ya, baca apa saja yang penting mau meluangkan waktu "membaca". Akibatnya Dewi lebih sering kewalahan dalam menjalani kehidupan yang memang penuh
dinamika ini.
Rani tahu
sumber permasalahan Dewi sebenarnya bukanlah mertuanya yang dianggapnya pilih
kasih. Bukan pula karena sikap suami atau saudara-saudaranya yang membuatnya kehabisan
kesabaran. Namun, penyebab utamanya adalah Dewi terlalu menyandarkan
kebahagiaannya pada orang lain. Angan-angan yang sering tidak kesampaian itulah
biang kerok sebenarnya.
Rani pernah
membaca buku Filosofi Teras karangan Henry Manampiring. Isi buku tersebut
semakin membuat Rani yakin dengan pilihan sikapnya selama ini. Meskipun Dewi
justru sering sewot demi melihat respon Rani yang terkesan lemah, tetapi tetap
tidak mengubah sikapnya. Pada saat itu Rani tidak mempunyai alasan pasti. Yang
jelas, Rani merasa telah melakukan hal yang tepat.
Buku
Filosofi Teras memberikan jawabannya, bahwa kita tidak bisa mengatur hal yang
berada di luar kemampuan kita. Masih dalam buku tersebut, kita tidak bisa
mengatur bagaimana orang lain bersikap terhadap kita. Sebaliknya kita bisa
mengendalikan respon dan sikap kita terhadap orang lain. Kita tidak bisa
mengendalikan cuaca dan alam di sekitar kita, yang ada kita bisa mengusahakan
untuk bisa beradaptasi sebaik mungkin dengan perubahan yang ada. Misalnya saja
suatu hari tiba-tiba hujan, kita bisa memilih antara bersikap merutuki
perubahan cuaca yang tiba-tiba atau mengambil langkah lain yang tidak perlu
mengumpat hal yang memang tidak bisa dan tidak layak diumpat. Mungkin kita bisa
berteduh sebentar sambil menikmati suasana yang selama ini mungkin selalu kita
lewatkan. Atau kita tetap menerobos hujan dengan niatan menikmatinya sambil
berdoa yang baik-baik. Apa pun itu akan jauh lebih baik daripada sibuk
mengumpat dan berkeluh kesah.
Jika kita
berangan-angan untuk mengendalikan hal-hal yang memang di luar kendali, pasti
kita akan lebih banyak menemui kekecewaan daripada kebahagiaan. Sama seperti
kasus yang dialami Dewi, rasa kecewa itu timbul saat harapan tidak sesuai
dengan kenyataan. Bukan salah harapannya, tetapi kita berharap pada sesuatu yang
memang tidak bisa kita kendalikan. Kita bisa mengusahakan agar orang lain suka
atau bersimpati kepada kita, tetapi sikap mereka tidak mungkin bisa kita atur.
Mereka adalah makhluk merdeka, sama seperti kita.
Kemerdekaan
kita yaitu kita bisa memilih cara bersikap dan berperilaku tanpa terpengaruh
oleh sikap dan tidakan orang lain terhadap kita. Akan lebih ringan bagi Dewi
jika dia tidak terlalu berharap pada sikap suami atau mertuanya. Dewi akan
nyaman dan lebih tenang jika dia hanya melakukan hal-hal yang merupakan
kewajibannya tanpa berharap imbalan dari pihak lain. Akan lebih menyenangkan
jika Dewi menjalani hari-harinya dengan hanya bertransaksi kepada Allah saja, yang
memang tidak pernah mengecewakan makhluknya.
Komentar
Posting Komentar