Tampilkan postingan dengan label Ragam Hidup dan Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ragam Hidup dan Motivasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Juli 2025

Lakukan Saja Semampumu

 “Do what you can, with what you have, where you are.”—Theodore Roosevelt

Saya teringat apa yang telah disampaikan oleh Gus Baha. Pada suatu kali beliau pernah ditanya oleh salah seorang jamaah pengajiannya. Orang itu bertanya tentang peran sekolah atau Lembaga Pendidikan tertentu yang seolah-olah menjadi jaminan jika seseorang bersekolah di sekolah itu maka akan menjadi sukses. Sebagai ulama ahli ilmu hakikat tentu Gus Baha menjawab pertanyaan tadi lewat ilmu hakikat. Menurut beliau hal tersebut tidak bisa dijadikan jaminan. Di mana pun tempat seseorang itu belajar atau sekolah tidak lantas serta merta menjadikan orang itu pintar lalu berakhir pada keberhasilan hidup. Pada kenyataannya yang biasanya ditampilkan dan terkenal itu yang memang yang sukses, sedangkan yang prestasinya biasa-biasa saja atau bahkan cenderung kurang atau tidak pintar maka tentu tidak akan dikenal masyarakat luas. Lalu bagaimana menyikapi hal tersebut, ketika seseorang sudah bersekolah di sekolah yang sangat terkenal tetapi berujung tidak menjadi apa-apa dan tidak menjadi siapa-siapa. Justru menurut Gus Baha, bodoh itu barokah. Tidak selamanya yang pintar itu barokah. Gus Baha mencontohkan seorang santri yang pintar biasanya akan menjadi kiai dan biasa mengisi pengajian-pengajian lalu dapat “salam templek”. Seorang mahasiswa yang pintar tentu besar kemungkinan menjadi dosen dan akan mengajar di perguruan tinggi lalu digaji. Seorang dokter yang nilainya bagus akan ditempat di kota besar dan mendapatkan berbagai fasilitas dan kemewahan selaknyakan di kota-kota besar.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang ditakdir tidak pintar/bodoh? Ditakdir menjadi apa pun tidak menjadi persoalan. Sebagai contoh jika santri pintar bisa menjadi kiai terkenal, maka santri bodoh biasanya karena desakan ekonomi dia akan merantau ke suatu daerah. Dan di daerah tersebut jika tidak ada aktivitas ibadah dan tempat ibadah pastilah akan membuat santri tersebut gelisah dan akhirnya dengan berbagai cara semampunya mendirikan masjid sebagai tempat ibadah dan mendirikan kelompok pengajian. Begitu juga siswa yang tidak pintar di sekolah akhirnya harus tetap mejalani hidupnya di suatu tempat yang bahkan mungkin dianggap orang sebagai orang yang tidak sukses. Tetapi jika dasar orang tersebut adalah orang sholeh maka aktivitas apa pun yang dia lakukan akan menjadi aktivitas yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah SWT. Kemudian Gus Baha menambahkan lagi, dulu Rosululloh sangat memuji Uwais al Qorni, padahal Uwais al Qorni bukanlah sosok yang terkenal di masyarakatnya bahkan pernah dianggap gila oleh lingkungan sekitarnya. Uwais Al Qorni tidak terkenal di dunia tetapi Namanya terkenal di langit hingga Rosululloh mengirimkan salam untuk Uwais al Qorni. Dan yang dilakukan oleh Uwais al Qorni bukanlah hal-hal yang dianggap hebat oleh manusia pada umumnya. Uwais al Qorni hanyalah melakukan perannya sebagai seorang anak dengan sebaik-baiknya. Cita-citanya untuk bertemu Rosululloh saja tidak bisa dicapainya karena kepatuhan dan baktinya pada ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan.

Berbagai kisah yang disampaikan oleh Gus Baha tadi seolah mengingatkan kita bahwa menjadi bermanfaat tidak harus menunggu kita menjadi hebat. Justru kemanfaatan yang dilakukan dengan segala keterbatasan yang ada dan disikapi dengan Ikhlas justru malah sangat luar biasa. Mungkin kalimat motivasi di awal tadi bertujuan untuk siapa pun harus tetap berusaha dengan apa pun yang dimilikinya dan sedang di mana pun dia berada. Mendayagunakan apa pun yang ada dan berproses tanpa protes.

“Lebih baik menyalakan lilin dalam kegelapan dari pada mengutuk kegelapan itu.”

Pernah dengar juga kan kalimat motivasi itu. Sepertinya hampir sama maknanya dengan yang di awal tadi yang berarti dari pada menyalahkan segala macam ketidaknyaman, ketidaksesuaian keadaan dengan harapan, lebih baik mengusahakan yang terbaik yang bisa dilakukan. Bukankah mengeluh tidak pernah menyelesaikan masalah ? Justru keluhan akan menambah beban menjadi terasa lebih berat. Saya melihat contoh-contoh seperti itu sepertinya ada di emak-emak yang selain melakukan tugasnya mengurus rumah tangga tetapi tetap bisa berkarya tanpa meninggalkan tanggung jawabnya. Sekarang sudah banyak emak-emak yang kegiatan sehari-harinya membuat konten bagi di blog, maupun youtube dan sosial media lainnya. Itu seperti contoh nyata, bahwa mereka seolah tidak mau diam saja meratapi keadaan yang membelenggu dirinya. Dan dari pada nggremeng dan tidak jelas arahnya justru mereka mengambil langkah luar biasa dengan menjadikan kegiatan sehari-hari yang dulu dianggap tidak bernilai sekarang malah bisa dijadikan sumber penghasilan. Ya Allah saya iri sekaligus salut dengan kecerdasan dan kegigihan emak-emak itu. Siapa sangka kegiatan cuci mencuci, memasak dan beres-beres rumah ternyata jika dijadikan konten sangat banyak peminatnya, dan saya salah satunya. Jika dulu ibu rumah tangga dengan segala aktivitasnya itu dianggap Batasan yang menyebabkan seorang istri/ibu tidak bisa berkarya, sekarang tidak begitu adanya. Mengapa mereka bisa sangat berhasil? Karena mereka sudah dalam tahap melakukan dan mempraktikkan apa yang dikatakan oleh Theodore Roosevelt pada kalimat motivasi tadi.

Lalu saya ingin kembali mengingat nasihat Gus Baha, yang kurang lebih artinya adalah tidak ada orang yang tidak memiliki kesempatan untuk bermanfaat buat sesama. Di mana pun dan dalam posisi apa pun dirinya maka tetap ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk bermanfaat. Sekecil apa pun peran kita, kita tetap menjadi pemeran utama dalam kisah kita. Jadi tetap menjadi yang terbaik, berbuat yang terbaik dan memerankan peran sebaik dan setulus mungkin. Biasanya ‘Sutradara’ menyukai pemeran yang sangat apik dan tulus memainkan perannya. Jadi sebagai apa pun kita harus tetap memberikan yang terbaik dalam melakoninya. Ada yang menjadi ibu rumah tangga yang mungkin belum memiliki penghasilan sendiri tetapi setulus hati dan semaksimal mungkin mendidik anak-anaknya dan mengurus keluarganya dengan baik insyaAllah bisa menjadi sumber keberkahan untuk keluarga dan anak-anaknya. Mungkin ada yang sedang menjadi anak yang tidak dianggap sukses dalam karier, tetapi dia ditakdirkan yang mengurus dan merawat orang tuanya, lalu melakukannya dnegan sebaik-baiknya juga insyaAllah namanya bisa seharum Uwais al Qorni dan masih banyak contoh yang lainnya. Jadi kesimpulannya adalah tidak boleh ada kata ‘tapi’ dalam berbuat kebaikan. Tidak boleh banyak alasan dalam mengusahakan kesempatan. Semoga dimudahkan 

Minggu, 22 Oktober 2023

Tidak Ada Jalan Menjadi Sukses, kecuali...

 “Success is no accident. It is hard work, perseverance, learning, studying, sacrifice and most of all, love of what you are doing or learning to do”—Pele

 

Kalimat di atas dapat diartikan yaitu “Kesuksesan bukanlah suatu kebetulan. Di situ berisi kerja keras, ketekunan, pembelajaran, pengorbanan, dan yang paling penting, cinta terhadap apa yang Anda lakukan atau pelajari.

Sekali lagi kita berbicara mengenai proses. Tidak ada yang instant untuk mencapai suatu tujuan. Langkah-demi langkah yang mungkin setapak demi setapak itu harus dijalani. Semua orang hebat mengatakan hal yang sama. Karena memang itulah jalan satu-satunya dalam meraih kesuksesan atau mencapai suatu tujuan.

Jika dilihat dari setapak demi setapak dan langkah demi langkah tadi, hal tersebut sudah menunjukkan kata kunci yang wajib dilakukan seseorang yang ingin mencapai kesuksesan, di bidang apa pun, yaitu Repetisi atau pengulangan. Ya, kata itu sebuah perwujudan dari sebuah ketekunan, ketangguhan dan kesabaran dalam menjalani suatu proses. Tidak mudah melakukan hal yang sama setiap hari dalam kurun waktu yang lama (mungkin bisa tahunan atau mungkin puluhan tahun). Tapi sekali lagi itulah jalan satu-satunya. Mengulang hal yang sama setiap hari tidaklah mudah, selain mudah memicu kelelahan fisik, yang juga tidak boleh diabaikan adalah kelelahan mental. Apalagi semua usaha dan pengulangan tersebut dilakukan terus menerus sedangkan hasil yang diharpkan belum memberikan isyarat kemunculannya. Tentu saja kondisi tersebut akan mudah menggoyahkan pendirian yang mungkin dari awal tidak kuat. Untuk itu beberapa ahli mengatakan agar orang-orang dapat menyadari dan mengikuti passion/bidang yang disenanginya. Hal itu karena memang tidak mudah melakukan hal yang serupa setiap hari yang mungkin tidak hanya sekali sehari tapi lebih banyak dari itu. Yang memang menyukai bidang itu saja pasti muncul kelelahan apalagi yang tidak ada ketertarikan sama sekali. Wah, bisa mual muntah nanti.

Meski begitu, jika ada orang yang memang tidak ditakdirkan menjalani hal-hal yang disukai atau menajdi passionnya, maka jangan berkecil hati. Pernah dengar sebuah pepatah “Kerjakanlah apa yang kamu cintai, atau cintai apa yang kamu kerjakan?’’ Nah, nasihat tersebut cukup menjadi penopang saat jiwa dan raga sedang sangat Lelah dan ingin menyerah. Menurut saya sebagian dari ujian kehidupan adalah mengerjakan apa-apa yang tidak menjadi passion kita. Tetapi asalkan yang kita kerjakan tersebut tidak melanggar ketentuan norma masyarakat dan agama, apalagi jika hal tersebut masih merupakan bentuk kebaikan, maka belajar mencintai pekerjaan itu adalah satu-satunya jalan. Bersabarlah, bukankah semakin berat ujian seseorang maka insyaAllah semakin besar pula pahala yang dijanjikan?

Langkah selanjutnya adalah komitmen dan kontinuitas. Jangan serupa dengan hangat-hangat tai ayam, bersemangat saat awalnya saja tetapi beberapa waktu kemudian melempem lalu malah lupa dengan impiannya tersebut. Ingat, bahwa perjalanan yang akan ditempuh sangat panjang, kita ibaratkan saja dengan melakukan lari maraton, jadi hemat-hematlah energimu agar bisa mencapai garis finis dengan selamat. Jika sudah menentukan satu tujuan, maka pelan tapi pasti teruslah melangkah. Lakukan hal yang dapat membantu mewujudkan impianmu setiap hari meski itu akan terasa sangat menyiksa, insyaAllah dengan begitu kita akan jadi ahli di bidang yang kita latih tiap hari tersebut. Meski begitu, jangan lantas berhenti di situ dan tidak berusaha mencari wawasan baru. Jika ada hal-hal yang dapat meningkatkan kualitas kita dalam mencapai impian tersebut maka bergegas mengambil ilmu itu. Siapa tahu dengan begitu Langkah yang diayunkan kian cepat dan bisa bersegera sampai tujuannya dengan lebih mudah.

Seperti tulisan ini, ini adalah tulisan pendek saya yang ke-20. Dan tahukah kawan, tulisan saya sejauh ini tidak ada perubahan yang berarti. Tulisan yang hanya berkisar 300 sampai 400 kata ini pun kadang terasa begitu sulit menyelesaikannya. Mungkinkah artikel yang saya tulis bisa mencapai 1000 kata? Entahlah, dan memang belum sampai di situ. Secara kualitas dan isi tulisan juga menurut saya tidak berkembang. Tulisan saya masih seputar pandangan hidup dan hal-hal yang beririsan dengan itu. Jadi dari sekian tulisan yang saya buat, temanya masih seragam dan itu pun masih dibantu oleh kalimat-kalimat motivasi yang saya kutip dari aplikasi. Entahlah itu hal yang baik atau buruk. Tapi tidak apalah, mending bergerak dan melakukan sesuatu dari pada hanya berdiam diri saja. Meskipun saya juga belum yakin tujuan saya menulis ini sebagai bentuk karya ataukah hanya wujud keisengan belaka. Saya menikmati apapun yang telah saya capai beberapa hari ini, termasuk di dalamnya adalah saya sangat mensyukuri 20 menit yang saya gunakan untuk menulis ini. Besar harapan saya agar tulisan ini semakin meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya.

Senin, 16 Oktober 2023

Kaya karena Membaca

 

“Rich people have small TVs and big libraries, and poor people have small libraries and big TVs.”—Zig Ziglar

 

Hmmm, menarik kan kalimat di atas ? Dari kalimat di atas kita jadi berpikir memang sudah jadi hal yang lumrah jika sesorang banyak membaca itu akan mudah menjadi kaya. Ataukah memang itu yang terjadi dan sudah diteliti ? Jika memang benar, maka sudah pasti bahwa kebiasaan membaca ini tidak boleh hilang. Jika tingkat literasi bangsa kita masih rendah maka bisa ditebak seberapa kaya bangsa kita ini.

Dan saya semakin yakin untuk selalu menularkan kesenangan membaca kepada anak-anak saya. Awalnya yang saya inginkan adalah mereka tumbuh menjadi anak yang tidak pernah kesepian. Karena menurut pengalaman saya, saya termasuk orang yang jarang atau malah mungkin tidak pernah kesepian di sepanjang hidup saya. Banyak hal yang membantu saya menikmati sepi, disamping memang saya adalah orang yang tidak terlalu suka dengan keramaian dan kehebohan. Saya termasuk yang mengkategorikan diri sebagai orang introvert. Dan saya merasa sepertinya anak-anak saya juga demikian, meski ini masih perlu dibuktikan.

Nah, karena kenyamanan bisa saya peroleh dari sebuah buku, maka saya berharap anak-anak saya juga nyaman dengan buku. Ditambah lagi sekarang jamannya gadget yang di dalamnya termuat banyak sekali informasi baik yang positif maupun negative. Saya kurang suka jika anak-anak terlalu banyak dimanfaatkan gadget. Ya, saya menamakannya dimanfaatkan, karena di usia mereka sepertinya mereka masih sangat mudah dimanfaatkan oleh gawai tersebut. Salah-salah malah mereka yang akan kerepotan nantinya. Jadilah saya sangat gemar mencekoki mereka agar suka buku. Bahkan mungkin, kebiasaan membaca saya yang meningkat pesat akhir-akhir ini adalah karena saya benar-benar ingin mewariskan kebiasaan membaca dan mungkin juga kebiasaan menulis ini untuk mereka.

Harapan orang tua jelas untuk kebaikan anak-anak mereka, begitu juga saya. Buku bisa memberi begitu banyak manfaat, salah satunya ya mengusir sepi tadi. Sebagian manfaat lainnya yaitu tentu saja kita menjadi jauh lebih pintar dengan banyak membaca dan saya lebih memilih membaca buku karena dengan membaca buku pengetahuan kita berkembang dan meluas. Jika membaca lewat gawai, sepanjang pengetahuan saya, maka informasi yang disajikan biasanya seputar kebiasaan membaca kita. Apa yang biasa kita baca akan dinilai oleh algoritma di system gawai tersebut sebagai kesenangan sehingga kemungkinan besar informasi seputar itulah yang akan muncul di beranda gawai kita. Iya kalau yang dikonsumsi adalah informasi yang mendidik. Tapi kalau yang biasa dikonsumsi adalah hal-hal yang merusak tentunya itu akan membuat semakin dalam kerusakan terjadi pada orang tersebut. Karena memang akan selalu informasi itu saja yang muncul. Akhir kata, besar harapan seorang ibu ini agar anaknya bisa tumbuh dalam naungan Cahaya penerangan dari Sang Maha Cahaya. Sungguh kegelapan itu menyiksa bagi orang-orang yang sedang meniti sebuah perjalanan.

Jumat, 13 Oktober 2023

Hari ini ngapain aja?

Hari ini ditelpon anak kedua. Percakapan mengalir seperti biasa. Kami adalah ibu dan anak yang berusaha untuk berbagi cerita, terutama saya. Karena saya ingin agar anak-anak juga begitu terus nantinya. Diantara isi percakapan itu adalah pertanyaan "Umi sedang apa? Umi habis melakukan apa? "Umi akan melakukan apa?" Atau gantian saya juga akan bertanya hal yang sama "Hari ini kamu ngapain aja?, Kegiatan hari ini atau nanti apa?" Lalu ada jawaban yang tidak memuaskan saya. Jawaban itu adalah "Gak ngapa-ngapain." Jawaban yang sederhana tapi tidak akan menjadi sederhana jika diteruskan begitu saja.  "Gak ngapa-ngapain itu maksudnya apa? Definisi dari gak ngapa-ngapain itu apa? Umi kok gak ngerti ya kenapa ada orang yang gak ngapa-ngapain?" Rentetan pertanyaan itu lebih berkesan protes dan tidak suka dengan jawabannya. Ya, memang benar saya tidak menyukai jawaban itu. Bukan karena semata-mata dijawab demikian tetapi lebih karena jika dibiarkan itu akan menjadi kebiasaan yang kurang menyenangkan. Jawaban "Gak ngapa-ngapain" itu berarti dari tadi tidak melakukan aktivitas atau melakukan aktivitas tapi jiwa raga tidak menyadari bahwa sekecil apa pun aktivitas itu tetap mempunyai makna. Padahal kesadaran itu akan membuat orang bisa mengontrol aktivitas apa saja yang boleh dilakukan dan apa saja yang tidak. Semakin orang itu sadar bahwa setiap yang dilakukan adalah aktivitas dan ada artinya maka berarti dia tahu sejauh mana dirinya telah melakukan sesuatu dan apakah ada manfaat dari lakunya hari itu. Dan juga kesadaran itu akan memberikan rasa syukur dan semangat karena hari itu kita telah melakukan sesuatu. Hal itu juga bisa menekan perasaan gabut yang sekarang sering kali dilontarkan anak muda. Rasa gabut menurut definisi yang saya peroleh di Google adalah perasaan ingin melakukan sesuatu tapi tidak tahu apa yang harus dilakukannya. 

Rasa gabut itu mungkin disebabkan tidak sadarnya kita akan hal-hal apa saja yang telah kita lakukan hari itu atau hari-hari kemarin. Perasaan yang menunjukkan seolah-olah terbiasa tidak melakukan sesuatu sehingga saat otak sedang tidak bisa bekerja dengan baik maka yang muncul adalah perasaan gabut itu. Padahal kalau kita menyadari bahwa kita melakukan sesuatu maka kita akan lebih bersemangat dalam melakukan hal lainnya, menyelesaikan aktivitas satu lalu beralih ke aktivitas lainnya. Dan sehari itu akan berjalan dengan sangat cepat dan lebih bermanfaat.

Kembali ke obrolan saya dan anak saya tadi, ketika saya menyanggah jawabannya bukan hanya bermaksud menyadarkan dia akan aktivitasnya, tetapi juga memberitahunya bahwa kita tidak boleh tidak ngapa-ngapain. Kita harus melakukan sesuatu, karena kalau kita diam saja itu berarti kita menjadi pengangguran yang sebenarnya. Dan keberadaan kita menjadi tidak ada artinya, ada atau ketiadaan kita tidak ada bedanya. Ada orang yang menyebut dirinya pengangguran karena tidak bekerja yang menghasilkan uang, dan itu ada benarnya. Tetapi pengangguran yang sesungguhnya adalah orang yang berdiam diri saja tanpa melakukan apa-apa. Setidaknya kalau belum bisa menghasilkan uang atau pendapatan dari kerjanya, ya minimal dia tetap bisa berkarya meski itu sederhana. Pekerjaan itu ada banyak macamnya dan semua bisa dikerjakan kalau kita tidak terlalu pemilih. Sekedar menyapu halaman, membersihkan debu di meja atau mengelap kaca itu sudah jauh lebih baik dari pada hanya berdiam diri dan menyalahkan nasib. Dan tentu saja masih banyak lagi bentuk kerja yang lainnya. Jika semua orang berpikir bekerja bisa berwujud apa saja asalkan itu menghasilkan sesuatu atau menghasilkan karya sekecil apapun itu, maka tidak akan ada lagi orang gabut yang seringnya berujung ngajak ribut

Lalu berlanjut ke pertanyaan yang diajukan ke saya: "Umi sedang apa?" Saya jawab dengan mantap, "Umi sedang mengerjakan PR." Anak saya tahu betul kalau saya sedang mengerjakan PR itu artinya saya sedang menulis. Ibunya tahu usianya sudah tidak muda lagi dan mungkin bukan masanya dia memiliki cita-cita seperti anak muda. Tapi ibunya bukan ibu yang hanya ingin meninggalkan generasi pada umumnya. Dia ingin mengabarkan pada anaknya bahwa cita-citanya mungkin terlambat disadarinya, tetapi itu bukan alasan untuk tidak dilanjutkan. Dia bercerita bahwa dulu sempat merasa tugasnya di dunia telah selesai karena telah memiliki keluarga dan menjalankan perannya sebagai istri dan ibu. Lalu pemikiran itu disadarkan entah oleh apa, hingga sekarang muncul kesadaran dia harus tetap berkarya. Dia berniat meninggalkan warisan semangat kepada anak keturunannya. Dia ingin memberitahu mereka agar berapapun usia mereka tidak boleh menghentikan peran menjadi manusia yang sesungguhnya. Dan menurutnya, manusia yang sesungguhnya menjadi manusia itu adalah dengan menjadi berguna untuk sesama. 

Sebuah Proses Tanpa Protes

“The secret of your future is hidden in your daily routine.”-Mike Murdock

Pernah dengar juga bahwa kebiasaan atau habit akan membentuk karakter seseorang. Dan karakter seseorang itu juga otomatis akan berpengaruh besar pada masa depan orang tersebut. Sama seperti kalimat bijak di atas, dan banyak nasihat betapa pentingnya kebiasaan mempengaruhi masa depan seseorang. Kebiasaan kecil asalkan itu baik tentu secara sunatullah akan berakhir menjadi tumpukan kebaikan juga. Sebaliknya, kebiasaan buruk pun akan berakhir menjadi Kumpulan keburukan.

Misal kebiasaan berolahraga setiap hari atau minimal 5 kali seminggu, kebiasaan makan makanan yang sehat, minum minuman yang bermanfaat untuk tubuh. Maka tumpukan kebaikan itu akan menghasilkan manfaat untuk tubuh. Sebaliknya, kebiasaan makan tinggi kalori, tinggi lemak jahat, kebiasaan mager (malas gerak), malas berolah raga maka hasil akhirnya bisa ditebak, cepat atau lambat kondisi tubuhnya akan memberikan sinyal yang buruk, pertanda bahwa kebiasaan hidup yang selama ini dijalani memang tidak sehat.

Tidak ada yang instan, kesehatan diperoleh dalam rentetan panjang pola hidup sehat. Kondisi badan yang lebih rentan penyakit juga dihasilkan dari kebiasaan yang tidak sebentar. Tahunan bahkan mungkin puluhan tahun baru terasa dampaknya. Kebiasaan bangun pagi, kebiasaan baca, kebiasaan melakukan hal-hal yang bermanfaat meski tidak langsung dirasakan manfaatnya sekarang. Tetapi akan tiba saatnya dampak positif itu hadir. Di situlah kesabaran dan ketekunan dibutuhkan. Tidak mudah, tidak sebentar, butuh waktu yang sangat Panjang. Dan jika kita malah sibuk memperhatikan dan menunggu kapan hasil baik dari kebiasaan baik itu datang, maka bisa dipastikan kita akan segera menyerah. Jadi Langkah terbaik adalah tetapkan tujuan atau cita-cita, lakukan hal-hal (meskipun itu kecil) yang berkaitan dengan pencapaian tujuan atau cita-cita secara terus-menerus, konsisten. Lalu tidak sadar kita telah mendekati gerbang sukses pencapaian tujuan kita tersebut. Secara sunatullah kebiasaan baik akan mengarah ke kebaikan dan kebiasaan buruk akan mengarah ke keburukan pula. Terus bagaimana jika ketentuan itu tidak berlaku nantinya? Tentu saja yang perlu selalu diingat adalah kita di dunia ini adalah makhluk yang mutlak dalam kendali Sang Pencipta, maka alangkah baiknya di setiap akhir Upaya selalu ada kesadaran bahwa semua yang akan terjadi tetaplah dalam kuasaNya.

Lalu bagimana Langkah praktis yang bisa dilakukan? Salah satu caranya adalah dengan menyiapkan jadwal harian yang merupakan penjabaran dari cita-cita. Jadwal harian ini sangat membantu mengurangi beban pikiran terhadap pekerjaan dan dengan melakukan penjadwalan dan menuliskannya kita bisa tahu sejauh mana arah yang kita tempuh dalam menuju cita-cita. Langkah selanjutnya adalah lakukan yang sudah dijadwalkan, lalu berusaha melupakan apakah hasilnya sudah tampak atau belum. Besok lakukan lagi sesuai jadwal, lalu lupakan. Begitu seterusnya. Dengan begitu perjalanan yang ditempuh itu lebih ringan karena tidak ada beban lantaran sibuk memikirkan sejauh mana progress pencapaian cita-cita itu akan terwujud.

Dalam hal ini tidak sadar kita sedang belajar berproses dan melengkapinya dengan keikhlasan. Dan kedua hal tersebut jika dilakukan terus menerus akan menghasilkan dampak yang luar biasa bagi diri bahkan mungkin bisa bermanfaat lebih banyak lagi. Lalu kebiasan apa yang telah kamu lakukan akhir-akhir ini? Jika sudah terbiasa dan membiasakan diri dalam sesuatu maka bersiaplah untuk memanen hasilnya. Semoga hasil panennya adalah hal-hal yang baik dan membaikkan untuk dirimu dan alam sekitar.