Seorang kerabat menelpon saya, menceritakan banyak hal. Sebagian besar yang diceritakan sudah sangat saya hapal di luar kepala. Ya, karena saya adalah tempatnya berbagi cerita. Entah, kepada siapa lagi dia membagikan beban hidupnya, saya tidak tahu pasti. Yang jelas saya selalu berusaha mendengarkan keluh kesahnya. Bukan tanpa alasan saya masih mau menyimak cerita yang sama berulang kali. Hal itu karena saya tidak mau (lagi) kehilangan seseorang yang sedang berusaha menjadi “manusia”.
Saya tidak pernah membayangkan menjadi dewasa ternyata bisa mengubah tabiat seseorang. Dari yang dulunya penuh perhatian, menjadi manusia yang apatis, tidak peduli. Dari yang melakukan perbuatan baik semampu mereka, menjadi membatasi dan menghitung untung rugi. Dari yang sering membagikan senyum hangat menjadi sosok yang dingin, seolah menunjukkan wajah kaku adalah caranya berkata “Aku lelah jadi baik, lelah selalu mengerti, lelah karena selalu mengalah.”
Pada awal melihat perubahan tersebut jujur saya kecewa. Saya tidak suka dengan perubahan tersebut. Saya merasa kehilangan salah satu orang tulus yang saya kenal. Tetapi setelah usia saya semakin bertambah (menua maksudnya hehe..) perasaan kesal tadi berubah menjadi pertanyaan. Apa yang mereka alami sehingga perubahan sikap itu terlihat jelas?
Kemudian saya mengamati sekelilingnya, melihat siapa saja yang berinteraksi dengannya, mencoba membayangkan menjadi dirinya di lingkungan itu. Lalu saya menyadari sesuatu, bahwa kekecewaan yang tidak diobati memang akan menjadi bara api di dalam hati. Rasa kecewa itu telah berubah menjadi kemarahan dan ditunjukkan. Ya, mungkin dia memang lelah berbuat baik.
Sejak kecil kita selalu dididik untuk menjadi manusia yang baik. Kita semua pasti sudah sangat hapal dengan nasihat tersebut. Saya juga yakin, kita semua berharap selamanya kita menjadi manusia yang baik. Minimal keberadaan kita tidak menjadi penyebab kerusakan atau kesedihan orang lain.
Namun, kenyataannya perjalanan hidup tak selamanya mudah dilalui. Banyak rintangan dan cobaan yang datang silih berganti. Mulai dari yang sepele hingga persoalan yang rasanya kita tidak sanggup lagi menghadapinya.
Pertemuan dengan orang-orang yang mengenalkannya pada rasa kecewa telah melukainya. Sayangnya, sebelum luka itu sempat sembuh, orang-orang di sekitarnya justru menambahnya. Hal itu berulang kali terjadi, hingga dia dewasa. Mungkin itulah sebabnya dia kelelahan. Merasa bahwa ternyata nasihat yang dulu sering didengar kalau kebaikan akan dibalas kebaikan itu tidak sepenuhnya benar. Buktinya selama ini dia berbuat baik tapi yang diperoleh justru sebaliknya.
Sama halnya seperti mereka, saya juga tumbuh dengan cukup banyak kecewa. Penyebab utamanya tak lain adalah harapan saya yang terlalu tinggi, dan saya letakkan di tempat yang tidak seharusnya. Beruntungnya, saya mempunyai banyak teman yang sukarela menunjukkan cara untuk mensiasati agar kebaikan yang dilakukan tidak berubah menjadi aktivitas memupuk kekecewaan.
Cut Off
Cut off adalah bahasa gaul yang diambil dari bahasa Inggris dan secara harfiah berarti memotong atau memutus. Dulu saya mengira cut off itu sama dengan memutus silaturahmi, padahal kan di agama yang saya anut selalu diajari untuk tidak boleh memutus silaturahmi. Tentu saja saya tidak berani cut off, bisa-bisa pahala yang belum seberapa ini akan hangus tak bersisa. Ternyata, setelah saya mencoba pahami, cut off di sini adalah salah satu cara untuk menyelamatkan hati. Kita semua tentu pernah bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang yang sepertinya kalau sering bertemu justru tidak baik untuk kita, untuk hati kita. Kayaknya kalau ketemu dengan orang ini rasanya kita lelah menjadi baik. Nah, untuk orang-orang seperti ini saya mulai kurangi interaksinya, cut off. Tentu tidak diniatkan memutus silaturahmi, karena kalau memang sangat harus berinteraksi juga tidak menolak dan tetap berusaha menjadi “manusia”. Hanya saja intensitas berinteraksinya sangat saya batasi untuk yang memang urgent saja.
Sewajarnya, semampunya
Ini adalah penyakit orang-orang tidak enakan, saya salah satunya, tapi itu dulu. Ingin selalu membuat nyaman orang-orang di sekitarnya. Setelah belajar dari pengalaman ternyata apa-apa yang berlebihan memang tidak baik. Kalau dulu sering dihantui perasaan tidak enak jika mengecewakan orang lain, maka sekarang tidak mau memaksakan diri, semampunya saja. Kalau bisa bantu ya ayo, kalau tidak bisa ya tidak perlu merasa gimana-gimana. Karena ternyata selama ini kita selalu berusaha menjadi baik kepada orang lain karena tidak mau dianggap dzalim, tetapi justru kita melupakan orang yang paling setia, diri kita sendiri. Entah sudah berapa kali kita dzalim pada diri sendiri hanya karena rasa tidak enakan itu? Maka dari itu kayaknya berbuat baik juga sewajarnya saja, semampunya. Supaya bisa panjang jangka waktunya. Kalau bisa diibaratkan, hidup ini seperti lari marathon. Kita tidak boleh menghambur-hamburkan energi di awal dan malah membuat kita kehabisan energi sebelum sampai garis finis. Sama seperti lari marathon, menjalani kehidupan ini dengan baik juga harus dijaga agar bisa panjang napas kebaikannya. Caranya dengan melakukan kebaikan tanpa berlebihan, tanpa melupakan kebahagiaan untuk diri sendiri.
Percaya (iman)
Puncak ketenangan menjadi manusia yang menghamba adalah percaya (iman). Karena kehilangan rasa percaya dalam hidup ini akan membuat kita terobang-ambing oleh perasaan. Berbeda dengan orang yang sudah percaya maka orang tersebut pasti mantap dalam menjalani kehidupan. Seperti dalam kasus kekecewaan karena merasa kebaikannya sia-sia (padahal tidak ada kebaikan yang sia-sia).
Semua yang kita lakukan akan kembali kepada kita. Jika kita berbuat baik maka sebenarnya kita juga sedang berbuat baik untuk diri sendiri. Sebaliknya saat kita dzalim kepada orang lain tanpa kita sadari kita juga sedang mengundang kedzaliman untuk diri sendiri. Tapi menjalani itu semua di tengah hiruk pikuk kepentingan banyak manusia ini tidaklah mudah. Kunci yang bisa menyelamatkan ya hanya rasa percaya itu tadi.
Begitulah beberapa hal yang coba saya praktikkan dan bagikan untuk teman-teman agar lebih tenang dan menyenangkan dalam menjalankan kebaikan. Dengan begitu kita jadi tidak perlu lagi menunggu reaksi dan balasan orang lain terhadap upaya kebaikan kita, karena yakin bahwa Allah adalah sebaik-baik Pemberi Balasan.
Komentar
Posting Komentar