Langsung ke konten utama

Mengurangi Insecure, Lebih Banyak Bersyukur

 


Kita pasti sudah sering mendengar ungkapan “Rumput tetangga selalu lebih hijau”. Sebuah kalimat yang menggambarkan suatu perasaan bahwa apa yang kita miliki sekarang tidak terlihat lebih baik daripada milik orang lain. Sebuah perasaan yang semakin diperlihara akan semakin menyiksa. Benar begitu? Contohnya adalah ketika masih kanak-kanak terlintas kalau menjadi anak bapak atau ibu itu kayaknya enak. Lalu beranjak remaja bertemu lebih banyak orang, berkenalan dan berteman lebih luas kita jadi tahu ternyata tinggal di rumah sana lebih menyenangkan karena apa-apa dekat tidak seperti rumahku jauh dari mana-mana. Merasa bahwa diri tidak menarik karena tidak seputih Si Anu, tidak setinggi Si Ana atau penyebab yang lainnya. Masih tidak berhenti di situ, godaan bahwa hidup orang lain selalu lebih indah daripada kehidupan sendiri akan terus berlanjut seiring perjalanan usia.

Semua yang dimiliki orang lain selalu saja tampak asyik, menarik dan lebih membahagiakan. Sibuk berandai-andai hingga lupa bahwa setiap orang termasuk kita juga pasti memiliki banyak hal yang patut disyukuri. Sayangnya kita malah lebih sering merasa belum cukup dengan apa yang dimiliki dan selalu tergiur dengan kehidupan yang dijalani oleh orang lain. Dan salah satu penyebabnya adalah semakin terbukanya batas antara kehidupan kita dengan orang lain.

Ya, kita hidup di zaman teknologi berkembang sangat pesat. Hal tersebut membuat semua orang bisa menelisik ke kehidupan orang lain, kadang tanpa batas. Bisa mengetahui hampir semua hal yang dulu dianggap tabu untuk ditampakkan. Yang sebenarnya tidak semua yang ditampilkan merupakan situasi yang sebenarnya terjadi.

Mulanya mungkin kita anggap biasa setiap uanggahan yang kita lihat, lama kelamaan kita akan sedikit terganggu dan muncul rasa tidak percaya diri bahkan bisa berubah menjadi perasaan kurang bersyukur. Insecure karena merasa diri kok tidak seperti yang orang-orang tunjukkan di media sosial.

Jalan satu-satunya untuk bisa mengurangi paparan media sosial adalah dengan menyibukkan diri dengan kegiatan yang positif. Karena menurut pengalaman saya, ketika kita tidak disibukkan dengan sesuatu yang baik, kita akan dengan mudah menjadi konsumen media sosial tersebut. Coba diingat kembali aktivitas yang memang menjadi minat kita lalu coba tekuni lagi. Sebenarnya ada banyak kegiatan yang bisa kita lakukan selain hanya menggulir media sosial. Contohnya kita bisa berkebun, belajar bahasa asing atau memperdalam lagi kemampuan bahasa Inggris, belajar memasak atau yang lainnya. Apapun itu akan tetap baik daripada kita tenggelam dalam ponsel yang hasilnya bisa membuat kita kurang bersyukur.

Hal lain yang harus kita ingat adalah nasihat lama yang selalu bermakna yaitu sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat. Dengan berbekal nasihat tersebut akan membuat kita lebih bersemangat berkarya dan menghasilkan sesuatu sehingga melupakan keinginan terhadap kehidupan orang lain. Setelah kita fokus menjadi diri sendiri dengan versi terbaik yang kita miliki di situ kita sedang menyukuri kondisi kita masing-masing. Karena kita sudah berkomitmen agar bisa membagikan manfaat, maka kita akan sibuk berbenah dan memantaskan diri agar keberadaan kita menjadi solusi, ya minimal solusi untuk diri sendiri. Dengan begitu kita bisa terus tumbuh dan memperbaiki diri.

Wah, menjadi ibu rumah tangga saja sudah banyak menguras energi kok masih harus memikirkan cara agar lebih bermanfaat lagi. Emang kita kurang bermanfaat? Hehehe. Kadang sebagai ibu rumah tangga saya juga sering merasa begitu. Sudah capek mengurus rumah, ya waktunya kita santai dengan menggulir media sosial saja. Ternyata kalau tidak disiasati dengan baik, hal itu bukan menjadi hiburan tapi malah jadi bumerang loh, Mak.

Aktivitas domestik rumah tangga memang banyak dan seolah tidak ada habisnya, tetapi dengan manajemen waktu yang baik saya yakin pasti ada waktu luang yang tersisa. Perbedaan akan bisa lihat di sini, seorang ibu rumah tangga yang mempunyai tujuan untuk menjadi manusia bermanfaat di setiap sisi hidupnya tidak akan membiarkan waktu luangnya terbuang percuma. Bukan berarti kita tidak boleh bersantai dan beristirahat ya, Mak. Waktunya istirahat ya manfaatkan dengan istirahat yang cukup. Baru kalau sudah merasa lebih segar bisa dicoba mengisi waktu dengan melakukan aktivitas yang bisa meningkatkan nilai diri. Di sisi lain ibu rumah tangga yang tidak mempunyai tujuan pasti akan mudah diganggu oleh perasaan galau dan insecure. Nah, perasaan tersebut bisa sedikit berkurang jika kita sibuk menjalani aktivitas kita, mensyukuri yang kita punya dan mengoptimalkannya untuk kebaikan kita, syukur-syukur untuk lingkungan sekitar kita. Karena ternyata kunci untuk hidup bahagia adalah menghargai apa yang kamu miliki, bukan menginginkan apa yang tidak kamu miliki.

Tetap semangat bertumbuh kan, Mak ?!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[EF#13] Badminton or Aerobic?

What kind of sport do I prefer to stay healthy? Hmmm … it’s interesting. BEC always make me smile when I read their challenges every weeks. The challenges burn my mind and refreshing my day. Yeay! Ok it’s enough making BEC 's team blushing hehehe. Back to the topic, actually I like sport eventhough I am not discipline enough in it *errrr … somebody please help me out of that undisciplined manner. It’s mean sometimes yes sometimes, I do sport and enjoy that activities. There are few kind of sport that I rarely do together with my family, like bicycling around the village enjoying the sunrise moment or sometimes I prefer playing badminton with my sons and the other times I choose to do aerobic. Which one that I like among them? Hmmm that's all interesting and make my day. But actually I like aerobic better than others hehehe. Why? Oh yes, because aerobic can make me moving and relaxing of course. The music that escort until the aerobic is so relaxing. Slow music and...

Nikah Yuk!

Ngomongin tentang nikah itu sering menimbulkan rasa sensitif dalam hati, terutama di dalam hati jomblowan dan jomblowati. Dan dulu, duluuuuu sekali ketika saya masih sebagai gadis imut yang tentu masih jomblo, saya sering merasa mupeng *agak ke iri sih sebenarnya hahaha ... *, jika ada teman seumuran yang udah nikah. Rasanya kok ajib aja gitu, masih muda tapi sudah ada yang punya, halal pula hehehe ... Karena penasaran dengan apa dan bagaimana persiapan menuju pernikahan yang barokah, maka ketika kuliah dan ada seminar pra nikah saya pun ikut serta hehehehe... Dan hasilnya saya semakin ingin menikah muda hahaha... Nah lo, kenapa? Iya, karena di seminar yang disampaikan oleh Mohammad Fauzil Adzim itu, membagi cerita tentang berbagai pernikahan muda yang tetap penuh prestasi. Oke banget kan? Contohnya ga usah jauh-jauh, Bapak yang nulis buku best seller Kupinang Engkau dengan Hamdalah ini adalah salah satu contoh bukti bahwa pernikahan di usia muda tidak akan memberi dampak buruk ba...

Bijak Berkendara. Bisa kan?

Beberapa hari lalu kota Jogja geger oleh kasus Moge. Hmmm... kalau dibilang tidak terganggu dengan seliweran para geng motor itu memang bohong. Tidak mungkin masyarakat rela mempersilakan orang-orang yang merasa dapat membeli dunia itu untuk melanggar hak mereka.  Sebelum kisah moge itu menggemparkan dunia nyata dan dunia maya, ada juga geng motor lain yaitu rombongan motor King, dan sebelumnya lagi ada rombongan motor CB yang tak kalah membuat geregetan. Mereka memadati seluruh jalan dan mengancam keselamatan pengguna jalan yang lain.  Saya yang juga tinggal di Jogja sebenarnya sudah sering menemui banyak geng motor menunjukkan aksinya, yang menurut saya tidak banyak memberikan manfaat itu. Justru banyak korban dalam even tersebut. Korbannya tidak hanya dari para peserta touring, tetapi juga pengguna jalan bahkan pejalan kaki harus ikut terkena dampak buruknya. See... mengapa kami menjadi galak? Ya karena nyawa kami terancam, bukan sekedar terganggu. Saya tidak a...