Kita pasti sudah sering mendengar ungkapan “Rumput tetangga selalu lebih hijau”. Sebuah kalimat yang menggambarkan suatu perasaan bahwa apa yang kita miliki sekarang tidak terlihat lebih baik daripada milik orang lain. Sebuah perasaan yang semakin diperlihara akan semakin menyiksa. Benar begitu? Contohnya adalah ketika masih kanak-kanak terlintas kalau menjadi anak bapak atau ibu itu kayaknya enak. Lalu beranjak remaja bertemu lebih banyak orang, berkenalan dan berteman lebih luas kita jadi tahu ternyata tinggal di rumah sana lebih menyenangkan karena apa-apa dekat tidak seperti rumahku jauh dari mana-mana. Merasa bahwa diri tidak menarik karena tidak seputih Si Anu, tidak setinggi Si Ana atau penyebab yang lainnya. Masih tidak berhenti di situ, godaan bahwa hidup orang lain selalu lebih indah daripada kehidupan sendiri akan terus berlanjut seiring perjalanan usia.
Semua yang dimiliki orang lain selalu saja tampak asyik,
menarik dan lebih membahagiakan. Sibuk berandai-andai hingga lupa bahwa setiap
orang termasuk kita juga pasti memiliki banyak hal yang patut disyukuri. Sayangnya
kita malah lebih sering merasa belum cukup dengan apa yang dimiliki dan selalu tergiur
dengan kehidupan yang dijalani oleh orang lain. Dan salah satu penyebabnya
adalah semakin terbukanya batas antara kehidupan kita dengan orang lain.
Ya, kita hidup di zaman teknologi berkembang sangat
pesat. Hal tersebut membuat semua orang bisa menelisik ke kehidupan orang lain,
kadang tanpa batas. Bisa mengetahui hampir semua hal yang dulu dianggap tabu
untuk ditampakkan. Yang sebenarnya tidak semua yang ditampilkan merupakan
situasi yang sebenarnya terjadi.
Mulanya mungkin kita anggap biasa setiap uanggahan
yang kita lihat, lama kelamaan kita akan sedikit terganggu dan muncul rasa
tidak percaya diri bahkan bisa berubah menjadi perasaan kurang bersyukur. Insecure karena merasa
diri kok tidak seperti yang orang-orang tunjukkan di media sosial.
Jalan satu-satunya untuk bisa
mengurangi paparan media sosial adalah dengan menyibukkan diri dengan kegiatan
yang positif. Karena menurut pengalaman saya, ketika kita tidak disibukkan dengan
sesuatu yang baik, kita akan dengan mudah menjadi konsumen media sosial
tersebut. Coba diingat kembali aktivitas yang memang menjadi minat kita lalu
coba tekuni lagi. Sebenarnya ada banyak kegiatan yang bisa kita lakukan selain
hanya menggulir media sosial. Contohnya kita bisa berkebun, belajar bahasa
asing atau memperdalam lagi kemampuan bahasa Inggris, belajar memasak atau yang
lainnya. Apapun itu akan tetap baik daripada kita tenggelam dalam ponsel yang
hasilnya bisa membuat kita kurang bersyukur.
Hal lain yang harus kita ingat
adalah nasihat lama yang selalu bermakna yaitu sebaik-baik manusia adalah
manusia yang paling bermanfaat. Dengan berbekal nasihat tersebut akan membuat
kita lebih bersemangat berkarya dan menghasilkan sesuatu sehingga melupakan
keinginan terhadap kehidupan orang lain. Setelah kita fokus menjadi diri
sendiri dengan versi terbaik yang kita miliki di situ kita sedang menyukuri
kondisi kita masing-masing. Karena kita sudah berkomitmen agar bisa membagikan manfaat,
maka kita akan sibuk berbenah dan memantaskan diri agar keberadaan kita menjadi
solusi, ya minimal solusi untuk diri sendiri. Dengan begitu kita bisa terus tumbuh
dan memperbaiki diri.
Wah, menjadi ibu rumah tangga
saja sudah banyak menguras energi kok masih harus memikirkan cara agar lebih
bermanfaat lagi. Emang kita kurang bermanfaat? Hehehe. Kadang sebagai ibu rumah
tangga saya juga sering merasa begitu. Sudah capek mengurus rumah, ya waktunya
kita santai dengan menggulir media sosial saja. Ternyata kalau tidak disiasati
dengan baik, hal itu bukan menjadi hiburan tapi malah jadi bumerang loh, Mak.
Aktivitas domestik rumah tangga memang
banyak dan seolah tidak ada habisnya, tetapi dengan manajemen waktu yang baik saya
yakin pasti ada waktu luang yang tersisa. Perbedaan akan bisa lihat di sini,
seorang ibu rumah tangga yang mempunyai tujuan untuk menjadi manusia bermanfaat
di setiap sisi hidupnya tidak akan membiarkan waktu luangnya terbuang percuma. Bukan
berarti kita tidak boleh bersantai dan beristirahat ya, Mak. Waktunya
istirahat ya manfaatkan dengan istirahat yang cukup. Baru kalau sudah merasa
lebih segar bisa dicoba mengisi waktu dengan melakukan aktivitas yang bisa meningkatkan
nilai diri. Di sisi lain ibu rumah tangga yang tidak mempunyai tujuan pasti
akan mudah diganggu oleh perasaan galau dan insecure. Nah, perasaan tersebut
bisa sedikit berkurang jika kita sibuk menjalani aktivitas kita, mensyukuri
yang kita punya dan mengoptimalkannya untuk kebaikan kita, syukur-syukur untuk
lingkungan sekitar kita. Karena ternyata kunci untuk hidup bahagia adalah menghargai
apa yang kamu miliki, bukan menginginkan apa yang tidak kamu miliki.
Tetap semangat bertumbuh kan, Mak ?!

Komentar
Posting Komentar