Suami saya sudah lama tahu kalau saya suka menulis dan saya mempunyai blog pribadi. Meskipun begitu, sepertinya suami tidak pernah tahu atau belum terlalu ingin tahu seperti apa tulisan istrinya ini. Hingga akhirnya ketika akhir-akhir ini saya sering membagikan link blog saya di media sosial, sepertinya suami sempat membaca sekilas. Dan menurut pengakuannya, beliau memang baru membaca sekilas, tidak sampai tuntas, alasannya tentu saja menurutnya tulisannya cukup panjang dan dirinya tidak cukup waktu luang, saat itu. Baiklah, tidak apa-apa. Toh memang selama ini saya menulis bukan untuk beliau saja, atau mungkin memang saya menulis dan saya bahagia, itu sudah cukup.
Tak berapa lama setelah saya mulai sering membagikan tulisan di media sosial, suami menanyakan sebuah hal,
“Kamu nulis itu pake AI, gak?”
*AI itu Artificial Intelligence, yang artinya kecerdasan buatan. Itu satu mata kuliah sendiri dulu waktu kuliah, jadi yang ingin tahu lebih lanjut apa itu AI bisa cari-cari sendiri, ya.
Saya yang tidak menyangka dapat pertanyaan itu malah bersemangat menjawab, “Tidak.”
Jawaban yang pendek tetapi penuh semangat itu semata-mata karena GeEr saja. Ya, sebagai istri yang suaminya tidak bergenre romantis, kalimat pertanyaan sederhana itu bermakna lain di pikiran saya. Kalimat yang jelas bernada pertanyaan iseng itu justru menjelma menjadi sebentuk perhatian. Halah, saya memang lemah kalau sudah diperhatikan begini. Hahaha….
Saya suka kemajuan teknologi, termasuk teknologi AI. Tapi untuk saya saat ini, sepertinya menulis sendiri tanpa bantuan AI masih worth it.
Jadi meskipun saya sedang GeEr, saya tahu betul mengapa saya tidak menggunakan AI saat itu dan saat tulisan ini saya buat. Alasan saya yang sebenarnya memang karena saya belum familiar dengan AI, saya belum bisa memanfaatkan AI. Terutama saya tidak (belum) merasa terdesak sehingga harus belajar mengoptimalkan AI untuk membantu tugas menulis saya. Alasan terakhir dan mungkin ini yang membuat saya lebih nyaman menulis sebisa saya dari hasil olah rasa dan olah pikir saya, adalah karena bagi saya menulis bisa menjadi sarana terapi. Bukan hasil tulisannya yang membuat saya harus menulis, tetapi proses menulis itu yang saya cari.
Saya bukanlah orang yang bisa setiap hari menulis dan selalu merasa puas dengan tulisan saya. Puas bukan berarti tulisan saya tanpa cela, tetapi saya senang aja dengan hasil tulisan saya. Aduh gimana ya ngomongnya, semoga teman-teman paham maksud saya. Meskipun sebenarnya standar saya dalam menulis juga tidak harus yang keren atau gimana-gimana. Yang penting tulisan saya runut, tidak lompat-lompat dan membuahkan tulisan yang mengalir jika dibaca. Setelah bisa menulis seperti itu, selain hati dan pikiran saya lebih plong, saya juga merasa puas. Merasa sedikit berbangga karena ternyata saya bisa “menulis” juga. Hehehe.
Saya memang belum bisa rutin setiap hari menghasilkan tulisan yang menurut saya pantas diunggah di blog. Bahkan setiap hari masih saja sibuk mencari ide yang layak dituliskan dan seringnya tidak menemukannya. Menulis kadang menjadi terasa sulit bagi saya. Tulisan saya juga mungkin belum semenarik tulisan teman-teman atau para senior di bidang penulisan, tetapi ketika berhasil mengunggah sebuah tulisan di blog ini, saya merasa bahagia.
Maka dari itu, meskipun saya masih banyak menemui kesulitan dalam penulisan, tetapi karena menulis terasa sebagai sarana yang baik untuk kesehatan lahir dan batin saya, maka sesulit apa pun prosesnya saya selalu kangen untuk kembali menulis. Karena ketika dunia nyata dan dunia maya terasa sedang tidak baik-baik saja, menulis menjadi rumah yang paling nyaman untuk saya.
Komentar
Posting Komentar