Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2014

Perjalanan Mimpiku (1)

Sudah ba’da Ashar, dan belum ada satu tulisan pun untuk hari ini. Padahal sudah niaaat banget harus buat tulisan minimal 1 dalam 1 hari. Hehehe. Sebenarnya banyak ide berseliweran tetapi kabur seiring derap langkah kakiku menyusuri jalanan panjang siang ini. Ah tidak boleh menyalahkan apapun dan siapapun. Salah sendiri, kenapa tadi tidak menuliskan ide-ide itu meski harus setengah berlari memburu “kepastian”, meski harus tetap pegang setir. “Gawat! Jika sampai hari ini bolong, tidak membuat satu tulisan pun. Pasti bakalan merembet di hari-hari berikutnya.”   begitu pikirku. Coba ubek-ubek blog teman-teman blogger. Sapa tahu ada ide nyantel di kepala setelah baca tulisan teman-teman yang lain. Yang ada malah asyik membaca karya para blogger yang keren-keren bgt. Selama 2 hari ini, disela-sela kegiatan ku yang lumayan padat. Hehehe sengaja dipadet-padetin, supaya terbiasa. Siapa tahu suatu saat nanti, aku jadi penulis yang sudah pandai menulis. Sehingga banyak penerbi...

Jatuh Cinta Lagi

Busyeet, sudah lama semenjak rasa cinta pada suamiku bersemi. Sekarang aku merasakan hal yang sama. Semua terasa indah. Hari-hariku menjadi penuh gairah. Mengawali hari dengan sangat gembira. Ya! Aku sedang jatuh cinta lagi. Dan cinta ini bukan lagi untuk suamiku. Tidak! Tapi aku tidak selingkuh. Karena aku memang tidak ingin menghianati cintanya. Ah tapi mengapa rasanya seperti ini? Tapi rasa ini tumbuh tak terbendung lagi. Mengisi ruang hati yang sempat sepi. Setiap hari aku ingin segera menyelesaikan tugasku sebagai istri. Mengurusi dan melayani kebutuhan anak dan suami di waktu pagi. Mengantarkan kepergian mereka menuju tempat menggapai asa. Bergegas aku, menutup pintu pagar. Masuk rumah untuk segera menyelesaikan tugas yang tersisa. Harus segera selesai, agar aku bisa segera menjumpainya dan berbahagia bersamanya. Jika sehari tak dapat melihat dan merasakan keindahannya, maka hari itu seperti kehilangan makna. Ah, benar-benar aku mulai terpesona karenanya. Suamiku pernah...

Belum

Dulu Lama Kegelisahan mengajak pencarian Tak berkesudahan Amarah dan getir hati tertahan Tak terbuncahkan Mengalir butir kegundahan Mengiringi tapak demi tapak Bersama waktu Menyusuri keheningan Sendirian Kini Damai dan senyum diri Lelah, Menggoda tuh berhenti Hingga suara itu menggetarkan Langkah itu Belum boleh berhenti Disini? Tidak untuk saat ini

Pengagum kesunyian

Hening menyapa lembut Kabut menorehkan kesejukan Tak ada suara Hiruk pikuk itu untuknya Bukan untukku Hingga terdengar jelas suara hati Tak mengapa tak jadi berita Memang bukan itu tujuannya Menjadi catatan Ilahi Itu cukup Tak perlu orang lain mengerti Apalagi memahami Itu semua tak akan berarti Untuk suatu hari yang pasti Sambut dengan lega dan harapan Semoga Tuhan tidak menampik Segala persembahan Sebagai wujud pengabdian #dariHAtiUntukPahlawanTakDikenal

Belajar dan Berproseslah Nak!

Jarak kelahiran antara anak saya yang pertama dan kedua sangat dekat. Mereka hanya selisih 1 tahun 6 hari. Ya! Saya mengandung untuk anak yang ke dua setelah 3 bulan saya melahirkan anak saya yang pertama. Sangat mengagetkan bagi saya. Dan tentu juga sangat melelahkan. Lelah, baik secara fisik maupun psikis. Suami termasuk orang yang sangat bertanggung jawab untuk urusan mencari nafkah. Sehingga, urusan domestik, mutlak menjadi otoritas saya. Selama hamil anak yang kedua tersebut, belum begitu terasa repotnya. Meski tidak bisa dikatakan mudah. Sambil mengurus anak yang pertama, saya tetap mengurus segala tetek bengek urusan rumah tangga dan anak. Belum terpikir untuk mencari ART. Karena saya merasa masih mampu melakukan semua sendiri. Hingga anak kedua lahir, urusan pengasuhan anak saya lakukan sendiri. Repot? Iya tentu saja. Tetapi saya menikmatinya. Karena semua dilakukan sendiri, tak sadar waktu terus berlari. Hingga anak telah mencapai masa untuk dikenalkan dengan lingkungan...

Ingin Kupesankan Surga

    Ternyata kalian masih sekecil ini ya nak, waktu umi memaksa untuk sekolah. Apa perasaan kalian saat itu? Apakah sedih, senang, takut ataukah marah? Umi masih ingat, waktu itu kalian yang belum terbiasa bangun pagi, harus dengan susah payah umi bangunkan jam 06.00 WIB. Itu umi lakukan agar kalian tidak terlambat di hari pertama kalian bersekolah. Meskipun begitu, dengan ceria kalian tetap menuruti perintah umi. Apalagi ditambah dengan sepatu dan tas baru itu, kalian menjadi bersemangat ke sekolah.  Tapi setibanya di sekolah, kalian mulai menunjukkan rasa tidak nyaman. Dan kalian menangis, ingin pulang. Ya! Umi tahu sepenuhnya, karena setiap saat umi "mengurung" kalian di rumah. Membanjiri kalian dengan cinta dan kesetiaan. Tetapi sayangnya hanya di rumah . Tanpa teman sebaya, tanpa permainan bersama teman-teman seusia. Tanpa mengenal kenakalan-kenakalan di luar sana. Maafkan, karena keterbatasan itu. Maafkan umi, karena tidak ...

Bersamamu Cinta

Bertumbuh, berproses, saling memperbaiki diri bersama dengan kalian itu….sesuatuuh (kalo kata Syahrini hehehe..).   Jika kata cinta dapat mewakili perasaan hatiku, maka akan terus kukatakan itu, untuk kalian yang senantiasa mengucapkannya dengan senyum kalian setiap saat untukku. Jika pelukan kasih itu dapat membuncahkan rasa sayangku pada kalian, maka ingin kupeluk kalian setiap waktu, sehangat kasih kalian untukku. Jika panggilan sayangku pada kalian dapat mencerminkan betapa aku merindu, maka ingin kusampaikan rasa itu dengan suka cita. Bahwa aku sangat cinta. Entah mengapa jadi sebesar ini? Entah mulai kapan? Tapi aku menyukai setiap detik bersama rasa ini. Biarkan rasa ini menemaniku. Tidak menggetarkan tetapi menguatkan. Bukan mengaburkan tetapi meluruskan. Semoga.

Karena Kau Mampu

  Hingga hari ini, sudah tak terhitung berapa kali jarum suntik memasukkan obat ke dalam tubuhnya. Sudah berapa banyak dosis obat yang ditelannya. Karena sejak dua tahun yang lalu, aroma rumah sakit telah akrab di indera penciumannya. Lara itu telah mengakrabkannya dengan semua aroma kesakitan dan penderitaan. Mendengar namanya saja sudah sangat menyakitkan. Apalagi harus menghadapi dengan tubuh mungilnya. Ya! Penyakit kanker itu telah menggerogoti tubuhnya sejak dia belum mengerti arti sakit. Sejak dia masih berusaha mengenal isi dunia ini. Sejak dia baru berusaha menjejakkan kaki mungilnya di sini. Bahkan sejak dia belum bisa berteriak “Tuhan, mengapa harus aku? Mengapa harus penyakit ini yang kuderita?” Karena tak ada pilihan dan hanya bisa diam, merasakan sakitnya. Tangisnya tak berbeda dengan anak-anak sehat lainnya. Senyumnya bahkan menyiratkan keteguhan dan perjuangan. Luka di dalam tubuhnya tersamurkan oleh riang dan canda tawanya. Semakin memiriskan mata hati sem...

Memilih Menjadi Bahagia

Menjadi ibu rumah tangga dengan hiruk pikuknya membuat saya semakin mencintai profesi saya ini. Profesi yang masih sering menimbulkan perdebatan di batin masing-masing diri. Profesi yang oleh sebagian orang masih dianggap sebagai profesi yang diisi oleh perempuan yang tidak cerdas dan tidak mandiri. Profesi yang kadang seseorang masih lirih untuk mengakuinya. Lalu mengapa anggapan miring mengenai ibu rumah tangga masih saja ada? Ah tidak perlu terlalu memikirkan anggapan tersebut! Karena s emua itu bukan untuk dipermasalahkan maupun diperdebatkan.  Yang perlu dilakukan adalah memberikan bukti nyata yang dapat membalik semua anggapan miring tersebut. Sehingga yang ada bukan lagi berdebat masalah profesi melainkan kualitas pribadi. Benar begitu Moms ? :) Ibu rumah tangga adalah profesi yang sangat membutuhkan kekuatan mental dan fisik. Kekuatan mental dibutuhkan salah satunya untuk menghadapi berbagai cibiran dan tatapan merendahkan dari sebagian orang, bahka...

Mental Kaya vs Mental Miskin

Setelah sekian lama miskin ide, terdetik ide yang terinspirasi dari obrolan ringan dengan teman. Ya, belum lama ini saya terlibat pembicaraan seru mengenai mental kaya dan mental miskin. Dalam obrolan tersebut dikatakan oleh lawan bicara saya, bahwa mental kaya membuat orang yang bermental kaya tidak akan mudah terpuruk saat keadaannya yang sebenarnya tidak kaya. Agak membingungkan ya? Lewati aja dulu. Yang saya sedikit pahami adalah bahwa mental miskin menutup kemungkinan orang yang bermental miskin tersebut untuk menjadi orang kaya. Sebagai contoh orang yang memulai usaha memproduksi dan menjual makanan ringan, misalnya rempeyek. Orang yang bermental miskin tentu akan terlalu berhati-hati dalam mengunakan modalnya karena takut jika modalnya akan cepat habis dan tidak mempunyai modal lagi untuk terus berjualan. Beli bahan-bahan juga yang bukan kualitas terbaik, kemasan yang dipakai untuk menjual produk juga bukan kemasan berkualitas. Alhasil pembeli juga akan jadi berhati-hati da...