“Piye, Si A sudah baca pesan WA-mu?” Laki-laki itu bertanya. Aku berhenti sejenak dari aktivitasku. Sebenarnya tidak terlalu bersemangat membahas hal itu.
“Hmm,
gak tau. Gak penting juga. Setauku ada fitur untuk me-nonaktif-kan mode read
pada WA.” Jawabku sambil mengaduk kopi panas. Aroma menyenangkan langsung
menguar, menyisipkan rasa bahagia bagi setiap pecintanya.
“Pesanmu
sudah centang dua?”
“Sudah.”
“Sudah
dibaca?”
Aku
balik badan. Sekarang bisa melihat matanya yang menatapku tajam, seperti sedang
mencari jawaban.
“Kan
sudah kubilang itu tidak penting. Kalau memang orang itu merasa bahwa
komunikasi masih diperlukan pasti dia buka, dia baca dan pesannya sampai.”
Laki-laki
itu masih menatapku, seolah menunggu kalimat selanjutnya. Aku menarik kursi
lalu duduk di hadapannya.
“Biarkan
saja begini. Aku sudah menemukan kesimpulanku. Pada carut marutnya dunia kecil
yang ada di sekelilingku ini aku memilih setia. Tak masalah lagi dengan dia
atau mereka.”
Laki-laki
itu mencondongkan badan ke arahku, menopang dagu, menghela napas, berat.
“Semua
yang mereka kerjakan tak lagi mengusikku. Aku sudah selesai dengan mereka sejak
lama. Sejak aku sadar bahwa aku yang salah memahami. Selama ini aku kira mereka
adalah manusia. Ternyata dugaanku keliru. Hahaha…” Tawaku pecah diantara dingin
pagi ini. Segera kutinggalkan laki-laki itu. Kubiarkan saja dia yang masih termangu.
“Trus
setia tadi maksudnya?” Suara laki-laki itu mengejar langkahku. Aku berhenti,
berbalik dan tersenyum.
“Pada
Dia. Mengusahakan semampuku. Semoga.”
***
Semakin
dewasa seseorang biasanya pernah bertemu dengan berbagai macam karakter
manusia. Sayangnya, dari semua orang yang ditemui tidak semuanya sesuai
ekspektasi. Bahkan banyak diantaranya yang seolah hadir hanya untuk
mengaduk-aduk emosi. Agak curhat ya, Mak. Hahaha…
Baiklah,
memang harus diakui kalau bubur diaduk itu enak, es campur diaduk juga lebih mantap,
tapi kalau perasaan yang diaduk-aduk. Aduuuh, jangan ya, dek ya….
Kita
berharap hidup tenang dan damai, tetapi siapa yang bisa menolak garis nasib
yang mempertemukan kita dengan berbagai macam manusia. Nah, untuk bisa
menyiasati segala tingkah polah handai tolan, teman, sanak saudara yang kadang
membuat kita harus banyak-banyak istighfar dan mengelus dada itulah tulisan ini
dibuat.
Semalam
saya membaca sebuah buku berjudul Engaging Communication. Sebenarnya
buku itu berisi cara menjalin hubungan baik dengan kolega atau anak buah. Agar
suatu tim kerja bisa bekerja dengan maksimal. Ketika sedang asyik membaca, eh,
asyik banget gak tuh, saya menemukan tulisan yang bisa kita ambil hikmahnya. Yups,
di salah satu bagian dalam buku tersebut dijelaskan bahwa orang-orang dengan
masa lalu yang menyakitkan dan belum sembuh, kemungkinan besar akan membawa
rasa sakit itu sampai sekarang dan akan berpengaruh pada caranya bersikap dan
merespon sesuatu.
Buku
tersebut juga memberi cara untuk melepaskan luka-luka yang tersisa yaitu dengan
journaling. Kata yang pasti sudah sering kita dengar, kan? Tetapi jujur
baru dari buku ini saya jadi lebih paham bagaimana pengaplikasiannya. Ternyata
selama ini saya belum maksimal dalam ber-journaling. Selama ini saya
tahunya, journaling memang menulis isi hati dan pikiran, dah itu saja.
Saya
praktikkan, tapi kok masih ada ganjalan, ya. Ternyata saya memang belum los
dhol dalam mencurahkan perasaan saya. Masih terkesan hati-hati. Padahal journaling
tidak sebatas menulis seperti yang saya lakukan selama ini, tetapi menuliskan
luka yang kita rasakan dengan jujur sejujur jujurnya.
Ya,
kalaupun sudah benar-benar butuh pelampiasan biasanya saya curcol di dalam
tulisan. Peace, hehehe.
Balik
lagi ke journaling, bahwa ternyata kita bisa menuliskan semua hal yang
tidak kita sukai, yang mengganggu kita, yang kita benci, atau orang yang telah
melukai hati kita, bahkan kita boleh memaki-maki orang tersebut. Siip! Mantap!
Nah,
untuk orang yang terbiasa gak enakan dari lahir seperti saya ini, tips supaya
tidak merasa bersalah banget, kita niatkan saja tulisan penuh ujaran kepedihan
dan mungkin makian itu, ups, sebagai sarana terapi. Karena sebenarnya kita
memang harus mempunyai media dan menggunakan cara-cara legal untuk bisa
mengeluarkan luka yang sudah lama bahkan mungkin hampir membusuk tersebut.
Seperti borok yang sudah bernanah supaya sembuh kita harus mengeluarkan kotoran
nanahnya. Begitu juga dengan luka batin, tetap harus dilampiaskan, tapi dengan
cara-cara yang tidak merugikan orang lain. Oke!
Seperti
halnya teko yang berisi air putih maka yang keluar juga air putih, yang berisi
air kotor juga akan keluar sama seperti yang ada di dalamnya. Maka dengan journaling
semoga membuat hati yang sebelumnya penuh kemarahan, kesedihan dan energi
merusak lainnya, menjadi lebih tenang dan bahagia. Dengan demikian yang kita
tampakkan dan bagikan juga kebahagiaan. Karena hanya orang-orang yang bahagia
dan tangki cintanya penuh saja yang bisa membagikannya dan otomatis ringan melakukan
kebaikan untuk sekitarnya.
Semoga
terapi yang diupayakan tersebut membuat kita lebih mudah menjadi bagian dari
orang-orang baik, agar dunia ini lebih banyak dipenuhi kebaikan, seperti dalam quote
berikut:
“The
world is full of nice people. If you can’t find one, be one.” –Nishan
Panwar

Komentar
Posting Komentar