Pernah gak merasa menyesal
setelah menceritakan sesuatu mengenai diri kita kepada orang lain? Kalau saya sering
merasa begitu. Sebenarnya saya lebih nyaman sendiri, meskipun begitu saya juga
bukan orang yang sama sekali tidak mau bergaul dengan orang lain. Karena semakin bertambahnya umur tentu ada tuntutan untuk bisa
berbasa-basi, kan?
Nah, saat kehabisan bahan obrolan saya justru sering terjebak pada suatu
kondisi di mana saya lebih banyak bercerita. Rasanya kok canggung gitu, kalau
dalam suatu kondisi yang mengharuskan kita berada dalam suatu obrolan dan
tiba-tiba hening. Hingga kadang karena bingung mau ngomong apa lagi, saya malah
banyak membuka hal-hal yang sepertinya tidak pas untuk diceritakan. Dan ini biasanya
baru saya sadari di perjalanan pulang atau ketika sampai rumah. Saya sering mengingat
kembali apa saja yang telah saya obrolkan atau lakukan. Hal itu demi memastikan
yang saya lakukan tidak menyinggung orang yang diajak bicara. Dari situ kadang
jadi ada perasaan bahwa yang saya bicarakan tadi agak berlebihan. Hal-hal yang seharusnya
cukup saya simpan sendiri malah tanpa sengaja terbagi. Kalau kata anak zaman
sekarang itu namanya oversharing. Kalau sudah begitu saya hanya bisa
berharap semoga teman yang saya ajak bicara tadi lupa dengan apa yang saya
katakan. Hehehe.
Ngomong-ngomong masalah oversharing, ternyata ada hal-hal yang
sebaiknya cukup kita simpan sendiri alias tidak diceritakan kepada orang lain,
yaitu:
1. Mimpi besar
Setiap orang pasti memiliki
impian yang ingin sekali diwujudkan. Ternyata seru juga saat mempunyai suatu keinginan
atau mimpi lalu diam-diam berusaha mewujudkannya. Biasanya kalau sudah
terlanjur diceritakan yang ada jadi tidak bersemangat lagi untuk mewujudkannya.
Kalaupun masih bersemangat sayangnya malah jadi tidak fokus. Di samping itu,
ada juga nasihat tambahan supaya tidak menyebarkan mimpi besar karena dikhawatirkan
ada sebagian orang malah tidak suka dan menjadi penghambat kita dalam meraih impian
tersebut.
2. Kebaikan
Kebaikan juga
sebaiknya tidak diceritakan kepada orang lain. Tentu saja alasan utamanya agar
tidak mengurangi pahala kebaikan itu sendiri. Dan lagi terlalu banyak menceritakan
kebaikan kepada orang lain sepertinya malah akan membuat orang yang mendengar
jadi risih. Jadi, sebaiknya kita tidak terlalu mengumbar hal-hal baik yang
telah kita lakukan, takut jadi kebiasaan juga, mak. Kalau keterusan malah jadi riya’
kan? Hehehe.
3. Hubungan dengan pasangan
Hayo siapa yang
kalau lagi nongkrong sama teman-teman suka kelepasan bicara? Gak sengaja ternyata
kok malah sampai membicarakan hal-hal pribadi seperti bercerita tentang pasangan.
Memang seru ya mak ghibahin pasangan sendiri. Eits, tapi ternyata ini gak boleh
jadi kebiasaan loh, mak. Baik itu cerita manis dan romantis maupun cerita penuh
tangis tetap sebaiknya disimpan sendiri saja. Menceritakan hal-hal baik mengenai
pasangan rawan menyebabkan iri, sebaliknya menceritakan hal-hal buruk riskan menambah
dosa kita ke pasangan.
4. Saldo rekening
Ah, saldo rekening cukup
saya dan Tuhan saja yang tahu. Tak perlulah ku bagi sedu sedan itu hehehe…. Lagian
apa sih alasan menyebarkan isi saldo rekening kepada orang lain? Masih gak
paham dengan orang-orang yang gemar membagikan jumlah saldo di rekeningnya.
Yang beberapa kali saya lihat ya hanya artis yang melakukan itu. Kalau untuk
orang biasa seperti kita eh saya maksudnya, sepertinya tidak ada. Atau memang beneran
ada? Waduh, tapi sebaiknya jangan ya, mak. Simpan saja isi saldo rekeningmu sendiri,
ya. Kalau mau bagi-bagi jangan nanggung. Jangan cuma berbagi informasi isi saldo,
tetapi sekalian bagiin uangnya kepada orang-orang yang membutuhkan dong. Itu
baru keren.
5. Kelemahan
Memang berpura-pura
kuat itu melelahkan, tetapi menampakkan kelemahan kepada orang lain juga bukan hal
yang layak dilakukan. Jadi salah satu yang harus kita keep sendiri
adalah kelemahan kita. Mengapa kelemahan sebaiknya tidak diceritakan kepada orang
lain? Karena menceritakan kelemahan sama berbahayanya dengan menceritakan kebaikan
kita. Jika ada yang tidak suka dengan kita orang itu akan menggunakan kelemahan
kita itu sebagai senjata untuk menjatuhkan kita. Kok jadi serem.
Saya pernah mendengar nasihat dari KH. Maimun Zubair atau yang biasa disapa
Mbah Moen. Nasihat beliau kurang lebih isinya, ‘’Kudu wani ngetoke gagah senajan
neng ati rasane kudu nangis ‘’ (Harus berani tampil kuat meskipun sebenarnya
hati sudah pingin nangis). Cup-cup-cup.
Meskipun begitu, kita tetap bisa meluapkan segala rasa sedih, unek-unek dan
sisi-sisi lemah kita. Bisa lewat tulisan atau pun melalui doa. Hal itu jauh lebih
aman dari pada menceritakannya pada orang lain.
6. Masalah keluarga
Siapa sih dari kita
yang bebas dari masalah keluarga? Sepertinya semuanya pernah. Minimal salah
paham dengan anggota keluarga.
Seberat dan sebesar apapun
masalah yang dihadapi sebaiknya tidak lantas diumbar kepada teman atau orang
lain atau malah di media sosial. Menceritakan masalah keluarga itu seperti kita
sedang menceritakan aib kita sendiri, loh.
Hmmm, tapi kalau
beneran sudah tidak sanggup menanggung bebannya sendiri dan ingin bercerita, pastikan
kita bercerita pada orang yang benar-benar bisa dipercaya. Lebih amannya sih
mending dipendam sendiri dan adukan pada Tuhan. Selain itu, ternyata
mencurahkan isi hati melalui tulisan juga sangat membantu, loh.
Nah, itu tadi beberapa
hal yang sebaiknya tidak kita ceritakan kepada orang lain. Semoga ada manfaat
yang bisa diambil, ya. Tetap semangat!

Komentar
Posting Komentar