Mak, pernah gak merasa bingung dengan perubahan sikap anak-anak yang mulai tumbuh besar? Saya pernah dan hampir tersulut emosi dengan sikap anak remaja saya. Anak lelaki yang baru tamat SMA itu menunjukkan sikap membangkang dan tidak bersahabat. Kok mereka berubah jadi pendiam. Oke, kalau gak mau cerita gakpapa, toh mungkin memang bukan karakternya yang suka cerita, tetapi kalau jadi pendiam kan kita yang jadi emak jadi ngerasa serba salah, ya? Apa aku ada salah? Ya jelas banyak lah, Mak. Gitu aja kok nanya to, Mak. Hehehe. Oke deh, maap.
Awalnya saya diamkan, tetapi lama-lama saya tidak tahan. Hehehe. Ya, mau gimana lagi. Emak-emak yang selama ini terbiasa menjadi tempat “pulang” bagi anak-anaknya, sekarang justru sedang merasa ditinggalkan. Yang agak mengaduk-aduk emosi adalah mereka kok jadi kayak ingin menunjukkan bahwa mereka gak butuh orang tuanya. Loh, loh, loh. Bagaimana bisa muncul perasaan seperti itu? Kan mereka masih membutuhkan biaya untuk macam-macam. Ya, tapi kemudian saya mencoba untuk tenang dan instropeksi diri. Gak mungkin ada asap kalau tidak ada api, kan? Mungkin karena perasaan belum siap kehilangan peran itu juga yang membuat saya lebih sensitif.
Demi bisa lebih mengusai keadaan dan tidak sering shick-shack-shock melihat perubahan sikap anak saya, akhirnya saya mencari informasi seputar itu. Beruntung teknologi sangat membantu dan saya menemukan pengetahuan baru yang saya rasa penting untuk orang tua yang sudah memiliki anak remaja. Ternyata perubahan sikap yang terjadi pada anak remaja bukan karena mereka ingin membangkang atau sengaja menjauhi orang tuanya, ada hal lain yang menjadi penyebabnya:
Mereka membutuhkan tempat cerita yang aman, jangan
belum-belum sudah dihakimi.
Ya, emak ini memang termasuk yang sering memotong pembicaraan anaknya. Ada masa ketika mereka mencoba menceritakan peristiwa yang dialami atau sekadar curhat. Sayangnya, emak belum pintar sehingga melakukan hal-hal yang telah melukai perasaannya. Respon emak tidak sesuai dengan yang mereka harapkan. Mereka mengharapkan pengertian, eh emaknya malah nyerocos menggurui. Anak-anak hanya ingin didengarkan, emaknya malah memotong lalu menyalahkan. Ah, sudahlah penyesalan di akhir memang tiada guna. Sekarang saatnya untuk memperbaiki diri. Yang sudah terjadi ya sudah, tidak bisa diulang kembali. Jalan satu-satunya ya meminta maaf kepada anak-anak. Bagaimanapun juga mereka pasti merasa sedih karena ucapan dan tindakan kita.
Mereka ingin diberikan kepercayaan.
Setiap hari mendampingi anak-anak sejak mereka lahir ternyata sering membuat emak lupa, bahwa anaknya telah tumbuh besar. Mereka bukan lagi anak kecil yang harus selalu diawasi dan dikawal tanpa henti. Mereka juga ingin merasakan pengalaman sendiri sehingga bisa menjalani proses untuk bisa bertumbuh sebagaimana seharusnya, tanpa banyak campur tangan orang tua yang memang sudah seharusnya mulai melepaskan perannya. Saya juga tidak bisa serta merta menyalahkan para orang tua khususnya ibu yang kerap berperan menjadi malaikat pelindung untuk anak-anaknya. Mereka hanya ingin memastikan anak yang sejak kecil dirawat itu tetap dalam kondisi dan situasi yang baik. Hanya saja ternyata hal yang dilakukan atas dasar cinta itu tidak selamanya baik untuk buah hatinya. Akan tiba waktunya orang tua memberikan kepercayaan kepada anak-anaknya. Sudah seharusnya orang tua mulai melepas “tangannya” agar anak lebih leluasa mengeksplor dunianya. Memang, akan kita saksikan anak-anak itu menemui rintangan bahkan kegagalan dan membuat kita sangat ingin mengulurkan bantuan. Yang ternyata bukan itu yang mereka butuhkan. Kalau kita mau jujur, pada saat kita tanpa henti selalu menolong anak-anak, itu karena mereka yang memang perlu ataukah itu hanya kebutuhan orang tua karena tidak kuat menahan kesedihannya? Menurut apa yang saya lihat dan rasakan sendiri hal itu justru karena kita yang merasa butuh menolongnya. Dan tahukah, Mak? Ternyata pertolongan kita di saat yang tidak tepat justru akan membuat mereka tidak tangguh seperti harapan kita ke mereka. Menjadi orang tua yang baik menurut saya bukan sekedar selalu bisa memberi, tetapi tidak memberi sesuatu juga bisa jadi adalah yang terbaik pada saat tertentu. Jadi, latihan menahan diri demi melatih anak-anak meraih kepercayaan diri mulai harus dipraktikkan. Semoga dikuatkan.
Mereka membutuhkan dicintai sepenuhnya tanpa syarat.
Berapa kali kita kecewa karena anak-anak gagal memberikan nilai terbaik saat penerimaan raport? Atau pernahkah kita menjatuhkan dan merendahkan anak-anak karena mereka tidak berhasil menjuarai sebuah lomba? Alhamdulillah, saya belum pernah kalau yang ini. Aman…hehehe. Saya berusaha menghargai apa yang mereka lakukan dan menerima mereka seutuhnya dengan berbagai macam dinamikanya. Hal itu karena saya tahu bagaimana rasanya harus berjuang dicintai oleh seseorang yang seharusnya menerima kita tanpa banyak syarat. Saya sedikit mengerti bahwa hal itu melelahkan. Dan untuk anak-anak yang masih berusia remaja hal itu bisa menghancurkan mereka. Beruntung kalau mereka mempunya nilai diri yang tinggi sehingga bisa tetap patuh pada orang tua, kalau yang terjadi adalah sebaliknya yang rugi bukan hanya anak tetapi orang tuanya juga. Mereka butuh kita tetap mencintai mereka meskipun mereka melakukan kesalahan atau sedang gagal. Karena hal itu akan membuat mereka nyaman untuk kembali pulang saat mereka sudah lelah menghadapi dunia luar. Dan menjadi tempat yang nyaman untuk anak-anak ternyata adalah kebahagiaan dan sebuah prestasi tersendiri bagi orang tua.
Hmm, menjadi orang tua ternyata memang harus terus mau belajar ya, Mak. Setiap hari ada saja ulangan yang mendadak disodorkan oleh kehidupan ini. Ya, tapi mau gimana lagi. Semua harus dijalani dan dikerjakan dengan baik. Semoga tulisan di atas bisa menambah semangat dalam menjalani hari-hari mendidik anak-anak yang sudah remaja. Dan semoga ilmunya bermanfaat. Tetap semangat!

Komentar
Posting Komentar