Seorang kerabat menelpon saya, menceritakan banyak hal. Sebagian besar yang diceritakan sudah sangat saya hapal di luar kepala. Ya, karena saya adalah tempatnya berbagi cerita. Entah, kepada siapa lagi dia membagikan beban hidupnya, saya tidak tahu pasti. Yang jelas saya selalu berusaha mendengarkan keluh kesahnya. Bukan tanpa alasan saya masih mau menyimak cerita yang sama berulang kali. Hal itu karena saya tidak mau (lagi) kehilangan seseorang yang sedang berusaha menjadi “manusia”. Saya tidak pernah membayangkan menjadi dewasa ternyata bisa mengubah tabiat seseorang. Dari yang dulunya penuh perhatian, menjadi manusia yang apatis, tidak peduli. Dari yang melakukan perbuatan baik semampu mereka, menjadi membatasi dan menghitung untung rugi. Dari yang sering membagikan senyum hangat menjadi sosok yang dingin, seolah menunjukkan wajah kaku adalah caranya berkata “Aku lelah jadi baik, lelah selalu mengerti, lelah karena selalu mengalah.” Pada awal melihat perubahan tersebut jujur say...
Pernah gak merasa kok, kehidupan orang lain kayaknya lebih enak daripada kehidupan diri sendiri? Saya pernah. Dan pikiran seperti itu cukup lama menemani saya. Banyak contoh kita menginginkan kehidupan orang lain. Kok, enak banget dia masih bisa main ke mana saja padahal sama-sama IRT. Kok kayaknya hidupnya santai banget. Kok enak banget dia suaminya selalu pengertian. Dan masih banyak lagi keluhan khas seorang istri dan ibu. Kok ngeluh, sih? Apa gak tau kalau banyak ngeluh itu tidak baik? Ya, tahu. Pinginnya juga tidak mengeluh, tetapi ternyata yang dilihat dan dihadapi berbeda dengan harapan, sehingga mudah mengeluh. Ya, belajar dikit-dikit ya…..*Hmm, emak ini memang masih harus banyak belajar. Di sisi lain, orang lain ternyata juga sering beranggapan bahwa kita lebih beruntung, hidupnya enak, di rumah tapi masih bisa berkarya dan sebagainya. Anehnya kalimat dari orang lain tersebut seolah terlupakan saat kita melihat kehidupan orang lain. Dan biasanya kita akan lebih perha...