Langsung ke konten utama

Postingan

Being a Happy Mother

  Today is Wednesday. I am so happy because I can go jogging. I am not sure when I realized that I really like doing sports, especially walking or jogging. A long time ago, I sometimes did sports. But my life changed when the babies came. I was happy, of course. I enjoyed the time I spent with my children. But somehow, I also forgot a few things I used to like. Time flies, they have grown well. Now they are teenagers. Like any typical teenager, they have their own life. They became quieter. I know that they aren’t kids who are talkative, but the differences made me confused. Sometimes I feel they don’t need my attendance anymore. At the first time I realized it, I felt upset. I wasn’t ready to “lose” them so soon. I just want to do everything with them like what we did. But, I know it is ridiculous. I can not be so selfish and ignore the fact that they also need more space to be someone stronger and better. So, I decided to accept the reality and move on. What I do then? Of c...
Postingan terbaru

Review Buku Ajaran Bahagia dari Jawa

Sudah sejak lama saya tertarik dengan buku-buku nonfiksi. Lebih khusus lagi adalah buku-buku yang membahas tentang proses pengembangan diri, mencintai diri sendiri dan berbagai petunjuk mencapai ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Ya, semua orang di dunia ini juga pasti ingin bermuara pada kebahagiaan, kan? Dari sekian banyak buku yang membagikan petunjuk kebahagiaan, salah satunya adalah buku Ajaran Bahagia dari Jawa. Buku ini sudah masuk radar saya karena sejak awal tahun berseliweran di beranda media sosial. Awalnya saya masih ragu untuk membelinya, dengan berbagai alasan yang menyertai. Ya, in this economy kadang membuat saya berpikir ulang untuk menambah koleksi buku. Walaupun pada akhirnya saya tetap berhasil memiliki buku ini di sebuah pameran buku di tempat tinggal saya, Jogja. Tentu saja saya membeli buku ini bukan hanya karena sentiment kedaerahan, karena penulisnya berasal dari daerah yang sama dengan saya. Kendatipun demikian, tetap tidak bisa dipungkiri sebagai ...

Upaya Memelihara Kebaikan

Seorang kerabat menelpon saya, menceritakan banyak hal. Sebagian besar yang diceritakan sudah sangat saya hapal di luar kepala. Ya, karena saya adalah tempatnya berbagi cerita. Entah, kepada siapa lagi dia membagikan beban hidupnya, saya tidak tahu pasti. Yang jelas saya selalu berusaha mendengarkan keluh kesahnya. Bukan tanpa alasan saya masih mau menyimak cerita yang sama berulang kali. Hal itu karena saya tidak mau (lagi) kehilangan seseorang yang sedang berusaha menjadi “manusia”. Saya tidak pernah membayangkan menjadi dewasa ternyata bisa mengubah tabiat seseorang. Dari yang dulunya penuh perhatian, menjadi manusia yang apatis, tidak peduli. Dari yang melakukan perbuatan baik semampu mereka, menjadi membatasi dan menghitung untung rugi. Dari yang sering membagikan senyum hangat menjadi sosok yang dingin, seolah menunjukkan wajah kaku adalah caranya berkata “Aku lelah jadi baik, lelah selalu mengerti, lelah karena selalu mengalah.” Pada awal melihat perubahan tersebut jujur say...

Wang Sinawang

  Pernah gak merasa kok, kehidupan orang lain kayaknya lebih enak daripada kehidupan diri sendiri? Saya pernah. Dan pikiran seperti itu cukup lama menemani saya. Banyak contoh kita menginginkan kehidupan orang lain. Kok, enak banget dia masih bisa main ke mana saja padahal sama-sama IRT. Kok kayaknya hidupnya santai banget. Kok enak banget dia suaminya selalu pengertian. Dan masih banyak lagi keluhan khas seorang istri dan ibu. Kok ngeluh, sih? Apa gak tau kalau banyak ngeluh itu tidak baik? Ya, tahu. Pinginnya juga tidak mengeluh, tetapi ternyata yang dilihat dan dihadapi berbeda dengan harapan, sehingga mudah mengeluh. Ya, belajar dikit-dikit ya…..*Hmm, emak ini memang masih harus banyak belajar. Di sisi lain, orang lain ternyata juga sering beranggapan bahwa kita lebih beruntung, hidupnya enak, di rumah tapi masih bisa berkarya dan sebagainya. Anehnya kalimat dari orang lain tersebut seolah terlupakan saat kita melihat kehidupan orang lain. Dan biasanya kita akan lebih perha...

Tetap Tenang Mendampingi Anak Remaja

  Mak, pernah gak merasa bingung dengan perubahan sikap anak-anak yang mulai tumbuh besar? Saya pernah dan hampir tersulut emosi dengan sikap anak remaja saya. Anak lelaki yang baru tamat SMA itu menunjukkan sikap membangkang dan tidak bersahabat. Kok mereka berubah jadi pendiam. Oke, kalau gak mau cerita gakpapa, toh mungkin memang bukan karakternya yang suka cerita, tetapi kalau jadi pendiam kan kita yang jadi emak jadi ngerasa serba salah, ya? Apa aku ada salah? Ya jelas banyak lah, Mak. Gitu aja kok nanya to, Mak. Hehehe. Oke deh, maap. Awalnya saya diamkan, tetapi lama-lama saya tidak tahan. Hehehe. Ya, mau gimana lagi. Emak-emak yang selama ini terbiasa menjadi tempat “pulang” bagi anak-anaknya, sekarang justru sedang merasa ditinggalkan. Yang agak mengaduk-aduk emosi adalah mereka kok jadi kayak ingin menunjukkan bahwa mereka gak butuh orang tuanya. Loh, loh, loh. Bagaimana bisa muncul perasaan seperti itu? Kan mereka masih membutuhkan biaya untuk macam-macam. Ya, tapi kem...

Mengurangi Insecure, Lebih Banyak Bersyukur

  Kita pasti sudah sering mendengar ungkapan “Rumput tetangga selalu lebih hijau”. Sebuah kalimat yang menggambarkan suatu perasaan bahwa apa yang kita miliki sekarang tidak terlihat lebih baik daripada milik orang lain. Sebuah perasaan yang semakin diperlihara akan semakin menyiksa. Benar begitu? Contohnya adalah ketika masih kanak-kanak terlintas kalau menjadi anak bapak atau ibu itu kayaknya enak. Lalu beranjak remaja bertemu lebih banyak orang, berkenalan dan berteman lebih luas kita jadi tahu ternyata tinggal di rumah sana lebih menyenangkan karena apa-apa dekat tidak seperti rumahku jauh dari mana-mana. Merasa bahwa diri tidak menarik karena tidak seputih Si Anu, tidak setinggi Si Ana atau penyebab yang lainnya. Masih tidak berhenti di situ, godaan bahwa hidup orang lain selalu lebih indah daripada kehidupan sendiri akan terus berlanjut seiring perjalanan usia. Semua yang dimiliki orang lain selalu saja tampak asyik, menarik dan lebih membahagiakan. Sibuk berandai-andai hin...

Beberapa Hal yang Sebaiknya Disimpan Sendiri

  Pernah gak merasa menyesal setelah menceritakan sesuatu mengenai diri kita kepada orang lain? Kalau saya sering merasa begitu. Sebenarnya saya lebih nyaman sendiri, meskipun begitu saya juga bukan orang yang sama sekali tidak mau bergaul dengan orang lain. Karena semakin bertambahnya umur tentu ada tuntutan untuk bisa berbasa-basi, kan? Nah, saat kehabisan bahan obrolan saya justru sering terjebak pada suatu kondisi di mana saya lebih banyak bercerita. Rasanya kok canggung gitu, kalau dalam suatu kondisi yang mengharuskan kita berada dalam suatu obrolan dan tiba-tiba hening. Hingga kadang karena bingung mau ngomong apa lagi, saya malah banyak membuka hal-hal yang sepertinya tidak pas untuk diceritakan. Dan ini biasanya baru saya sadari di perjalanan pulang atau ketika sampai rumah. Saya sering mengingat kembali apa saja yang telah saya obrolkan atau lakukan. Hal itu demi memastikan yang saya lakukan tidak menyinggung orang yang diajak bicara. Dari situ kadang jadi ada perasaan ...