Langsung ke konten utama

Postingan

Menulis adalah Rumah Paling Nyaman

  Suami saya sudah lama tahu kalau saya suka menulis dan saya mempunyai blog pribadi. Meskipun begitu, sepertinya suami tidak pernah tahu atau belum terlalu ingin tahu seperti apa tulisan istrinya ini. Hingga akhirnya ketika akhir-akhir ini saya sering membagikan link blog saya di media sosial, sepertinya suami sempat membaca sekilas. Dan menurut pengakuannya, beliau memang baru membaca sekilas, tidak sampai tuntas, alasannya tentu saja menurutnya tulisannya cukup panjang dan dirinya tidak cukup waktu luang, saat itu. Baiklah, tidak apa-apa. Toh memang selama ini saya menulis bukan untuk beliau saja, atau mungkin memang saya menulis dan saya bahagia, itu sudah cukup. Tak berapa lama setelah saya mulai sering membagikan tulisan di media sosial, suami menanyakan sebuah hal, “Kamu nulis itu pake AI, gak?” *AI itu Artificial Intelligence , yang artinya kecerdasan buatan. Itu satu mata kuliah sendiri dulu waktu kuliah, jadi yang ingin tahu lebih lanjut apa itu AI bisa cari-cari send...
Postingan terbaru

Ibarat Peribahasa: Anjing Menggonggong Kafilah Berlalu

  “ You will never reach your destination if you stop and throw stones at every dog that barks .” –Winston Churchill. Sebuah kuote yang hampir sama artinya dengan kalimat yang tertera di judul artikel ini, yang kurang lebih artinya adalah kita tidak akan pernah mencapai tujuan jika sibuk mengurusi komentar dari orang-orang. Jadi, kalau kita sudah menentukan tujuan maka sebaiknya fokus mencapai tujuan tersebut. Di dalam proses pencapaian tujuan pasti akan ada banyak yang berkomentar dan bahkan mungkin sangsi dengan kemampuan kita. Tetapi jika kita sibuk menanggapi berbagai macam komentar orang maka kita tidak akan sampai ke tujuan yang kita inginkan. Menjalani proses pencapaian tujuan memang tidaklah mudah. Dibutuhkan konsistensi dan keteguhan dalam menapaki satu demi satu prosesnya. Saya pernah mendengar sebuah kisah yang bercerita tentang adanya perlombaan memanjat tembok bangunan tinggi yang akan dilakukan oleh sekumpulan kura-kura. Seketika semua orang tertarik untuk bisa me...

Journaling agar Jiwa Lebih Bening

  “Piye, Si A sudah baca pesan WA-mu?” Laki-laki itu bertanya. Aku berhenti sejenak dari aktivitasku. Sebenarnya tidak terlalu bersemangat membahas hal itu. “Hmm, gak tau. Gak penting juga. Setauku ada fitur untuk me-nonaktif-kan mode read pada WA.” Jawabku sambil mengaduk kopi panas. Aroma menyenangkan langsung menguar, menyisipkan rasa bahagia bagi setiap pecintanya. “Pesanmu sudah centang dua?” “Sudah.” “Sudah dibaca?” Aku balik badan. Sekarang bisa melihat matanya yang menatapku tajam, seperti sedang mencari jawaban.   “Kan sudah kubilang itu tidak penting. Kalau memang orang itu merasa bahwa komunikasi masih diperlukan pasti dia buka, dia baca dan pesannya sampai.” Laki-laki itu masih menatapku, seolah menunggu kalimat selanjutnya. Aku menarik kursi lalu duduk di hadapannya. “Biarkan saja begini. Aku sudah menemukan kesimpulanku. Pada carut marutnya dunia kecil yang ada di sekelilingku ini aku memilih setia. Tak masalah lagi dengan dia atau mereka.” Lak...

Being a Happy Mother

  Today is Wednesday. I am so happy because I can go jogging. I am not sure when I realized that I really like doing sports, especially walking or jogging. A long time ago, I sometimes did sports. But my life changed when the babies came. I was happy, of course. I enjoyed the time I spent with my children. But somehow, I also forgot a few things I used to like. Time flies, they have grown well. Now they are teenagers. Like any typical teenager, they have their own life. They became quieter. I know that they aren’t kids who are talkative, but the differences made me confused. Sometimes I feel they don’t need my attendance anymore. At the first time I realized it, I felt upset. I wasn’t ready to “lose” them so soon. I just want to do everything with them like what we did. But, I know it is ridiculous. I can not be so selfish and ignore the fact that they also need more space to be someone stronger and better. So, I decided to accept the reality and move on. What I do then? Of c...

Review Buku Ajaran Bahagia dari Jawa

Sudah sejak lama saya tertarik dengan buku-buku nonfiksi. Lebih khusus lagi adalah buku-buku yang membahas tentang proses pengembangan diri, mencintai diri sendiri dan berbagai petunjuk mencapai ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Ya, semua orang di dunia ini juga pasti ingin bermuara pada kebahagiaan, kan? Dari sekian banyak buku yang membagikan petunjuk kebahagiaan, salah satunya adalah buku Ajaran Bahagia dari Jawa. Buku ini sudah masuk radar saya karena sejak awal tahun berseliweran di beranda media sosial. Awalnya saya masih ragu untuk membelinya, dengan berbagai alasan yang menyertai. Ya, in this economy kadang membuat saya berpikir ulang untuk menambah koleksi buku. Walaupun pada akhirnya saya tetap berhasil memiliki buku ini di sebuah pameran buku di tempat tinggal saya, Jogja. Tentu saja saya membeli buku ini bukan hanya karena sentiment kedaerahan, karena penulisnya berasal dari daerah yang sama dengan saya. Kendatipun demikian, tetap tidak bisa dipungkiri sebagai ...

Upaya Memelihara Kebaikan

Seorang kerabat menelpon saya, menceritakan banyak hal. Sebagian besar yang diceritakan sudah sangat saya hapal di luar kepala. Ya, karena saya adalah tempatnya berbagi cerita. Entah, kepada siapa lagi dia membagikan beban hidupnya, saya tidak tahu pasti. Yang jelas saya selalu berusaha mendengarkan keluh kesahnya. Bukan tanpa alasan saya masih mau menyimak cerita yang sama berulang kali. Hal itu karena saya tidak mau (lagi) kehilangan seseorang yang sedang berusaha menjadi “manusia”. Saya tidak pernah membayangkan menjadi dewasa ternyata bisa mengubah tabiat seseorang. Dari yang dulunya penuh perhatian, menjadi manusia yang apatis, tidak peduli. Dari yang melakukan perbuatan baik semampu mereka, menjadi membatasi dan menghitung untung rugi. Dari yang sering membagikan senyum hangat menjadi sosok yang dingin, seolah menunjukkan wajah kaku adalah caranya berkata “Aku lelah jadi baik, lelah selalu mengerti, lelah karena selalu mengalah.” Pada awal melihat perubahan tersebut jujur say...

Wang Sinawang

  Pernah gak merasa kok, kehidupan orang lain kayaknya lebih enak daripada kehidupan diri sendiri? Saya pernah. Dan pikiran seperti itu cukup lama menemani saya. Banyak contoh kita menginginkan kehidupan orang lain. Kok, enak banget dia masih bisa main ke mana saja padahal sama-sama IRT. Kok kayaknya hidupnya santai banget. Kok enak banget dia suaminya selalu pengertian. Dan masih banyak lagi keluhan khas seorang istri dan ibu. Kok ngeluh, sih? Apa gak tau kalau banyak ngeluh itu tidak baik? Ya, tahu. Pinginnya juga tidak mengeluh, tetapi ternyata yang dilihat dan dihadapi berbeda dengan harapan, sehingga mudah mengeluh. Ya, belajar dikit-dikit ya…..*Hmm, emak ini memang masih harus banyak belajar. Di sisi lain, orang lain ternyata juga sering beranggapan bahwa kita lebih beruntung, hidupnya enak, di rumah tapi masih bisa berkarya dan sebagainya. Anehnya kalimat dari orang lain tersebut seolah terlupakan saat kita melihat kehidupan orang lain. Dan biasanya kita akan lebih perha...