Di usia yang sudah medium well ini, tentu kita sudah makan asam garam kehidupan, kan Mak? Hehehe. Gakpapa, jangan sedih karena dengan begitu kita jadi tambah ngerti bahwa hidup ini ya memang begini. Kadang menyebalkan, kadang juga pasti kita merasakan bahagia. Semua hanya sementara. Sebagai seorang perempuan yang juga sudah cukup lama malang melintang di dunia penuh misteri ini, saya juga sudah mencicipi pahit manis kehidupan. It's Ok ! Semua juga ngalami hal yang serupa, hanya mungkin bentuk soalnya saja yang berbeda. Ada yang diuji dengan orang tuanya, ada yang diminta sabar dari sisi ekonomi, ada yang harus berjuang untuk sehat dan banyak lagi kasus-kasus lainnya. Makanya saya sering sebel kalau ada yang bilang, lebih tepatnya menyangsikan dan mengucapkan kalimat nyeleneh: " Mosok orang kayak kamu gini sedih, sih?" Aduh...kalimat seperti itu kenapa harus keluar, sih? Lah emang ada makhluk di dunia ini yang tidak pernah sedih? Emang ada ya, manusia yang bebas...
Entah kenapa tiba-tiba saya teringat kenangan masa lalu. Kala itu saya masih kanak-kanak. Sebagai anak kecil pada umumnya, saya juga kerap bermain ke rumah teman. Bahkan kadang tidak hanya berhenti di satu rumah saja, karena justru kami akan menghampiri lebih banyak teman lain lalu bermain bersama-sama. Sungguh masa kecil yang menyenangkan. Sayangnya, di balik semua kenangan manis tersebut, saya justru masih menyimpan kenangan tidak mengenakkan. Kejadian tidak mengenakkan itu bukan tentang saya, tetapi tentang keluarga teman saya. Sebut saja teman saya itu namanya Bunga. Bunga adalah anak sulung dan hanya mempunyai seorang adik laki-laki. Kedua orang tuanya adalah pemilik warung kelontong. Pada saat itu saya cukup sering main ke rumah Bunga karena jaraknya cukup dekat dengan rumah saya. Kami biasanya bermain di ruang tengah yang kebetulan memanjang dan jadi satu dengan warungnya. Saat sedang bermain bersama tersebut kami sering melihat adik Bunga membuka laci dan mengam...