Langsung ke konten utama

Postingan

Keluar dari Penjara Ketakutan

  “Do one thing every day that scares you.” –Eleanor Roosevelt Nasihat yang sangat tepat untuk orang seperti saya. Ya, saya adalah orang dengan banyak ketakutan dan kekhawatiran. Entah apa penyebabnya, tetapi itulah yang sering saya alami. Jumlah ketakutan saya terhadap sesuatu mulai banyak berkurang justru setelah saya menikah dan bertemu dengan partner a.k.a suami. Ya, suami lah yang sering menjerumuskan diri saya untuk bertarung melawan ketakutan-ketakutan tersebut. Awalnya tentu saja saya melontarkan berbagai aksi penolakan, dari mulai merajuk gak penting sampai harus adu argumentasi yang lumayan alot. Ending -nya sangat bisa ditebak, siapa yang kalah dalam perdebatan itu. Ya, dalam hal ini saya lah yang sering kalah. Biasanya kan laki-laki yang selalu kalah, ah tapi saya kan tidak mau asal menang debat, semua harus masuk akal baru saya bisa terima. Nah, sayangnya semua yang disampaikan oleh suami selalu masuk akal. Jadi saya mengakui kesalahan dan kekalahan lalu mulai melawa...
Postingan terbaru

Mengambil Jeda dengan Kesadaran

Saya lupa sejak kapan mulainya, tetapi saya baru menyadari sesuatu bahwa seiring bertambahnya umur dan semakin banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan, orang dewasa sering lupa untuk sekedar menghela napas panjang dengan sadar. Sejak bangun pagi rasanya tubuh dan pikiran bahkan mungkin hati dipaksa untuk bisa langsung ON. Kita lupa bahwa mengisi waktu dengan memberi jeda saja itu tidak apa-apa. Kadang karena tertimbun dalam banyak tugas bisa sampai membuat dada saya terasa sesak dan napas menjadi pendek-pendek. Hal tersebut membuat semua tugas terasa semakin berat. Sebagai ibu rumah tangga tentunya setiap hari memiliki banyak tugas dan tanggung jawab yang menunggu diselesaikan. Ketegangan yang kadang timbul dalam menjalani aktivitas memang lumrah terjadi, tetapi kalau tidak disiasati tentu akan membuat kita kewalahan sendiri. Alhamdulillah, akhir-akhir ini saya menyadari bahwa ada satu hal kecil yang sudah lama saya lupakan. Hal yang terkesan sepele itu adalah mengambil napas p...

IRT Kece

  Menjalani peran sebagai ibu rumah tangga (IRT) sering membuat seorang ibu melupakan kebutuhan dirinya sendiri. Peran dan tanggung jawab yang sangat banyak dan beragam sering kali membuat dirinya merasa tak ada waktu untuk menyenangkan diri sendiri. Peran sebagai IRT adalah peran yang sangat rawan dengan stress dan burn out . Setiap hari berkutat dengan pekerjaan yang sama, bertemu dengan hal-hal serupa, pergaulan yang sangat terbatas karena padatnya tanggung jawab yang dimiliki seorang IRT menjadikan kemungkinan emosi menjadi tidak stabil. IRT yang hampir setiap hari terkungkung di rumah memang bisa membuat jiwa ibu rapuh. Dibentak sedikit langsung sakit hati, diomongin tetangga langsung baper, dikritik suami jadi emosi tingkat tinggi dan masih banyak lagi kekacauan yang bisa muncul jika seorang ibu sedang tidak baik-baik saja. Diakui atau tidak, tetapi tantangan IRT itu banyak sekali loh. Tanpa persiapan kita dituntut untuk bisa menjalani banyak profesi. Terkadang kita harus ...

Flamingo Era

Kakak-kakak yang lahir tahun 80 atau 90-an mungkin banyak yang sedang dalam fase ini. Setelah sekian tahun mengabdikan diri pada keluarga, suami dan anak-anak, sekaranglah saatnya kita menikmati masa-masa penuh warna yang pernah kita lewatkan. Uhuuui! Bukan berarti kemarin-kemarin sepenuhnya kita tidak bahagia ya, hanya saja ternyata melihat anak-anak tumbuh besar dan mandiri membuat kita merasa punya hak untuk (juga) menikmati waktu kita. Kebanyakan mamak-mamak generasi milenial sibuk menjalani perannya sampai lupa waktu hingga tidak mengambil jeda untuk me time . Berdasarkan pengalaman saya ungkapan me time itu saya dengar justru setelah anak-anak mulai bisa melepaskan ketergantungan pada emaknya. Mungkin saya yang terlalu memakai kacamata kuda sehingga melewatkan banyak hal selama menjalani hari sebagai seorang ibu, tetapi begitulah yang terjadi dengan saya. Jadi, balik lagi ke Flamingo Era saya termasuk yang sekarang sedang menikmati era kembalinya “warna pink” saya, dengan cara s...

Mengelola Beban, Memilah Masalah

  "It's not the load that breaks you down, it's the way you carry it." –Lou Holtz Sebuah pepatah yang ingin menyampaikan bahwa seberat apa pun berat beban yang kita bawa seharusnya tidak menjadi masalah jika kita tahu bagaimana cara membawanya. Kita mungkin sering merasa tak kuasa menahan beban, apa pun bentuknya beban yang berupa benda ataupun masalah yang membebani. Kalau dari pepatah tadi berarti jika kita merasa keberatan membawa suatu beban maka yang perlu diperbaiki adalah cara membawanya. Ada yang membawa benda dengan dipikul, dijinjing, dibopong, diangkat, digeser dan sebagainya. Dan perbedaan cara memindahkan benda atau penyelesaian masalah yang membebani itu tergantung dari besar kecilnya benda, jenis benda dan lain-lain. Memang benar jika ada pepatah yang mengatakan semua butuh ilmu, kehidupan di dunia membutuhkan ilmu kehidupan di akhirat pun juga sama membutuhkan ilmu agar bisa selamat melewatinya. Sama seperti menyiasati setiap beban yang kita tanggung...

Lakukan Saja Semampumu

 “Do what you can, with what you have, where you are.”—Theodore Roosevelt Saya teringat apa yang telah disampaikan oleh Gus Baha. Pada suatu kali beliau pernah ditanya oleh salah seorang jamaah pengajiannya. Orang itu bertanya tentang peran sekolah atau Lembaga Pendidikan tertentu yang seolah-olah menjadi jaminan jika seseorang bersekolah di sekolah itu maka akan menjadi sukses. Sebagai ulama ahli ilmu hakikat tentu Gus Baha menjawab pertanyaan tadi lewat ilmu hakikat. Menurut beliau hal tersebut tidak bisa dijadikan jaminan. Di mana pun tempat seseorang itu belajar atau sekolah tidak lantas serta merta menjadikan orang itu pintar lalu berakhir pada keberhasilan hidup. Pada kenyataannya yang biasanya ditampilkan dan terkenal itu yang memang yang sukses, sedangkan yang prestasinya biasa-biasa saja atau bahkan cenderung kurang atau tidak pintar maka tentu tidak akan dikenal masyarakat luas. Lalu bagaimana menyikapi hal tersebut, ketika seseorang sudah bersekolah di sekolah yang sanga...

Membaikkan Waktu

‘’Time is what we want most and what we use worst.” –William Penn. Sebuah kalimat bijak yang sering muncul untuk mempertegas bahwa waktu yang sangat berharga itu seringkali malah kita sepelekan dalam penggunaannya. Jika kita mau merenungi, semua orang memiliki waktu yang sama yaitu 24 jam setiap harinya. Tetapi tidak semua orang bisa tepat mempergunakan waktunya. Tentu kita sering mendengar banyak orang yang mengeluh “tidak mempunyai waktu” saat dihadapkan pada suatu kondisi. Bahkan kalimat itu yang akan sering kita dengar untuk sebuah pembenaran akan suatu kelalaian atau kesalahan atau hal-hal buruk lainnya yang menyangkut penggunaan waktu. Padahal kalau kita mau jujur tentang penggunaan waktu kita tentu kita akan malu sendiri karena sejatinya kita sendirilah yang tidak memanfaatkan waktu tersebut. Bukan salah waktu tetapi salah kita sendiri, karena toh waktu selalu sama dari dulu sampai sekarang, lalu mengapa ada yang masuk kategori tidak bermasalah dengan waktu dan ada yang selalu...