Today is Wednesday. I am so happy because I can go jogging. I am not sure when I realized that I really like doing sports, especially walking or jogging. A long time ago, I sometimes did sports. But my life changed when the babies came. I was happy, of course. I enjoyed the time I spent with my children. But somehow, I also forgot a few things I used to like. Time flies, they have grown well. Now they are teenagers. Like any typical teenager, they have their own life. They became quieter. I know that they aren’t kids who are talkative, but the differences made me confused. Sometimes I feel they don’t need my attendance anymore. At the first time I realized it, I felt upset. I wasn’t ready to “lose” them so soon. I just want to do everything with them like what we did. But, I know it is ridiculous. I can not be so selfish and ignore the fact that they also need more space to be someone stronger and better. So, I decided to accept the reality and move on. What I do then? Of c...
Sudah sejak lama saya tertarik dengan buku-buku nonfiksi. Lebih khusus lagi adalah buku-buku yang membahas tentang proses pengembangan diri, mencintai diri sendiri dan berbagai petunjuk mencapai ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Ya, semua orang di dunia ini juga pasti ingin bermuara pada kebahagiaan, kan? Dari sekian banyak buku yang membagikan petunjuk kebahagiaan, salah satunya adalah buku Ajaran Bahagia dari Jawa. Buku ini sudah masuk radar saya karena sejak awal tahun berseliweran di beranda media sosial. Awalnya saya masih ragu untuk membelinya, dengan berbagai alasan yang menyertai. Ya, in this economy kadang membuat saya berpikir ulang untuk menambah koleksi buku. Walaupun pada akhirnya saya tetap berhasil memiliki buku ini di sebuah pameran buku di tempat tinggal saya, Jogja. Tentu saja saya membeli buku ini bukan hanya karena sentiment kedaerahan, karena penulisnya berasal dari daerah yang sama dengan saya. Kendatipun demikian, tetap tidak bisa dipungkiri sebagai ...