Pernah gak merasa menyesal setelah menceritakan sesuatu mengenai diri kita kepada orang lain? Kalau saya sering merasa begitu. Sebenarnya saya lebih nyaman sendiri, meskipun begitu saya juga bukan orang yang sama sekali tidak mau bergaul dengan orang lain. Karena semakin bertambahnya umur tentu ada tuntutan untuk bisa berbasa-basi, kan? Nah, saat kehabisan bahan obrolan saya justru sering terjebak pada suatu kondisi di mana saya lebih banyak bercerita. Rasanya kok canggung gitu, kalau dalam suatu kondisi yang mengharuskan kita berada dalam suatu obrolan dan tiba-tiba hening. Hingga kadang karena bingung mau ngomong apa lagi, saya malah banyak membuka hal-hal yang sepertinya tidak pas untuk diceritakan. Dan ini biasanya baru saya sadari di perjalanan pulang atau ketika sampai rumah. Saya sering mengingat kembali apa saja yang telah saya obrolkan atau lakukan. Hal itu demi memastikan yang saya lakukan tidak menyinggung orang yang diajak bicara. Dari situ kadang jadi ada perasaan ...
Sebut saja namanya Rani dan Dewi. Keduanya adalah teman yang sangat akrab. Sebagai perempuan yang sudah berkeluarga dan rentang usia yang hampir sama membuat pertemanan mereka lebih mudah terbentuk. Apalagi jarak rumah diantara kedua ibu muda itu tidak terlalu jauh, sehingga mereka cukup sering bertemu. Seperti umumnya sahabat dekat, mereka kerap bertukar cerita untuk sekedar membuang penat atau memang ingin mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Kadang Rani yang sibuk bercerita, tak jarang pula Dewi yang mencurahkan perasaannya, berharap mendapatkan sedikit rasa lega setelah menumpahkan uneg-unegnya. Memang lebih sering Dewi yang mencurahkan banyak kisah hidup dibandingkan Rani, tetapi mereka tetap bisa nyambung. Tidak seperti biasanya, pagi ini Dewi menelpon Rani. Dari seberang suara Dewi terdengar diantara deru suara knalpot. Menelpon dengan diawali kalimat yang sudah sangat dihapal Rani. “Ran, aku mau cerita banyak kali ini jadi kamu jangan bosan.” Rani mengehntikan aktivit...