Di jaman yang dipenuhi dengan produk digital dan video pendek ini, kadang saya bingung bagaimana caranya mengembalikan anak-anak kita pada kesukaan membaca. Saya memperhatikan sekitar saya, dan menemukan bahwa semakin sedikit anak kecil dan anak muda yang masih berminat dengan membaca. Mereka lebih tertarik dengan video pendek dan tulisan pendek yang setiap hari mereka konsumsi di medsos. Bahkan kita yang belum lama kenalan dengan medsos saja langsung jatuh cinta dengan hiburan di medsos, apalagi anak-anak kita yang sejak lahir sudah dimanjakan oleh teknologi tersebut. Bagaimana pun juga, anak-anak harus kenal dan tetap suka dengan kegiatan membaca. Karena kalau mereka hanya menjadi konsumen medsos setiap hari, kemungkinan besar mereka akan kehilangan kemampuan berpikir dan berkonsentrasi dalam jangka waktu lama. Di tengah kebingungan tersebut, saya mendapatkan banyak pencerahan dari beberapa artikel. Kebetulan artikel tersebut berbahasa Inggris, tetapi isinya membuat saya seol...
Di usia yang sudah medium well ini, tentu kita sudah makan asam garam kehidupan, kan Mak? Hehehe. Gakpapa, jangan sedih karena dengan begitu kita jadi tambah ngerti bahwa hidup ini ya memang begini. Kadang menyebalkan, kadang juga pasti kita merasakan bahagia. Semua hanya sementara. Sebagai seorang perempuan yang juga sudah cukup lama malang melintang di dunia penuh misteri ini, saya juga sudah mencicipi pahit manis kehidupan. It's Ok ! Semua juga ngalami hal yang serupa, hanya mungkin bentuk soalnya saja yang berbeda. Ada yang diuji dengan orang tuanya, ada yang diminta sabar dari sisi ekonomi, ada yang harus berjuang untuk sehat dan banyak lagi kasus-kasus lainnya. Makanya saya sering sebel kalau ada yang bilang, lebih tepatnya menyangsikan dan mengucapkan kalimat nyeleneh: " Mosok orang kayak kamu gini sedih, sih?" Aduh...kalimat seperti itu kenapa harus keluar, sih? Lah emang ada makhluk di dunia ini yang tidak pernah sedih? Emang ada ya, manusia yang bebas...