Sebagai orang yang sedang merintis di dunia penulisan kadang suka merasa bingung dalam membagi waktu. Jika dalam pelatihan menulis kita sering disuguhi pakem mutlak untuk seorang penulis yaitu terus saja menulis.Tuliskan saja sebisanya, semampunya, jelek tidak apa-apa. Yang penting nulis terus setiap hari. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Memang untuk bisa menguasai suatu bidang kita harus terus melatihnya setiap hari dalam kurun waktu yang sangat panjang, saya kira. Tetapi yang sering luput dari semua itu adalah lalu kapan tumpukan tulisan itu menjadi lebih bermakna dan bisa memberi efek positif tidak hanya untuk penulisnya tetapi juga untuk orang lain. Bukankah salah satu impian orang yang sedang menekuni dunia literasi, khususnya penulisan, adalah karyanya dibaca orang lain. Tetapi jangankan dibaca orang lain, tulisan kita yang masih dalam bentuk tidak jelas itu juga pasti membuat kesulitan kita, penulisnya sendiri dalam memahami maksudnya. Ini pengalaman saya pribadi sih. ...
Masih lekat diingatan saya, bagaimana rasanya bisa mendengarkan langsung nasihat, pelajaran dan gambaran perjalanan panjang seorang sastrawan, penulis yang cerpen-cerpennya sudah banyak mengisi kolom surat kabar dan media lainnya. Saya termasuk pembaca pemula dalam membaca karya beliau. Jadi selain baru baru dalam dunia menulis, saya juga belum banyak membaca karya beliau. Cerita beliau yang menurut saya agak berat dicerna oleh otak saya, sering membuat saya mengurungkan niat untuk mencari karya beliau. Satu cerpen yang saya baca, berjudul Pelajaran Mengarang, dan telah membuat saya takjub. Ya, beberapa hari lalu saya bisa langsung melihat wajah dan mendengarkan suara beliau, Pak Seno Gumira Ajidarma, meskipun masih lewat perantara media zoom meeting . Perasaan saya tentu saja campur aduk karena ini baru pertama kali bisa ikut dalam kelas menulis beliau, sehingga saya hanya bisa menyimak sambil terus manggut-manggut. Beliau tampak seperti seorang seniman sastra yang bisa saya d...