Sudah sejak lama saya tertarik dengan buku-buku nonfiksi. Lebih khusus lagi adalah buku-buku yang membahas tentang proses pengembangan diri, mencintai diri sendiri dan berbagai petunjuk mencapai ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Ya, semua orang di dunia ini juga pasti ingin bermuara pada kebahagiaan, kan? Dari sekian banyak buku yang membagikan petunjuk kebahagiaan, salah satunya adalah buku Ajaran Bahagia dari Jawa. Buku ini sudah masuk radar saya karena sejak awal tahun berseliweran di beranda media sosial. Awalnya saya masih ragu untuk membelinya, dengan berbagai alasan yang menyertai. Ya, in this economy kadang membuat saya berpikir ulang untuk menambah koleksi buku. Walaupun pada akhirnya saya tetap berhasil memiliki buku ini di sebuah pameran buku di tempat tinggal saya, Jogja. Tentu saja saya membeli buku ini bukan hanya karena sentiment kedaerahan, karena penulisnya berasal dari daerah yang sama dengan saya. Kendatipun demikian, tetap tidak bisa dipungkiri sebagai ...
Seorang kerabat menelpon saya, menceritakan banyak hal. Sebagian besar yang diceritakan sudah sangat saya hapal di luar kepala. Ya, karena saya adalah tempatnya berbagi cerita. Entah, kepada siapa lagi dia membagikan beban hidupnya, saya tidak tahu pasti. Yang jelas saya selalu berusaha mendengarkan keluh kesahnya. Bukan tanpa alasan saya masih mau menyimak cerita yang sama berulang kali. Hal itu karena saya tidak mau (lagi) kehilangan seseorang yang sedang berusaha menjadi “manusia”. Saya tidak pernah membayangkan menjadi dewasa ternyata bisa mengubah tabiat seseorang. Dari yang dulunya penuh perhatian, menjadi manusia yang apatis, tidak peduli. Dari yang melakukan perbuatan baik semampu mereka, menjadi membatasi dan menghitung untung rugi. Dari yang sering membagikan senyum hangat menjadi sosok yang dingin, seolah menunjukkan wajah kaku adalah caranya berkata “Aku lelah jadi baik, lelah selalu mengerti, lelah karena selalu mengalah.” Pada awal melihat perubahan tersebut jujur say...