Di jaman yang dipenuhi dengan produk digital dan video pendek
ini, kadang saya bingung bagaimana caranya mengembalikan anak-anak kita pada
kesukaan membaca. Saya memperhatikan sekitar saya, dan menemukan bahwa semakin
sedikit anak kecil dan anak muda yang masih berminat dengan membaca. Mereka
lebih tertarik dengan video pendek dan tulisan pendek yang setiap hari mereka
konsumsi di medsos. Bahkan kita yang belum lama kenalan dengan medsos saja
langsung jatuh cinta dengan hiburan di medsos, apalagi anak-anak kita yang
sejak lahir sudah dimanjakan oleh teknologi tersebut.
Bagaimana pun juga, anak-anak harus kenal dan tetap suka
dengan kegiatan membaca. Karena kalau mereka hanya menjadi konsumen medsos
setiap hari, kemungkinan besar mereka akan kehilangan kemampuan berpikir dan
berkonsentrasi dalam jangka waktu lama. Di tengah kebingungan tersebut, saya
mendapatkan banyak pencerahan dari beberapa artikel. Kebetulan artikel tersebut
berbahasa Inggris, tetapi isinya membuat saya seolah mendapatkan jalan keluar.
Dalam artikel tersebut dijelaskan beberapa hal yang harus dilakukan untuk
menumbuhkan minat baca pada anak.
1.
Beri mereka bacaan sesuai minat
mereka
Hmm, saya ada pengalaman menarik
mengenai hal ini. Ketika masih gadis *uhuk, saat sedang di sebuah toko buku, seorang
ayah masuk dengan ketiga anaknya. Usia anak-anak itu kurang lebih 6 sampai 12
tahun. Mereka adalah anak-anak yang cukup aktif. Ketiga kakak beradik itu terlihat
antusias saat melewati buku-buku dongeng, buku cerita anak dan buku-buku yang
memang untuk anak-anak seusianya. Mereka merengek pada ayahnya untuk dibelikan
buku-buku tersebut. Lalu saya mendengar sebuah kalimat yang keluar dari mulut
ayahnya:
“Jangan baca buku cerita saja, itu
ada buku pengetahuan tentang luar angkasa ambil sana. Ayah belikan yang itu.” Wajah
anak-anak kecil yang awalnya cerah ceria itu berubah kebingungan.
Saya yang mendengar hal itu refleks melihat
buku luar angkasa yang dimaksud sang ayah. Buku itu tebal, jauh lebih tebal
daripada buku cerita yang dipegang anaknya. Bahkan mungkin sama tebalnya dengan
buku novel karya Tere Liye yang ditenteng oleh anak paling besar.
Saya nyengir sendiri. Hehehe. Karena
saya bisa membayangkan buku mana yang langsung dilahap dengan mata
berbinar-binar dan buku yang mana yang membuat mereka enggan. Yups, buku pengetahuan
angkasa luar memang bagus, teramat bagus malahan, tetapi untuk anak-anak tadi,
buku yang terlihat bagus tadi akan menjadi beban bagi mereka. Mereka adalah
anak kecil yang sedang belajar jatuh cinta pada membaca, yang kemungkinan besar
justru akan kehilangan minat pada bacaan jika dipaksa menelan tulisan mengenai
bidang yang tidak mereka sukai.
2.
Biasakan sejak kecil membacakan
cerita atau membaca buku dengan suara yang keras
Jika diantara teman-teman ada yang
masa kecilnya sering dibacakan dongeng oleh orang tua atau kakek neneknya, maka
selamat kalian telah menjalani masa kecil yang indah. Kalau pun masa kecil kita
tidak pernah merasakan kenikmatan itu, sekarang saatnya kita memberikan untuk
anak-anak kita. Mulai membaca buku-buku dongeng yang bisa kita beli atau pinjam
dari perpustakaan terdekat. Atau kalau mampu, buatlah cerita sendiri dan
kisahkan pada anak-anak kalian.
3.
Ada waktu khusus untuk satu keluarga
membaca bersama-sama
Pingin pesimis, tapi itu bukan saya.
Hehehe. Ah, kadang keinginan memang tidak sesuai dengan kenyataan. Banyak dari
kita yang sebenarnya ingin lebih pintar, ingin agar anak-anak tumbuh dengan
lebih berwawasan tapi berhenti di ingin saja. Kalau keinginan sih, saya juga mau,
Mak. Duduk diam saja, gak perlu usaha yang gimana-gimana tau-tau dapat
anak-anak yang cerdas, tangkas dan membanggakan. Akan tetapi hal itu gak bisa
kalau tidak diusahakan. Jadi, kapan kita beri waktu sejenak untuk sama-sama
membaca? Kalau perlu kita bisa diskusi bareng tentang bacaan kita
masing-masing. Ah, semoga bukan mimpi yang terlalu tinggi.
4.
Menggunakan pendekatan teknologi
Anak-anak jaman sekarang sudah kadung
mengenal dan menyukai video singkat yang mereka temui setiap hari. Kita tidak
bisa langsung cut off. Bayangkan saja, tanpa ba-bi-bu kita langsung
mengambil ponsel pintar yang selama ini jadi teman yang selalu menghibur mereka.
Bisa-bisa mereka malah memusuhi kita, Mak. Nah, kita ambil jalan tengah saja.
Kita tetap membiarkan mereka dekat-dekat dengan ponsel yang sudah terlanjur
jadi benda kesayangan mereka, tetapi kita ubah sedikit peruntukkannya. Kita
bisa menggunakan ponsel pintar itu untuk membaca dengan pendekatan teknologi
seperti audiobooks, membaca di layar gadget melalui ebook,melihat
tayangan yang merupakan adaptasi sebuah cerita di buku dll.
5.
Orang tua juga mencontohkan bahwa
mereka suka membaca, bukan malah setiap hari sibuk dengan gadgetnya
Hayooo, siapa yang di rumah masih ada
kegiatan baca buku dibandingkan scroll medsos? Hehehe. Kalau masih banyak
scroll medsos-nya mending mulai sekarang kita kurangi, yuk. Katanya kita ingin
agar anak-anak minat membaca, kan? Jalan satu-satunya ya, kita harus
mencontohkannya terlebih dahulu. Bukan malah sebaliknya, kita hanya
perintah-perintah supaya anak-anak mau membaca, eeehh kitanya sibuk dengan ponsel
setiap harinya. Jangan ya, Mak. No, no, no!
6.
Biarkan anak-anak membaca semua
genre yang mereka mau
Sedikit refleksi, dulu waktu saya beranjak
remaja, saya termasuk anak yang dilarang membaca buku di luar buku pelajaran sekolah.
Sebagai contoh, orang tua melarang saya membaca novel remaja yang hits pada
masa itu, Lupus. Saya tidak menyalahkan mereka, karena mereka pasti punya
pertimbangan untuk melakukan hal tersebut. Pada saat itu saya nurut saja,
hasilnya sampai setua ini saya belum pernah membaca Lupus sampai tamat. Hiks. Jadi
saya sempat berhenti menyukai buku karena kesukaan saya tidak direstui orang
tua. Kenangan membaca terindah justru ketika saya masih SD, karena masa itu
saya masih boleh membaca majalah Bobo. Dan sepertinya saya adalah satu-satunya
anak yang mempunyai koleksi majalah Bobo paling banyak di lingkungan saya.
Hehehe.
Nah, untuk terus menjaga minat baca
pada anak-anak, sebaiknya jangan membatasi mereka pada bacaan yang berisi pengetahuan
(menurut orang tua) saja. Beberapa orang tua tampak khawatir atau tidak suka
jika anaknya membaca buku yang sifatnya hiburan. Sebagian orang tua tersebut
hanya ingin melihat anak-anak mereka membaca buku yang terkait pendidikan. Hal
tersebut justru akan memberangus minat baca mereka. Apapun jenis buku yang
anak-anak baca, itu jelas lebih baik daripada mereka tidak jadi membaca karena
dipaksa membaca buku yang mereka tidak suka.
Dari beberapa poin di atas sangat mungkin untuk kita
praktikkan, kecuali memang keinginan kita tentang masa depan anak ternyata
tidak sebesar itu. Entahlah, semoga semangat yang digaungkan bahwa Indonesia sedang
menuju masa keemasannya bukan sekedar mimpi di siang bolong. Semangat, Mak!
Komentar
Posting Komentar