Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2023

Tidak Ada Jalan Menjadi Sukses, kecuali...

 “Success is no accident. It is hard work, perseverance, learning, studying, sacrifice and most of all, love of what you are doing or learning to do”—Pele   Kalimat di atas dapat diartikan yaitu “Kesuksesan bukanlah suatu kebetulan. Di situ berisi kerja keras, ketekunan, pembelajaran, pengorbanan, dan yang paling penting, cinta terhadap apa yang Anda lakukan atau pelajari. “ Sekali lagi kita berbicara mengenai proses. Tidak ada yang instant untuk mencapai suatu tujuan. Langkah-demi langkah yang mungkin setapak demi setapak itu harus dijalani. Semua orang hebat mengatakan hal yang sama. Karena memang itulah jalan satu-satunya dalam meraih kesuksesan atau mencapai suatu tujuan. Jika dilihat dari setapak demi setapak dan langkah demi langkah tadi, hal tersebut sudah menunjukkan kata kunci yang wajib dilakukan seseorang yang ingin mencapai kesuksesan, di bidang apa pun, yaitu Repetisi atau pengulangan. Ya, kata itu sebuah perwujudan dari sebuah ketekunan, ketangguhan dan k...

Bergeraklah dan Berlimpahlah Berkah

 “Bekerja bukan hanya tentang menghasilkan uang, tetapi juga tentang menciptakan nilai dan meninggalkan jejak.”—Tony Hsieh   Sebagai seorang ibu rumah tangga yang tidak bekerja sebagai wania karier tentu sudah biasa dengan anggapan orang lain yang seolah mengkerdilkan peran kita. Sudah banyak sekali perang di sosial media mengenai peran ibu rumah tangga dan Wanita karier ini. Meski kadang hal tersebut tidak kami pedulikan, tetapi kami tidak bisa berbohong bahwa jika hal tersebut berlaku berulang-ulang tentu cukup membuat sakit kepala hingga hati hehehe. Sudah capek-capek mengerjakan pekerjaan rumah yang tidak ada matinya, ini malahan orang dengan seenaknya menghakimi kami sebagai orang yang kurang berguna. Anggapan itu sering muncul karena posisi ibu rumah tangga yang tidak bisa menghasilkan uang. Yah, meski harus disadari sekarang ini sudah banyak sekali ibu rumah tangga yang jago mencari cuan. Saya saja kagum melihat mereka. Kita bayangkan saja, bangun pagi mereka suda...

A Great Marriage

 “A Great marriage is not when the ‘perfect couple’ comes together. It is when an imperfect couple learns to enjoy their differences.”—Dave Meurer   Kalimat di atas sedikit saya coba artikan, yaitu pernikahan yang hebat bukanlah pernikahan yang dilakukan oleh orang-orang yang sempurna, tetapi pernikahan hebat adalah pernikahan di mana isinya orang-orang yang tidak sempurna yang belajar menikmati perbedaan. Pernah mendengar sebuah nasihat bahwa pernikahan adalah ibadah seumur hidup? Ya, bagi yang telah menjalani kehidupan berumah tangga tentu paham dengan kalimat bijak tersebut. Menjalani sebuah pernikahan tentu tidaklah semudah dan seindah bayangan. Ada banyak sekali rintangan, ujian dan bahkan mungkin kekacauan yang terjadi di dalamnya. Ada masa di dalam pernikahan itu terasa sangat berat dan hampir menyerah. Tak jarang malah merutuki diri, betapa bodohnya memilih dia sebagai pasangan hidup. Heheheh…tetapi itulah ujian pernikahan. Berbagai rasa tidak enak itu mau tidak ...

Kaya karena Membaca

  “Rich people have small TVs and big libraries, and poor people have small libraries and big TVs.”—Zig Ziglar   Hmmm, menarik kan kalimat di atas ? Dari kalimat di atas kita jadi berpikir memang sudah jadi hal yang lumrah jika sesorang banyak membaca itu akan mudah menjadi kaya. Ataukah memang itu yang terjadi dan sudah diteliti ? Jika memang benar, maka sudah pasti bahwa kebiasaan membaca ini tidak boleh hilang. Jika tingkat literasi bangsa kita masih rendah maka bisa ditebak seberapa kaya bangsa kita ini. Dan saya semakin yakin untuk selalu menularkan kesenangan membaca kepada anak-anak saya. Awalnya yang saya inginkan adalah mereka tumbuh menjadi anak yang tidak pernah kesepian. Karena menurut pengalaman saya, saya termasuk orang yang jarang atau malah mungkin tidak pernah kesepian di sepanjang hidup saya. Banyak hal yang membantu saya menikmati sepi, disamping memang saya adalah orang yang tidak terlalu suka dengan keramaian dan kehebohan. Saya termasuk ya...

Hari ini ngapain aja?

Hari ini ditelpon anak kedua. Percakapan mengalir seperti biasa. Kami adalah ibu dan anak yang berusaha untuk berbagi cerita, terutama saya. Karena saya ingin agar anak-anak juga begitu terus nantinya. Diantara isi percakapan itu adalah pertanyaan "Umi sedang apa? Umi habis melakukan apa? "Umi akan melakukan apa?" Atau gantian saya juga akan bertanya hal yang sama "Hari ini kamu ngapain aja?, Kegiatan hari ini atau nanti apa?" Lalu ada jawaban yang tidak memuaskan saya. Jawaban itu adalah "Gak ngapa-ngapain." Jawaban yang sederhana tapi tidak akan menjadi sederhana jika diteruskan begitu saja.  "Gak ngapa-ngapain itu maksudnya apa? Definisi dari gak ngapa-ngapain itu apa? Umi kok gak ngerti ya kenapa ada orang yang gak ngapa-ngapain?" Rentetan pertanyaan itu lebih berkesan protes dan tidak suka dengan jawabannya. Ya, memang benar saya tidak menyukai jawaban itu. Bukan karena semata-mata dijawab demikian tetapi lebih karena jika dibiarkan itu...

Sebuah Proses Tanpa Protes

“The secret of your future is hidden in your daily routine.”-Mike Murdock Pernah dengar juga bahwa kebiasaan atau habit akan membentuk karakter seseorang. Dan karakter seseorang itu juga otomatis akan berpengaruh besar pada masa depan orang tersebut. Sama seperti kalimat bijak di atas, dan banyak nasihat betapa pentingnya kebiasaan mempengaruhi masa depan seseorang. Kebiasaan kecil asalkan itu baik tentu secara sunatullah akan berakhir menjadi tumpukan kebaikan juga. Sebaliknya, kebiasaan buruk pun akan berakhir menjadi Kumpulan keburukan. Misal kebiasaan berolahraga setiap hari atau minimal 5 kali seminggu, kebiasaan makan makanan yang sehat, minum minuman yang bermanfaat untuk tubuh. Maka tumpukan kebaikan itu akan menghasilkan manfaat untuk tubuh. Sebaliknya, kebiasaan makan tinggi kalori, tinggi lemak jahat, kebiasaan mager (malas gerak), malas berolah raga maka hasil akhirnya bisa ditebak, cepat atau lambat kondisi tubuhnya akan memberikan sinyal yang buruk, pertanda bahwa kebiasa...

Gerak Aja Terus

 “Lebih baik bertempur dan kalah daripada tidak pernah bertempur sama sekali. ” -Arthur Hugh Clough Kalimat bijak di atas mengingatkan kita untuk tidak takut mencoba. Jika nantinya gagal maka bukan masalah yang harus disesali. Gagal karena pernah mencoba tentu lebih baik, daripada tidak pernah tau rasanya gagal karena tidak pernah mencoba. Jadi mungkin maksudnya jika kita punya mimpi atau cita-cita segera lakukan aksi untuk mewujudkannya. Lakukan apa saja yang bisa mendekatkan kita dalam mewujudkan mimpi itu. Mimpi atau cita-cita jika masih dalam angan-angan dan rencana menjadi tidak ada gunanya. “Write it. Shoot it. Publish it. Saute it. Whatever. MAKE.” -Joss Whedon “Gak usah banyak mimpi, gerak aja terus.”-Mal Jupri Dari dua kalimat bijak tadi semakin menekankan bahwa sudah cukup kamu berminpi, sekarang saat untuk menggapainya. Jika kamu bercita-cita menjadi penulis, maka langkah yang harus ditempuh adalah lebih banyak membaca dan menjadikan menulis menjadi kebiasaa...

Terimakasih untuk berkata Tidak

  “I am thankful for all of those who said NO to me. It’s because of them I’m doing it myself.” -Wayne W. Dyer Sebuah kalimat bijak di atas mengutarakan rasa terima kasih kepada siapa saja yang menolak membantunya atau memberikan penolakan terhadapnya. Tanpa disadari sering juga kita mengalami hal serupa. Saat kita membutuhkan bantuan oang lain, ee..dengan entengnya orang tersebut mengatakan tidak mau membantu dengan bermacam alasan. Kecewa, marah dan sedih karena merasa disaat kita membutuhkan bantuan ternyata tidak ada yang mau menolong kita. Bahkan orang terdekat juga mungkin enggan mengulurkan tangannya untuk kita. Ternyata meski hal tersebut pahit dan mengecewakan tetapi jika kita bisa menyikapi dari sisi yang berbeda akan terasa nikmatnya. Seperti yang tertulis di awal tadi, bahwa penolakan pemberian bantuan memaksa kita mengerjakan segala sesuatu sendiri. Jika awalnya dirasa sulit atau bahkan tidak mungkin, maka setelah memaksakan diri akhirnya bisa selesai juga. Sehingg...

Berbiasalah

 Pernahkah merasa diri seakan mau tumbang? Digempur dari berbagai arah… Sedang berusaha menangkis satu lawan Tiba-tiba dari arah lain lawan datang menyerang Lalu tak perlu menunggu lama lawan yang entah datang dari mana tiba-tiba menancapkan bilahnya Lalu oleng Sedikit robek di lengan Lalu pukulan menusuk ke perut Kepala digempur Bahkan ulu hati terasa ngilu Tapi bukankah yang lain juga sama? Mereka juga sedang sibuk menangkis gempuran yang hampir serupa Merasa terlalu lelah dan hampir menyerah Berusaha bangkit menyerang tak mau kalah Jadi jangan merasa terlalu terluka Nikmati saja nyeri di setiap luka itu Berlalunya waktu akan meninggalkan bekas atau mungkin masih tersisa linu Tapi biarlah Begitulah usiamu akan terlewati Sebenarnya dari dulu segala gempuran itu hadir Mungkin kau hanya lupa Sejak kecil juga pasti kau sudah sering merasakan jatuh dan terluka Jadi biasa saja Tak ada yang istimewa dari lukamu yang sekarang

Sekali Lagi

  Tuhan… Aku ingin menangis Dadaku sakit, kepalaku berisik Ragaku sedang tak mau diusik Tuhan… Sekarang aku sudah menangis Dadaku semakin sakit Air mataku seperti menekan Tak mau berhenti Tuhan… Jangan marahi aku karena tangisku Rengekku dan rajukku Karena dunia tak menerima tangisanku Mereka meledek ratapanku Tuhan… Aku hanya mencari kekuatan Meluapkan semua kekecewaan Berusaha membuang kekacauan Tuhan… Ijinkan ku menangis, Sekali lagi..