Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Bagaimana Menumbuhkan (Kembali) Minat Baca pada Anak-anak Kita?

  Di jaman yang dipenuhi dengan produk digital dan video pendek ini, kadang saya bingung bagaimana caranya mengembalikan anak-anak kita pada kesukaan membaca. Saya memperhatikan sekitar saya, dan menemukan bahwa semakin sedikit anak kecil dan anak muda yang masih berminat dengan membaca. Mereka lebih tertarik dengan video pendek dan tulisan pendek yang setiap hari mereka konsumsi di medsos. Bahkan kita yang belum lama kenalan dengan medsos saja langsung jatuh cinta dengan hiburan di medsos, apalagi anak-anak kita yang sejak lahir sudah dimanjakan oleh teknologi tersebut. Bagaimana pun juga, anak-anak harus kenal dan tetap suka dengan kegiatan membaca. Karena kalau mereka hanya menjadi konsumen medsos setiap hari, kemungkinan besar mereka akan kehilangan kemampuan berpikir dan berkonsentrasi dalam jangka waktu lama. Di tengah kebingungan tersebut, saya mendapatkan banyak pencerahan dari beberapa artikel. Kebetulan artikel tersebut berbahasa Inggris, tetapi isinya membuat saya seol...

Boleh Rapuh, Asal Tidak Jatuh

Di usia yang sudah  medium well  ini, tentu kita sudah makan asam garam kehidupan, kan Mak? Hehehe. Gakpapa, jangan sedih karena dengan begitu kita jadi tambah ngerti bahwa hidup ini ya memang begini. Kadang menyebalkan, kadang juga pasti kita merasakan bahagia. Semua hanya sementara. Sebagai seorang perempuan yang juga sudah cukup lama malang melintang di dunia penuh misteri ini, saya juga sudah mencicipi pahit manis kehidupan. It's Ok ! Semua juga ngalami hal yang serupa, hanya mungkin bentuk soalnya saja yang berbeda. Ada yang diuji dengan orang tuanya, ada yang diminta sabar dari sisi ekonomi, ada yang harus berjuang untuk sehat dan banyak lagi kasus-kasus lainnya. Makanya saya sering sebel kalau ada yang bilang, lebih tepatnya menyangsikan dan mengucapkan kalimat nyeleneh: " Mosok orang kayak kamu gini sedih, sih?" Aduh...kalimat seperti itu kenapa harus keluar, sih? Lah emang ada makhluk di dunia ini yang tidak pernah sedih? Emang ada ya, manusia yang bebas...

Hati-hati dengan Kalimat yang Keluar dari Mulutmu, Bu

  Entah kenapa tiba-tiba saya teringat kenangan masa lalu. Kala itu saya masih kanak-kanak. Sebagai anak kecil pada umumnya, saya juga kerap bermain ke rumah teman. Bahkan kadang tidak hanya berhenti di satu rumah saja, karena justru kami akan menghampiri lebih banyak teman  lain lalu bermain bersama-sama. Sungguh masa kecil yang menyenangkan. Sayangnya, di balik semua kenangan manis tersebut, saya justru masih menyimpan kenangan tidak mengenakkan. Kejadian tidak mengenakkan itu bukan tentang saya, tetapi tentang keluarga teman saya. Sebut saja teman saya itu namanya Bunga. Bunga adalah anak sulung dan hanya mempunyai seorang adik laki-laki. Kedua orang tuanya adalah pemilik warung kelontong. Pada saat itu saya cukup sering main ke rumah Bunga karena jaraknya cukup dekat dengan rumah saya. Kami biasanya bermain di ruang tengah yang kebetulan memanjang dan jadi satu dengan warungnya. Saat sedang bermain bersama tersebut kami sering melihat adik Bunga membuka laci dan mengam...

Mereka Bilang Membaca hanya untuk Orang Pintar, Bagiku Membaca adalah Kebutuhan Semua Orang

“ Read, read, read. Read everything—trash, classics, good and bad, and see how they do it. Just like a carpenter who works as an apprentice and studies the master. Read! You’ll absorb it. Then write. If it’s good, you’ll find out. If it’s not, throw it out of the window.’’ –William Faulkner Membaca kutipan di atas membuat siapa pun, khususnya untuk yang memang hobi membaca, akan setuju. Apalagi setelah mengetahui manfaat yang diperoleh, pasti akan semakin semangat membaca. Namun begitu, di sekeliling kita ternyata masih banyak yang anti dengan kegiatan yang sebenarnya tidak asing tersebut. Sejak kecil kita selalu diberikan penjelasan mengenai pentingnya membaca. Bahkan sebelum mulai bersekolah kita sudah dikenalkan dengan aktivitas tersebut, tetapi mengapa tidak lantas membuat kita jadi suka membaca? Sejujurnya saya sempat menjadi orang yang setelah selesai sekolah, selesai pula membacanya. Setelah saya coba kilas balik, salah satu pemicunya karena semasa sekolah dulu saya harus m...

Mengingat Isi Buku "Learning How To Learn"

Buku "Learning How to Learn" ditulis oleh tiga orang penulis dan peneliti yaitu Barbara Oakley, PH.D., Terry Sejnowski, PH.D., dan Alistair Mcconville yang diterjemahkan oleh Azizah Fitiryanti. Sebagai pendukung tulisan sehingga sangat membantu pembaca memahami maksud penulis, buku ini mencantumkan banyak ilustrasi yang dibuat oleh Oliver Young. Pada awalnya saya merasa ragu, apakah saya bisa selesai membaca buku ini atau tidak. Dilihat dari judulnya jelas membuat saya ingin segera meletakkan buku itu, urung membacanya. Apalagi anak saya bilang dia agak kesulitan memahami buku tersebut. Hmm, tapi bukan saya kalau tidak nekat dan malah tertarik ingin menaklukkan buku tersebut. Hehehe. Pada halaman awal-awal saya memang harus berkali-kali mengulang kalimat yang saya baca. Jujur saya juga harus membuka gelas pikiran saya agar kosong dan mau menerima informasi yang akan disampaikan melalui buku tersebut. Saya membuang jauh perasaan bahwa buku ini akan sulit dimengerti. Pertama-ta...

Sudah Tua, Kamu Mau Apa?

  “Kamu tidak pernah terlalu tua untuk menargetkan tujuan lain atau untuk mendambakan mimpi baru.’’ –C.S. Lewis Usia saya saat menulis ini sudah lebih dari 44 tahun. Sudah bukan usia yang bisa dibilang muda. Meskipun begitu entah mengapa, rasanya masih banyak mimpi dan cita-cita yang sempat terkubur eee...kok akhir-akhir ini mencoba mengusik ketenangan yang sudah diupayakan. Jika beberapa waktu lalu saya sempat merasa semua sudah terlambat, ternyata kalimat di atas telah membuat saya sedikit lebih bersemangat meraih mimpi-mimpi saya yang sempat tertindih oleh tanggung jawab yang musti dikedepankan. Apakah ada rasa sedih karena banyak melewatkan kesempatan? Tentu saja ada. Saya juga tidak ingin berpura-pura bahwa semua sudah baik-baik saja, sudah ideal karena memang tidak ada yang benar-benar ideal. Hanya saja, saya tidak menyesali semua pilihan yang saya ambil. Alasannya tentu saja karena semua yang sudah terjadi ya sudah memang harusnya begitu. Alasan lainnya yaitu beberapa mimp...

Untuk Penulis Pemula yang Sedang Berproses

  Sebagai orang yang sedang merintis di dunia penulisan kadang suka merasa bingung dalam membagi waktu. Jika dalam pelatihan menulis kita sering disuguhi pakem mutlak untuk seorang penulis yaitu terus saja menulis.Tuliskan saja sebisanya, semampunya, jelek tidak apa-apa. Yang penting nulis terus setiap hari. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Memang untuk bisa menguasai suatu bidang kita harus terus melatihnya setiap hari dalam kurun waktu yang sangat panjang, saya kira. Tetapi yang sering luput dari semua itu adalah lalu kapan tumpukan tulisan itu menjadi lebih bermakna dan bisa memberi efek positif tidak hanya untuk penulisnya tetapi juga untuk orang lain. Bukankah salah satu impian orang yang sedang menekuni dunia literasi, khususnya penulisan, adalah karyanya dibaca orang lain. Tetapi jangankan dibaca orang lain, tulisan kita yang masih dalam bentuk tidak jelas itu juga pasti membuat kesulitan kita, penulisnya sendiri dalam memahami maksudnya. Ini pengalaman saya pribadi sih. ...

Yuk, Membaca!

  Masih lekat diingatan saya, bagaimana rasanya bisa mendengarkan langsung nasihat, pelajaran dan gambaran perjalanan panjang seorang sastrawan, penulis yang cerpen-cerpennya sudah banyak mengisi kolom surat kabar dan media lainnya. Saya termasuk pembaca pemula dalam membaca karya beliau. Jadi selain baru baru dalam dunia menulis, saya juga belum banyak membaca karya beliau. Cerita beliau yang menurut saya agak berat dicerna oleh otak saya, sering membuat saya mengurungkan niat untuk mencari karya beliau. Satu cerpen yang saya baca, berjudul Pelajaran Mengarang, dan telah membuat saya takjub. Ya, beberapa hari lalu saya bisa langsung melihat wajah dan mendengarkan suara beliau, Pak Seno Gumira Ajidarma, meskipun masih lewat perantara media zoom meeting . Perasaan saya tentu saja campur aduk karena ini baru pertama kali bisa ikut dalam kelas menulis beliau, sehingga saya hanya bisa menyimak sambil terus manggut-manggut. Beliau tampak seperti seorang seniman sastra yang bisa saya d...

Keluar dari Penjara Ketakutan

  “Do one thing every day that scares you.” –Eleanor Roosevelt Nasihat yang sangat tepat untuk orang seperti saya. Ya, saya adalah orang dengan banyak ketakutan dan kekhawatiran. Entah apa penyebabnya, tetapi itulah yang sering saya alami. Jumlah ketakutan saya terhadap sesuatu mulai banyak berkurang justru setelah saya menikah dan bertemu dengan partner a.k.a suami. Ya, suami lah yang sering menjerumuskan diri saya untuk bertarung melawan ketakutan-ketakutan tersebut. Awalnya tentu saja saya melontarkan berbagai aksi penolakan, dari mulai merajuk gak penting sampai harus adu argumentasi yang lumayan alot. Ending -nya sangat bisa ditebak, siapa yang kalah dalam perdebatan itu. Ya, dalam hal ini saya lah yang sering kalah. Biasanya kan laki-laki yang selalu kalah, ah tapi saya kan tidak mau asal menang debat, semua harus masuk akal baru saya bisa terima. Nah, sayangnya semua yang disampaikan oleh suami selalu masuk akal. Jadi saya mengakui kesalahan dan kekalahan lalu mulai melawa...

Mengambil Jeda dengan Kesadaran

Saya lupa sejak kapan mulainya, tetapi saya baru menyadari sesuatu bahwa seiring bertambahnya umur dan semakin banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan, orang dewasa sering lupa untuk sekedar menghela napas panjang dengan sadar. Sejak bangun pagi rasanya tubuh dan pikiran bahkan mungkin hati dipaksa untuk bisa langsung ON. Kita lupa bahwa mengisi waktu dengan memberi jeda saja itu tidak apa-apa. Kadang karena tertimbun dalam banyak tugas bisa sampai membuat dada saya terasa sesak dan napas menjadi pendek-pendek. Hal tersebut membuat semua tugas terasa semakin berat. Sebagai ibu rumah tangga tentunya setiap hari memiliki banyak tugas dan tanggung jawab yang menunggu diselesaikan. Ketegangan yang kadang timbul dalam menjalani aktivitas memang lumrah terjadi, tetapi kalau tidak disiasati tentu akan membuat kita kewalahan sendiri. Alhamdulillah, akhir-akhir ini saya menyadari bahwa ada satu hal kecil yang sudah lama saya lupakan. Hal yang terkesan sepele itu adalah mengambil napas p...

IRT Kece

  Menjalani peran sebagai ibu rumah tangga (IRT) sering membuat seorang ibu melupakan kebutuhan dirinya sendiri. Peran dan tanggung jawab yang sangat banyak dan beragam sering kali membuat dirinya merasa tak ada waktu untuk menyenangkan diri sendiri. Peran sebagai IRT adalah peran yang sangat rawan dengan stress dan burn out . Setiap hari berkutat dengan pekerjaan yang sama, bertemu dengan hal-hal serupa, pergaulan yang sangat terbatas karena padatnya tanggung jawab yang dimiliki seorang IRT menjadikan kemungkinan emosi menjadi tidak stabil. IRT yang hampir setiap hari terkungkung di rumah memang bisa membuat jiwa ibu rapuh. Dibentak sedikit langsung sakit hati, diomongin tetangga langsung baper, dikritik suami jadi emosi tingkat tinggi dan masih banyak lagi kekacauan yang bisa muncul jika seorang ibu sedang tidak baik-baik saja. Diakui atau tidak, tetapi tantangan IRT itu banyak sekali loh. Tanpa persiapan kita dituntut untuk bisa menjalani banyak profesi. Terkadang kita harus ...

Flamingo Era

Kakak-kakak yang lahir tahun 80 atau 90-an mungkin banyak yang sedang dalam fase ini. Setelah sekian tahun mengabdikan diri pada keluarga, suami dan anak-anak, sekaranglah saatnya kita menikmati masa-masa penuh warna yang pernah kita lewatkan. Uhuuui! Bukan berarti kemarin-kemarin sepenuhnya kita tidak bahagia ya, hanya saja ternyata melihat anak-anak tumbuh besar dan mandiri membuat kita merasa punya hak untuk (juga) menikmati waktu kita. Kebanyakan mamak-mamak generasi milenial sibuk menjalani perannya sampai lupa waktu hingga tidak mengambil jeda untuk me time . Berdasarkan pengalaman saya ungkapan me time itu saya dengar justru setelah anak-anak mulai bisa melepaskan ketergantungan pada emaknya. Mungkin saya yang terlalu memakai kacamata kuda sehingga melewatkan banyak hal selama menjalani hari sebagai seorang ibu, tetapi begitulah yang terjadi dengan saya. Jadi, balik lagi ke Flamingo Era saya termasuk yang sekarang sedang menikmati era kembalinya “warna pink” saya, dengan cara s...