Langsung ke konten utama

Mereka Bilang Membaca hanya untuk Orang Pintar, Bagiku Membaca adalah Kebutuhan Semua Orang

Read, read, read. Read everything—trash, classics, good and bad, and see how they do it. Just like a carpenter who works as an apprentice and studies the master. Read! You’ll absorb it. Then write. If it’s good, you’ll find out. If it’s not, throw it out of the window.’’ –William Faulkner

Membaca kutipan di atas membuat siapa pun, khususnya untuk yang memang hobi membaca, akan setuju. Apalagi setelah mengetahui manfaat yang diperoleh, pasti akan semakin semangat membaca. Namun begitu, di sekeliling kita ternyata masih banyak yang anti dengan kegiatan yang sebenarnya tidak asing tersebut. Sejak kecil kita selalu diberikan penjelasan mengenai pentingnya membaca. Bahkan sebelum mulai bersekolah kita sudah dikenalkan dengan aktivitas tersebut, tetapi mengapa tidak lantas membuat kita jadi suka membaca?

Sejujurnya saya sempat menjadi orang yang setelah selesai sekolah, selesai pula membacanya. Setelah saya coba kilas balik, salah satu pemicunya karena semasa sekolah dulu saya harus membaca hal-hal yang saya tidak suka. Mata pelajaran adalah hal baru untuk anak umur 7 sampai 12 tahunan. Awalnya antusias karena seperti menemukan mainan baru, tetapi lama kelamaan terasa berat karena kita tidak tertarik di situ. Perasaan dan kondisi pada saat itu memaksa saya dan mungkin juga hampir semua murid untuk membaca buku pelajaran yang tidak kita sukai. Rasanya ingin menghindar tetapi tidak bisa. Ingin bisa suka tapi kenyataannya rasa suka memang tidak bisa dipaksa. Nah, seperti itulah rasanya. Membaca yang seharusnya menyenangkan justru seolah-olah meninggalkan trauma. Mungkin rasa itulah yang membekas di benak setiap murid-murid sekolah. Oleh karena itulah, setelah proses pendidikan selesai, otomatis saya juga berhenti membaca.

Kebanyakan dari kita memang seolah ingin segera menjauh dari proses membaca dan menulis. Apalagi kedua hal tersebut juga selalu identik dengan kegiatan orang pintar atau cerdas. Sehingga beberapa justru memilih semakin menjauhi kegiatan membaca daripada dicap sebagai kutu buku atau anak pintar. Entah kenapa, stempel anak pintar seolah menjadi beban bagi sebagian murid. Dan sampai sekarang masih saja banyak yang menganggap bahwa membaca hanyalah untuk orang pintar saja. Siapa sih, yang mengkotak-kotakkan seperti itu? Tapi begitulah kenyataannya, entah karena tidak ingin dicap sok pintar atau anak rajin, kita seolah merasa risih dan lambat laun menjauhi kegiatan yang sebenarnya sangat bermanfaat untuk otak kita.

Sewaktu masih kanak-kanak, saya cukup suka membaca majalah Bobo dan sebangsanya. Saya mengenal majalah Bobo sekitar kelas 3 SD, dan semenjak itu saya ingin terus membaca cerita dan dongeng dalam majalah tersebut. Alhasil, saya tidak hanya menanti Pak Gendut, seorang loper koran di daerah saya, tetapi saya juga mengumpulkan majalah Bobo bekas. Setiap ke toko buku menjadi kenangan paling indah karena saya bisa meminta bapak membelikan majalah Bobo yang sudah lawas, yang dijual dalam bentuk bendelan. Sayangnya, kumpulan majalah saya tersebut berkurang banyak karena dipinjam teman-teman dan tidak dikembalikan. Sedih.

Setelah selesai kuliah tanpa sadar hubungan saya dengan bahan bacaan seolah merenggang tanpa saya ketahui dengan pasti penyebabnya. Hehehe. Saya tiba-tiba mendapatkan kebahagiaan karena berhasil melepaskan beban berat dari pundak saya. Perasaan bebas karena merasa tidak mempunyai kewajiban belajar termasuk di dalamnya membaca, membuat hidup saya terasa lebih ringan. Ya, membaca sebagai tugas sekolah/kuliah memang telah membuat saya sedikit kehilangan selera terhadap buku-buku bacaan.

Beruntungnya saya bertemu dengan orang yang “memaksa” saya untuk terus membaca. Meskipun begitu saya tidak serta merta langsung kembali jatuh cinta dengan membaca. Prosesnya masih sama seperti ketika sekolah dulu. Membaca artikel, jurnal dan buku tetap saja kurang menyenangkan. Tak jarang bahkan saya merasa mual karena terlalu memaksakan diri untuk masuk ke dalam isi buku yang sedang saya baca. Sekali lagi hal itu terjadi karena kebetulan pada saat itu bacaan saya lebih sering pada hal-hal yang kurang saya minati. Bahkan di awal proses membaca itu saya banyak mengalami kendala, diantaranya yaitu saya merasa kurang bisa berkonsentrasi dalam membaca. Saya jadi lebih mudah merasa lelah dan mengantuk saat dihadapkan pada bahan bacaan. Namun, karena suatu tanggung jawab yang harus diselesaikan akhirnya saya memilih berdamai dengan berbagai tulisan yang harus saya pahami maknanya tersebut. Dari pengalaman tersebut saya mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa ternyata membiasakan membaca memang butuh niat dan alasan besar sehingga bisa konsisten membaca.

Pengalaman memaksa diri membaca yang awalnya berat, lalu ada proses penerimaan hingga akhirnya bisa menaklukkan diri sendiri dan memahami isi tulisan, lambat laun berhasil membuat saya mulai kembali menyukai membaca. Bukan hanya karena ingin mendapat ilmu pengetahuan dari membaca sebuah artikel atau buku, tetapi ternyata saya menemukan sebuah sensasi menyenangkan pada saat membaca. Melakukan aktivitas membaca, terutama buku fisik, membuat saya benar-benar hadir dan fokus hanya pada satu benda di hadapan saya. Menyelami huruf demi huruf, kata per kata lalu beranjak menjadi kalimat dan paragraf hingga mulai memahami makna tulisannya. Proses yang terkesan lambat tersebut justru membuat diri saya merasa tenang. Membaca buku melatih kembali bahwa hidup tidak harus selalu dijalani dengan tergesa-gesa hingga membuat kita tidak menikmatinya. Membaca tulisan panjang telah mengembalikan sensasi menyenangkan dan menenangkan yang sudah lama hilang karena serbuan informasi yang kita terima tanpa henti setiap hari.

Akhirnya setelah melewati banyak kisah putus nyambung tadi, saya mulai merasakan bahwa saya memang membutuhkan aktivitas membaca untuk kebaikan saya. Ya, saya membutuhkan kegiatan tersebut untuk menjaga kewarasan pikiran. Kemudian saya mulai membaca kembali sebagai bentuk syukur karena Allah telah memberikan kita, manusia, otak sebagai senjata. Sebagaimana umumnya orang yang mempunyai senjata tentu saja kita harus terus mengasahnya agar senjata tersebut bisa kita gunakan secara maksimal untuk jangka waktu yang lebih lama. Bukankah begitu seharusnya? Baiklah, lalu apa yang harus dilakukan untuk memulainya? Pertama coba cari buku yang sesuai dengan minatmu, baca dan nikmatilah proses memahami dan menyelami makna di dalam buku tersebut. Dengan begitu semoga kita bisa terus bertumbuh dengan cara yang menyenangkan dan menenangkan. Semoga.

 

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[EF#13] Badminton or Aerobic?

What kind of sport do I prefer to stay healthy? Hmmm … it’s interesting. BEC always make me smile when I read their challenges every weeks. The challenges burn my mind and refreshing my day. Yeay! Ok it’s enough making BEC 's team blushing hehehe. Back to the topic, actually I like sport eventhough I am not discipline enough in it *errrr … somebody please help me out of that undisciplined manner. It’s mean sometimes yes sometimes, I do sport and enjoy that activities. There are few kind of sport that I rarely do together with my family, like bicycling around the village enjoying the sunrise moment or sometimes I prefer playing badminton with my sons and the other times I choose to do aerobic. Which one that I like among them? Hmmm that's all interesting and make my day. But actually I like aerobic better than others hehehe. Why? Oh yes, because aerobic can make me moving and relaxing of course. The music that escort until the aerobic is so relaxing. Slow music and...

Nikah Yuk!

Ngomongin tentang nikah itu sering menimbulkan rasa sensitif dalam hati, terutama di dalam hati jomblowan dan jomblowati. Dan dulu, duluuuuu sekali ketika saya masih sebagai gadis imut yang tentu masih jomblo, saya sering merasa mupeng *agak ke iri sih sebenarnya hahaha ... *, jika ada teman seumuran yang udah nikah. Rasanya kok ajib aja gitu, masih muda tapi sudah ada yang punya, halal pula hehehe ... Karena penasaran dengan apa dan bagaimana persiapan menuju pernikahan yang barokah, maka ketika kuliah dan ada seminar pra nikah saya pun ikut serta hehehehe... Dan hasilnya saya semakin ingin menikah muda hahaha... Nah lo, kenapa? Iya, karena di seminar yang disampaikan oleh Mohammad Fauzil Adzim itu, membagi cerita tentang berbagai pernikahan muda yang tetap penuh prestasi. Oke banget kan? Contohnya ga usah jauh-jauh, Bapak yang nulis buku best seller Kupinang Engkau dengan Hamdalah ini adalah salah satu contoh bukti bahwa pernikahan di usia muda tidak akan memberi dampak buruk ba...

[EF#16] Sweet Memory from The Past

Hmmm get this challenge just turn back my memory about my grandmother. Yup, when I was a little girl, my grandmother often tell bedtime stories while for lice (there is no flea in my hair, but my grandmother always do it for me). Yes, I am so lucky that I had got that wonderful memories in my life. I am not sure, but my reading addict may be growing by that beautiful moments.  There were a lot of storytales that I have heard from my grandmother. Start from the legendary tale it is deer stealing cucumbers (Kancil Nyolong Timun), story about deer with crocodile, deer with tiger, storytale about frogs, until the story of flea. And do you know? That stories were repeated every night hahaha. Even though I have never complained about it, instead really enjoy it.  From that storytale I have learned so many things. I grow with that story affect and with that beautiful experiences. I would feel sad when one of the actors got supressions, or I became angry to someone else whose bad...