Sebagai
orang yang sedang merintis di dunia penulisan kadang suka merasa bingung dalam
membagi waktu. Jika dalam pelatihan menulis kita sering disuguhi pakem mutlak
untuk seorang penulis yaitu terus saja menulis.Tuliskan saja sebisanya,
semampunya, jelek tidak apa-apa. Yang penting nulis terus setiap hari. Tidak
ada yang salah dalam hal ini. Memang untuk bisa menguasai suatu bidang kita
harus terus melatihnya setiap hari dalam kurun waktu yang sangat panjang, saya
kira. Tetapi yang sering luput dari semua itu adalah lalu kapan tumpukan
tulisan itu menjadi lebih bermakna dan bisa memberi efek positif tidak hanya
untuk penulisnya tetapi juga untuk orang lain. Bukankah salah satu impian orang
yang sedang menekuni dunia literasi, khususnya penulisan, adalah karyanya
dibaca orang lain. Tetapi jangankan dibaca orang lain, tulisan kita yang masih
dalam bentuk tidak jelas itu juga pasti membuat kesulitan kita, penulisnya
sendiri dalam memahami maksudnya. Ini pengalaman saya pribadi sih. Hehehe.
Saya
sudah sejak lama mulai menulis, awalnya memang hanya menuangkan uneg-uneg di
kepala dan hati. Lama kelamaan saya ingin menjadikan menulis menjadi kebiasaan
dan ingin bisa meningkatkan kemampuan menulis saya yang masih belum seberapa
ini. Lalu mulailah perjalanan mencari guru di internet. Awalnya tentu saja
mencari yang gratisan saja, dari mencari banyak sumber bacaan dan video yang
membahas masalah penulisan. Lalu saya mulai mencari pelatihan berbayar.
Tipis-tipis dulu, soalnya dompetnya juga belum terlalu tebal. Hehehe. Nah, dari
semua pelatihan menulis tersebut, hampir semua mengatakan bahwa rahasia tulisan
bagus ya harus menulis setiap hari tanpa henti, tanpa kenal lelah apalagi
bosan.
Mulailah
saya menjajal ilmu baru tersebut. Saya meniatkan dalam hati untuk menulis setiap
hari. Salah satu ilmu yang saya gunakan diantaranya yang diajarkan oleh Tere
Liye. Tere Liye pernah menyampaikan dalam suatu seminar kepenulisan bahwa untuk
bisa menulis mulailah dengan menulis 1000 kata setiap hari selama enam bulan,
kalau tidak salah. Nah, dengan semangat membara saya mulai perjalanan merangkai
kata setiap harinya. Awalnya lancar, tetapi lama kelamaan tentu saja saya mulai
kehabisan bahan tulisan. Dalam pelatihan tersebut dikatakan pula bahwa kuncinya
tulis apa saja yang terlintas di pikiran. Itu juga saya praktikkan. Hasilnya tulisan
saya jelas ngalor ngidul, tak jelas topik pembahasan dan temanya. Hehehe.
Tetap lanjut nulis, dong. Masak baru jalan beberapa hari sudah terkapar
tak berdaya. Berbekal niat kuat dan ilmu yang saya peroleh tersebut saya bisa
melewati lebih dari lima bulan, hampir enam bulan, sayangnya tidak genap jadi
tulisan sebanyak 180 tulisan. Ya, saya menyerah di tulisan ke 178. Menyesal?
Sedikit, tetapi saya tetap senang melihat tumpukan file tulisan saya.
Seolah-olah saya berhasil melewati banyak hari dengan kebuntuan yang sering
menyergap. Masalah belum sampai target ya itu persoalan lain dan memang harus
dievaluasi. Masalah selanjutnya yaitu mau saya apakan tumpukan tulisan
tersebut? Tulisan yang bahasanya masih amburadul itu akankah hanya menjadi
tambahan beban memori di laptop saya saja? Kalau setiap hari harus menulis,
lalu kapan saya mengevaluasi tulisan-tulisan saya yang sudah pasti harus
dievaluasi itu? Hehehe. Dan setelah setiap hari menulis, rasanya isi kepala
saya juga ikutan kosong. Apa yang mau ditulis kalau kepala saya saja seolah
tidak ada isinya. Saya bukan (belum) penulis profesional. Setidaknya saya juga
harus melakukan aktivitas lain sebagai ibu,istri dsb. Maka kemudian saya
memberanikan diri, memutuskan bahwa mungkin saya harus membenahi latihan menulis
saya dan yang saya lakukan adalah:
Menulis setiap hari, minimal 100 kata. Jika saat latihan saya menulis sebanyak 1000 kata, maka sekarang saya harus realistis. Saya mengurangi jumlah kata tersebut, meskipun begitu saya usahakan menulis setiap hari. Dengan begitu saya tidak terlalu terbebani dengan harus menulis 1000 kata yang jika tidak berhasil akan kehilangan semangat. Kalau ada saat saya sedang kebanjiran ide ya tentu saja mudah menulis 1000 kata, tetapi saat otak kelu maka minimal bisa menulis 100 kata sudah sangat saya syukuri. Hal tersebut terus diulang setiap hari. Jika ada satu hari terlewat tidak menulis maka itu dijadikan PR dan harus dibayar keesokan harinya. Alhamdulillah cara ini lebih meringankan dan lebih mudah konsisten.
Hal lain
yang saya mulai perbaiki yaitu saya mulai meluangkan waktu untuk membaca. Minimal
10 halaman setiap hari. Jangan ditanya bagaimana saya melawan godaan scrolling
medsos, tidak mudah dong tentunya. Tetapi saya mencoba meluangkan waktu
untuk membaca 10 halaman tadi, yang ternyata jika dijalani tidak membutuhkan
waktu yang terlalu lama. Nah, kebiasaan ini bisa saya jalani dengan lebih
konsisten. Kesadaran bahwa membaca adalah cara kulakan seorang penulis,
membuat siapa pun yang bermimpi menghasilkan karya melalui tulisan bisa memaksa
diri untuk konsisten. Jadi waktu yang sebelumnya saya isi dengan bengong di
depan laptop karena menunggu datangnya ide, kini diganti dengan membaca. Ya,
itung-itung saya mengisi tangki pikiran saya sehingga saat harus menulis ada
yang bisa saya tuliskan. Harapannya begitu, ya.
Lalu
yang ketiga yaitu saya luangkan waktu untuk mengedit. Kesalahan saya adalah
terus menulis tanpa mempunyai waktu mengeditnya, sehingga tulisan saya hanya
tersimpan di laptop. Hasilnya setelah saya baca ulang dan perbaiki, beberapa
tulisan tersebut bisa jadi bahan untuk saya posting di blog saya ini. Sebagai emak
dengan berbagai aktivitas, ketiga cara tersebut terasa lebih nyaman untuk
dijalani. Semoga bisa menjadi bacaan yang bermanfaat untuk semuanya dan bisa
dipraktikkan sehingga bisa lebih konsisten menulis dan bisa menghasilkan tulisan-tulisan
yang bagus dan bermanfaat. Terus belajar untuk diri sendiri dan untuk semua
yang membaca, ya. Semangat, Mak!
Komentar
Posting Komentar