Langsung ke konten utama

Untuk Penulis Pemula yang Sedang Berproses

 

Sebagai orang yang sedang merintis di dunia penulisan kadang suka merasa bingung dalam membagi waktu. Jika dalam pelatihan menulis kita sering disuguhi pakem mutlak untuk seorang penulis yaitu terus saja menulis.Tuliskan saja sebisanya, semampunya, jelek tidak apa-apa. Yang penting nulis terus setiap hari. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Memang untuk bisa menguasai suatu bidang kita harus terus melatihnya setiap hari dalam kurun waktu yang sangat panjang, saya kira. Tetapi yang sering luput dari semua itu adalah lalu kapan tumpukan tulisan itu menjadi lebih bermakna dan bisa memberi efek positif tidak hanya untuk penulisnya tetapi juga untuk orang lain. Bukankah salah satu impian orang yang sedang menekuni dunia literasi, khususnya penulisan, adalah karyanya dibaca orang lain. Tetapi jangankan dibaca orang lain, tulisan kita yang masih dalam bentuk tidak jelas itu juga pasti membuat kesulitan kita, penulisnya sendiri dalam memahami maksudnya. Ini pengalaman saya pribadi sih. Hehehe.

Saya sudah sejak lama mulai menulis, awalnya memang hanya menuangkan uneg-uneg di kepala dan hati. Lama kelamaan saya ingin menjadikan menulis menjadi kebiasaan dan ingin bisa meningkatkan kemampuan menulis saya yang masih belum seberapa ini. Lalu mulailah perjalanan mencari guru di internet. Awalnya tentu saja mencari yang gratisan saja, dari mencari banyak sumber bacaan dan video yang membahas masalah penulisan. Lalu saya mulai mencari pelatihan berbayar. Tipis-tipis dulu, soalnya dompetnya juga belum terlalu tebal. Hehehe. Nah, dari semua pelatihan menulis tersebut, hampir semua mengatakan bahwa rahasia tulisan bagus ya harus menulis setiap hari tanpa henti, tanpa kenal lelah apalagi bosan.

Mulailah saya menjajal ilmu baru tersebut. Saya meniatkan dalam hati untuk menulis setiap hari. Salah satu ilmu yang saya gunakan diantaranya yang diajarkan oleh Tere Liye. Tere Liye pernah menyampaikan dalam suatu seminar kepenulisan bahwa untuk bisa menulis mulailah dengan menulis 1000 kata setiap hari selama enam bulan, kalau tidak salah. Nah, dengan semangat membara saya mulai perjalanan merangkai kata setiap harinya. Awalnya lancar, tetapi lama kelamaan tentu saja saya mulai kehabisan bahan tulisan. Dalam pelatihan tersebut dikatakan pula bahwa kuncinya tulis apa saja yang terlintas di pikiran. Itu juga saya praktikkan. Hasilnya tulisan saya jelas ngalor ngidul, tak jelas topik pembahasan dan temanya. Hehehe. Tetap lanjut nulis, dong. Masak baru jalan beberapa hari sudah terkapar tak berdaya. Berbekal niat kuat dan ilmu yang saya peroleh tersebut saya bisa melewati lebih dari lima bulan, hampir enam bulan, sayangnya tidak genap jadi tulisan sebanyak 180 tulisan. Ya, saya menyerah di tulisan ke 178. Menyesal? Sedikit, tetapi saya tetap senang melihat tumpukan file tulisan saya. Seolah-olah saya berhasil melewati banyak hari dengan kebuntuan yang sering menyergap. Masalah belum sampai target ya itu persoalan lain dan memang harus dievaluasi. Masalah selanjutnya yaitu mau saya apakan tumpukan tulisan tersebut? Tulisan yang bahasanya masih amburadul itu akankah hanya menjadi tambahan beban memori di laptop saya saja? Kalau setiap hari harus menulis, lalu kapan saya mengevaluasi tulisan-tulisan saya yang sudah pasti harus dievaluasi itu? Hehehe. Dan setelah setiap hari menulis, rasanya isi kepala saya juga ikutan kosong. Apa yang mau ditulis kalau kepala saya saja seolah tidak ada isinya. Saya bukan (belum) penulis profesional. Setidaknya saya juga harus melakukan aktivitas lain sebagai ibu,istri dsb. Maka kemudian saya memberanikan diri, memutuskan bahwa mungkin saya harus membenahi latihan menulis saya dan yang saya lakukan adalah:

Menulis setiap hari, minimal 100 kata. Jika saat latihan saya menulis sebanyak 1000 kata, maka sekarang saya harus realistis. Saya mengurangi jumlah kata tersebut, meskipun begitu saya usahakan menulis setiap hari. Dengan begitu saya tidak terlalu terbebani dengan harus menulis 1000 kata yang jika tidak berhasil akan kehilangan semangat. Kalau ada saat saya sedang kebanjiran ide ya tentu saja mudah menulis 1000 kata, tetapi saat otak kelu maka minimal bisa menulis 100 kata sudah sangat saya syukuri. Hal tersebut terus diulang setiap hari. Jika ada satu hari terlewat tidak menulis maka itu dijadikan PR dan harus dibayar keesokan harinya. Alhamdulillah cara ini lebih meringankan dan lebih mudah konsisten.

Hal lain yang saya mulai perbaiki yaitu saya mulai meluangkan waktu untuk membaca. Minimal 10 halaman setiap hari. Jangan ditanya bagaimana saya melawan godaan scrolling medsos, tidak mudah dong tentunya. Tetapi saya mencoba meluangkan waktu untuk membaca 10 halaman tadi, yang ternyata jika dijalani tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama. Nah, kebiasaan ini bisa saya jalani dengan lebih konsisten. Kesadaran bahwa membaca adalah cara kulakan seorang penulis, membuat siapa pun yang bermimpi menghasilkan karya melalui tulisan bisa memaksa diri untuk konsisten. Jadi waktu yang sebelumnya saya isi dengan bengong di depan laptop karena menunggu datangnya ide, kini diganti dengan membaca. Ya, itung-itung saya mengisi tangki pikiran saya sehingga saat harus menulis ada yang bisa saya tuliskan. Harapannya begitu, ya.

Lalu yang ketiga yaitu saya luangkan waktu untuk mengedit. Kesalahan saya adalah terus menulis tanpa mempunyai waktu mengeditnya, sehingga tulisan saya hanya tersimpan di laptop. Hasilnya setelah saya baca ulang dan perbaiki, beberapa tulisan tersebut bisa jadi bahan untuk saya posting di blog saya ini. Sebagai emak dengan berbagai aktivitas, ketiga cara tersebut terasa lebih nyaman untuk dijalani. Semoga bisa menjadi bacaan yang bermanfaat untuk semuanya dan bisa dipraktikkan sehingga bisa lebih konsisten menulis dan bisa menghasilkan tulisan-tulisan yang bagus dan bermanfaat. Terus belajar untuk diri sendiri dan untuk semua yang membaca, ya. Semangat, Mak!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[EF#13] Badminton or Aerobic?

What kind of sport do I prefer to stay healthy? Hmmm … it’s interesting. BEC always make me smile when I read their challenges every weeks. The challenges burn my mind and refreshing my day. Yeay! Ok it’s enough making BEC 's team blushing hehehe. Back to the topic, actually I like sport eventhough I am not discipline enough in it *errrr … somebody please help me out of that undisciplined manner. It’s mean sometimes yes sometimes, I do sport and enjoy that activities. There are few kind of sport that I rarely do together with my family, like bicycling around the village enjoying the sunrise moment or sometimes I prefer playing badminton with my sons and the other times I choose to do aerobic. Which one that I like among them? Hmmm that's all interesting and make my day. But actually I like aerobic better than others hehehe. Why? Oh yes, because aerobic can make me moving and relaxing of course. The music that escort until the aerobic is so relaxing. Slow music and...

[EF#16] Sweet Memory from The Past

Hmmm get this challenge just turn back my memory about my grandmother. Yup, when I was a little girl, my grandmother often tell bedtime stories while for lice (there is no flea in my hair, but my grandmother always do it for me). Yes, I am so lucky that I had got that wonderful memories in my life. I am not sure, but my reading addict may be growing by that beautiful moments.  There were a lot of storytales that I have heard from my grandmother. Start from the legendary tale it is deer stealing cucumbers (Kancil Nyolong Timun), story about deer with crocodile, deer with tiger, storytale about frogs, until the story of flea. And do you know? That stories were repeated every night hahaha. Even though I have never complained about it, instead really enjoy it.  From that storytale I have learned so many things. I grow with that story affect and with that beautiful experiences. I would feel sad when one of the actors got supressions, or I became angry to someone else whose bad...

Nikah Yuk!

Ngomongin tentang nikah itu sering menimbulkan rasa sensitif dalam hati, terutama di dalam hati jomblowan dan jomblowati. Dan dulu, duluuuuu sekali ketika saya masih sebagai gadis imut yang tentu masih jomblo, saya sering merasa mupeng *agak ke iri sih sebenarnya hahaha ... *, jika ada teman seumuran yang udah nikah. Rasanya kok ajib aja gitu, masih muda tapi sudah ada yang punya, halal pula hehehe ... Karena penasaran dengan apa dan bagaimana persiapan menuju pernikahan yang barokah, maka ketika kuliah dan ada seminar pra nikah saya pun ikut serta hehehehe... Dan hasilnya saya semakin ingin menikah muda hahaha... Nah lo, kenapa? Iya, karena di seminar yang disampaikan oleh Mohammad Fauzil Adzim itu, membagi cerita tentang berbagai pernikahan muda yang tetap penuh prestasi. Oke banget kan? Contohnya ga usah jauh-jauh, Bapak yang nulis buku best seller Kupinang Engkau dengan Hamdalah ini adalah salah satu contoh bukti bahwa pernikahan di usia muda tidak akan memberi dampak buruk ba...