Menjalani peran sebagai ibu rumah tangga (IRT) sering membuat seorang ibu melupakan
kebutuhan dirinya sendiri. Peran dan tanggung jawab yang sangat banyak dan
beragam sering kali membuat dirinya merasa tak ada waktu untuk menyenangkan diri
sendiri. Peran sebagai IRT adalah peran yang sangat rawan dengan stress
dan burn out. Setiap hari berkutat dengan pekerjaan yang sama, bertemu dengan
hal-hal serupa, pergaulan yang sangat terbatas karena padatnya tanggung jawab
yang dimiliki seorang IRT menjadikan kemungkinan emosi menjadi tidak stabil. IRT
yang hampir setiap hari terkungkung di rumah memang bisa membuat jiwa ibu rapuh.
Dibentak sedikit langsung sakit hati, diomongin tetangga langsung baper,
dikritik suami jadi emosi tingkat tinggi dan masih banyak lagi kekacauan yang bisa
muncul jika seorang ibu sedang tidak baik-baik saja.
Diakui atau tidak, tetapi tantangan IRT itu banyak sekali loh. Tanpa
persiapan kita dituntut untuk bisa menjalani banyak profesi. Terkadang kita
harus jadi koki. Di lain waktu kita beralih fungsi jadi guru, tenaga kesehatan,
ahli gizi, menjadi tenaga kebersihan dan masih banyak lagi peran yang harus dijalankan.
Diantara banyaknya peran yang harus kita lakukan tersebut sayangnya peranan IRT
justru sering diabaikan keberadaannya. Menjadi IRT seolah bukan peran yang
berguna sehingga kebanyakan IRT juga merasa demikian, karena saya dulu juga
merasa insecure *jadi sedih. Padahal rasa bangga dan mencintai profesi atau pekerjaan
adalah salah satu cara agar kita bisa menjalaninya dengan perasaan bahagia. Bukankah
kebahagiaan dalam rumah tangga sangat dipengaruhi oleh kebahagiaan seorang ibu?
Meskipun ada banyak sekali tantangan yang harus dihadapi, menjadi IRT adalah anugerah
yang pasti diinginkan oleh orang lain. Masih ingat kan kalau rumput tentangga
selalu lebih hijau? Hehehe. Daripada bermuram durja dan merasa rendah diri, mendingan
sekarang berlomba-lomba menjadi manusia bermanfaat saja deh. Ditakdir sebagai
IRT berarti kita berusaha menjadi IRT yang bernilai sehingga bisa memberi
manfaat.
Untuk itulah kita harus
mempunyai cara agar bisa mensiasati supaya menjadi IRT yang kece *asoyy.
Bagaimana caranya?
Yang pertama adalah tetap
memberikan hak bagi diri sendiri untuk merasa bahagia. Sebagai istri dan ibu kita
sering mengabaikan kebahagiaan diri sendiri demi melihat anggota keluarga
nyaman. Di Jawa ada ungkapan “sing penting kowe bahagia, aku gampang”. Seolah
membenarkan kebiasan mengorbankan perasaan sendiri demi orang lain. Padahal perasaan
terus menerus berkorban akan mengakibatkan kelelahan jiwa dan raga. Dan jika seorang
ibu sudah lelah sudah bisa dibayangkan bagaimana cara ibu itu bekerja, kan? Hmmm…,
pasti suasana rumah berubah tidak nyaman karena terpapar oleh perasaan seorang ibu
yang sedang tidak bahagia di dalam rumah itu. Bukankah sering kita dengar bahwa
kebahagiaan dalam sebuah rumah tangga itu sangat dipengaruhi oleh kebahagiaan ibu?
Nah, salah satu cara
untuk memberikan rasa bahagia adalah dengan mempunyai hobi. Masing-masing dari kita
pasti memiliki aktivitas yang disenangi, seperti berkebun, memasak, melukis,
bersepeda, menulis, membaca atau aktivitas lainnya yang merupakan hobi kita. Disadari
atau tidak, seringnya karena alasan kesibukan sebagai IRT, kita sering menganggap
melakukan sebuah hobi adalah sebuah kesalahan karena malah akan menghambat
kinerja dan terkesan membuang-buang waktu. Padahal saat kita menjalankan hobi, hal
itu seperti kita sedang recharge energi. Kalau ibu happy seisi
rumah pasti lebih nyaman, karena semua merasakan kebahagiaan ibu. Seperti halnya
beristirahat, melakukan hobi yang menyenangkan juga dapat meningkatkan semangat
baru dalam menjalani hari. Kedua aktivitas tersebut bukanlah aktivitas yang membuang-buang
waktu karena keduanya bisa sebagai penyeimbang dalam menjalankan tanggung jawab
agar lebih maksimal. Jadi, lakukan saja aktivitas yang memang kamu suka dan
jangan pernah merasa bersalah karena merasa bahagia. Emak-emak tu ya, sering
banget merasa tidak layak berbahagia. Kenapa ya? *bertanya dengan nada lembut. Asalkan
kita tidak meninggalkan apa yang menjadi tanggung jawab kita, maka melakoni suatu
hobi adalah kebutuhan ya, Mak.
Lalu supaya kita tidak
keseringan melamun, berangan-angan yang tidak-tidak yang justru bisa menyiksa perasaan,
maka mulailah menyibukkan diri. Maksudnya gimana? Menjadi IRT itu sibuknya
sudah bukan sibuk lagi loh, tapi sibuuuuuuk banget. Kok malah disuruh
menyibukkan diri. Betul, menjadi ibu memang super sibuk, tetapi maksudnya di
sini syukurilah sibukmu. Ya, mending disibukkan dengan berbagai tugas dan
pekerjaan kan daripada sibuk malah kebanyakan ngelamun gak jelas, scroll-scroll
sampai lupa waktu yang malah bisa membuat semua berantakan. Percaya atau tidak semakin
kita sibuk maka semakin kita tidak mempunyai waktu untuk mendengar hal-hal yang
tidak perlu kita dengar. Semakin kita fokus melakukan hal-hal untuk kebaikan diri
dan keluarga maka kita semakin tidak punya waktu untuk memperhatikan omongan
dan komentar orang terhadap diri kita. Untuk itu penting bagi ibu rumah tangga mengurangi
aktivitas memegang hp dan bermain sosial media. Sosial media sangat rawan bagi ibu
rumah tangga karena mudah menimbulkan perasaan iri lalu berubah jadi dengki
*naudzubillah…jangan sampai ya, Mak. Melihat teman-teman yang kelihatannya kok hidupnya
lebih enak, lebih nyaman padahal aslinya juga gak ada yang tau kan? Maka fokus
dan menyibukkan diri dengan hal-hal yang baik dan bermanfaat akan semakin meningkatkan
ketenangan seorang ibu rumah tangga dalam menjalankan perannya.
Lalu yang ketiga adalah
dengan cara meningkatkan kemampuan atau kapasitas diri. Menjadi seorang ibu rumah
tangga tidak lantas membuat kita berhenti belajar. Sejatinya berprofesi sebagai
apapun membutuhkan ilmu agar maksimal dalam memainkan peran. Dan lagi jika seorang
ibu mengetahui kapasitas dirinya maka dirinya akan terhindar dari rasa minder
dan jauh dari rasa iri dengan keberhasilan orang lain. Menjadi seorang ibu haruslah
berilmu karena berbagai peran harus dijalani dalam batas waktu yang tersedia.
Jika kita tidak memiliki ilmu memadai pastilah kita akan lebih sering menemui kendala
dan kewalahan sehingga berakhir burn out lalu dilampiaskan dengan
marah-marah.
Jadi, kalau kadang muncul perasaan bahwa profesi ini masih kurang mendapat tempat, yakinlah bahwa di sini juga sama dengan profesi lainnya. Kinerja dan keikhlasan kita pasti dinilai di hadapan Tuhan. Untuk itu, yuk sama-sama tumbuh dan terus belajar dan berproses agar kita bisa meningkatkan nilai kita. Semangat, Mak! 😊
Komentar
Posting Komentar