Pada awalnya saya merasa ragu, apakah saya bisa selesai membaca buku ini atau tidak. Dilihat dari judulnya jelas membuat saya ingin segera meletakkan buku itu, urung membacanya. Apalagi anak saya bilang dia agak kesulitan memahami buku tersebut. Hmm, tapi bukan saya kalau tidak nekat dan malah tertarik ingin menaklukkan buku tersebut. Hehehe. Pada halaman awal-awal saya memang harus berkali-kali mengulang kalimat yang saya baca. Jujur saya juga harus membuka gelas pikiran saya agar kosong dan mau menerima informasi yang akan disampaikan melalui buku tersebut. Saya membuang jauh perasaan bahwa buku ini akan sulit dimengerti. Pertama-tama saya mencoba menyadarkan diri bahwa buku ini ditulis oleh orang asing, maksud saya bukan penulis dari Indonesia. Jadi kemungkinan terdapat perbedaan gaya bahasa, cara mereka menyampaikan gagasan, atau cara menyampaikan lelucon pasti berbeda dengan gaya berbahasa dari penulis Indonesia, terutama yang sudah pernah saya baca. Saya memang bersikeras harus mengerti dan menyelesaikan membaca buku ini. Saya merasa kalau saya bisa menyelesaikan membaca buku yang awalnya saya anggap susah, kemungkinan saya akan berani membaca buku lain yang lebih bervariasi.
Setelah membaca beberapa bab saya mulai mengerti penyebab anak saya bingung. Yang pertama referensi bacaan anak saya mungkin belum banyak sehingga banyak istilah yang disampaikan dalam buku ini tidak dimengerti oleh anak saya. Dan sebenarnya dalam buku ini juga telah disampaikan bahwa jika buku ini akan dibaca oleh anak-anak sampai usia tertentu disarankan agar didampingi oleh orang tua. Setelah dibaca ternyata buku ini sangat menarik. Demi menyimpan memori baik yang saya peroleh dari buku ini, kali ini saya akan mencoba menuliskan beberapa bagian dari buku ini yang cukup menarik bagi saya.
- Pentingnya Kombinasi Mode Fokus dan Mode Difusi. Saat sedang belajar, otak kita usahakan masuk ke mode fokus. Saat mode ini, usahakan menjauh dari hal-hal yang dapat mengganggu/distraksi. Saat proses dalam mode fokus selesai, kita bisa beralih ke mode difusi atau kalau saya menyebutnya mode istirahat/rileks. Lakukan hal-hal menyenangkan dan tentu saja hal di luar mode fokus. Satu tips yang bisa dilakukan agar mudah masuk ke dalam mode fokus yaitu menggunakan teknik pomodoro. Bagi pembaca yang belum tahu teknik ini, silakan cari di internet, banyak kok.
- Pentingnya olah raga untuk menumbuhkan jaringan saraf baru yang berarti dapat meningkatkan kemampuan belajar kita.
- Pentingnya tidur yang cukup agar otak dapat menyimpan hasil pembelajaran yang telah kita lakukan dan dapat menumbuhkan jaringan saraf baru.
- Setelah kita mengusai suatu bidang, jangan lantas berhenti di situ dan merasa puas berada di zona nyaman. Otak sangat suka dengan aktivitas baru atau hal-hal yang baru. Dengan belajar hal baru kita akan terus melatih kinerja otak kita.
- Supaya ahli dalam suatu bidang, tidak cukup hanya dengan membaca, melihat, mengamati dan memahami saja. Tapi kita juga harus berlatih mengerjakan soal-soal atau mengerjakan bidang yang sedang kita pelajari tersebut.
- Cara lain agar pelajaran atau ilmu baru yang sedang kita pelajari bisa lebih menempel di ingatan, kita bisa mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain. Cari teman atau orang tua atau siapa pun untuk bisa kita berpura-pura menjadi guru dan mengajarkan ilmu yang sedang kita pelajari. Dengan demikian ilmu yang sedang kita pelajari akan lebih meresap dalam otak dan kita menjadi lebih ahli dalam bidang tersebut.
- Kalau misalnya kita malu atau tidak menemukan seorang pun untuk bisa kita jadikan "murid", kita bisa membuat soal dari bahasan yang tadi kita pelajari. Dari soal-soal yang sudah kita buat sendiri tadi, coba kerjakan tanpa melihat jawabannya dari buku/sumber ilmunya. Maksimalkan fungsi otak kita agar bisa mengambil ilmu yang tersmpian dalam "loker" ingatan kita.
- Interleafing, berlatih mengerjakan soal-soal latihan secara acak. Maksudnya di sini yaitu saat kita mempelajari bab 2 maka buat soal mengenai bab 1 yang menyelip diantara soal-soal mengenai bab 2. Dengan demikian otak akan berlatih membedakan materi dan penggunaan teknik untuk menyelesaikan masalah.
- Menghadapi ujian biasanya menghadirkan rasa tidak nyaman alias kepanikan bagi yang akan ujian. Dalam buku ini juga memberikan tips agar kita lebih tenang saat akan menghadapi sebuah ujian. Beberapa tips yang disampaikan yaitu melakukan teknik pernapasan agar lebih tenang yang dilakukan dengan mengambil napas dalam dari perut lalu menghembuskannya. Lakukan berulang kali sampai merasa lebih rileks. Tips lainnya yaitu ubah mindset dari yang sebelumnya menganggap "ujian membuat saya panik" menjadi "ujian ini membuat saya bersemangat."
- Melakukan suatu hal tanpa mengetahui alasan dibaliknya sering membuat kita enggan dalam melakukannya. Nah, dalam buku ini disebutkan bahwa kita harus menemukan alasan besar mengapa kita harus melakukan atau mempelajari hal tersebut.
- Buku ini juga berpesan dan mengingatkan bahwa sebagai makhluk yang diberi otak yang bisa membantu kita menjadi lebih baik, rasanya sayang jika otak tersebut tidak kita manfaatkan dengan terus belajar dan berlatih.
tersebut. Buku yang awalnya saya rasa lumayan berat untuk seseorang yang sedang memulai kembali kebiasaan membacanya, tetapi buku yang sayang untuk dilewatkan bagi siapa saja yang ingin memaksimalkan kerja otak agar memperoleh hasil yang maksimal seperti yang diharapkan. Setelah selesai membaca buku ini justru membuat kita akan lebih percaya diri melahap bahan bacaan yang berbeda-beda. Mencoba keluar dari zona nyaman mulai dari bacaan yang kita pilih. Jika biasanya nyaman dengan tulisan fiksi, boleh sesekali mencicipi naskah non fiksi. Semoga otak kita akan semakin menyukai dinamika yang kita pilihkan untuknya. Semangat!

Komentar
Posting Komentar