Langsung ke konten utama

Mengingat Isi Buku "Learning How To Learn"



Buku "Learning How to Learn" ditulis oleh tiga orang penulis dan peneliti yaitu Barbara Oakley, PH.D., Terry Sejnowski, PH.D., dan Alistair Mcconville yang diterjemahkan oleh Azizah Fitiryanti. Sebagai pendukung tulisan sehingga sangat membantu pembaca memahami maksud penulis, buku ini mencantumkan banyak ilustrasi yang dibuat oleh Oliver Young.

Pada awalnya saya merasa ragu, apakah saya bisa selesai membaca buku ini atau tidak. Dilihat dari judulnya jelas membuat saya ingin segera meletakkan buku itu, urung membacanya. Apalagi anak saya bilang dia agak kesulitan memahami buku tersebut. Hmm, tapi bukan saya kalau tidak nekat dan malah tertarik ingin menaklukkan buku tersebut. Hehehe. Pada halaman awal-awal saya memang harus berkali-kali mengulang kalimat yang saya baca. Jujur saya juga harus membuka gelas pikiran saya agar kosong dan mau menerima informasi yang akan disampaikan melalui buku tersebut. Saya membuang jauh perasaan bahwa buku ini akan sulit dimengerti. Pertama-tama saya mencoba menyadarkan diri bahwa buku ini ditulis oleh orang asing, maksud saya bukan penulis dari Indonesia. Jadi kemungkinan terdapat perbedaan gaya bahasa, cara mereka menyampaikan gagasan, atau cara menyampaikan lelucon pasti berbeda dengan gaya berbahasa dari penulis Indonesia, terutama yang sudah pernah saya baca. Saya memang bersikeras harus mengerti dan menyelesaikan membaca buku ini. Saya merasa kalau saya bisa menyelesaikan membaca buku yang awalnya saya anggap susah, kemungkinan saya akan berani membaca buku lain yang lebih bervariasi. 

Setelah membaca beberapa bab saya mulai mengerti penyebab anak saya bingung. Yang pertama referensi bacaan anak saya mungkin belum banyak sehingga banyak istilah yang disampaikan dalam buku ini tidak dimengerti oleh anak saya. Dan sebenarnya dalam buku ini juga telah disampaikan bahwa jika buku ini akan dibaca oleh anak-anak sampai usia tertentu disarankan agar didampingi oleh orang tua. Setelah dibaca ternyata buku ini sangat menarik. Demi menyimpan memori baik yang saya peroleh dari buku ini, kali ini saya akan mencoba menuliskan beberapa bagian dari buku ini yang cukup menarik bagi saya.

  • Pentingnya Kombinasi Mode Fokus dan Mode Difusi. Saat sedang belajar, otak kita usahakan masuk ke mode fokus. Saat mode ini, usahakan menjauh dari hal-hal yang dapat mengganggu/distraksi. Saat proses dalam mode fokus selesai, kita bisa beralih ke mode difusi atau kalau saya menyebutnya mode istirahat/rileks. Lakukan hal-hal menyenangkan dan tentu saja hal di luar mode fokus. Satu tips yang bisa dilakukan agar mudah masuk ke dalam mode fokus yaitu menggunakan teknik pomodoro. Bagi pembaca yang belum tahu teknik ini, silakan cari di internet, banyak kok.

  • Pentingnya olah raga untuk menumbuhkan jaringan saraf baru yang berarti dapat meningkatkan kemampuan belajar kita.
  • Pentingnya tidur yang cukup agar otak dapat menyimpan hasil pembelajaran yang telah kita lakukan dan dapat menumbuhkan jaringan saraf baru.
  • Setelah kita mengusai suatu bidang, jangan lantas berhenti di situ dan merasa puas berada di zona nyaman. Otak sangat suka dengan aktivitas baru atau hal-hal yang baru. Dengan belajar hal baru kita akan terus melatih kinerja otak kita.
  • Supaya ahli dalam suatu bidang, tidak cukup hanya dengan membaca, melihat, mengamati dan memahami saja. Tapi kita juga harus berlatih mengerjakan soal-soal atau mengerjakan bidang yang sedang kita pelajari tersebut.
  • Cara lain agar pelajaran atau ilmu baru yang sedang kita pelajari bisa lebih menempel di ingatan, kita bisa mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain. Cari teman atau orang tua atau siapa pun untuk bisa kita berpura-pura menjadi guru dan mengajarkan ilmu yang sedang kita pelajari. Dengan demikian ilmu yang sedang kita pelajari akan lebih meresap dalam otak dan kita menjadi lebih ahli dalam bidang tersebut.
  • Kalau misalnya kita malu atau tidak menemukan seorang pun untuk bisa kita jadikan "murid", kita bisa membuat soal dari bahasan yang tadi kita pelajari. Dari soal-soal yang sudah kita buat sendiri tadi, coba kerjakan tanpa melihat jawabannya dari buku/sumber ilmunya. Maksimalkan fungsi otak kita agar bisa mengambil ilmu yang tersmpian dalam "loker" ingatan kita.
  • Interleafing, berlatih mengerjakan soal-soal latihan secara acak. Maksudnya di sini yaitu saat kita mempelajari bab 2 maka buat soal mengenai bab 1 yang menyelip diantara soal-soal mengenai bab 2. Dengan demikian otak akan berlatih membedakan materi dan penggunaan teknik untuk menyelesaikan masalah. 
  • Menghadapi ujian biasanya menghadirkan rasa tidak nyaman alias kepanikan bagi yang akan ujian. Dalam buku ini juga memberikan tips agar kita lebih tenang saat akan menghadapi sebuah ujian. Beberapa tips yang disampaikan yaitu melakukan teknik pernapasan agar lebih tenang yang dilakukan dengan mengambil napas dalam dari perut lalu menghembuskannya. Lakukan berulang kali sampai merasa lebih rileks. Tips lainnya yaitu ubah mindset dari yang sebelumnya menganggap "ujian membuat saya panik" menjadi "ujian ini membuat saya bersemangat."
  • Melakukan suatu hal tanpa mengetahui alasan dibaliknya sering membuat kita enggan dalam melakukannya. Nah, dalam buku ini disebutkan bahwa kita harus menemukan alasan besar mengapa kita harus melakukan atau mempelajari hal tersebut.
  • Buku ini juga berpesan dan mengingatkan bahwa sebagai makhluk yang diberi otak yang bisa membantu kita menjadi lebih baik, rasanya sayang jika otak tersebut tidak kita manfaatkan dengan terus belajar dan berlatih.
Itulah beberapa hal yang saya ingat dari buku "Learning How to Learn"
tersebut. Buku yang awalnya saya rasa lumayan berat untuk seseorang yang sedang memulai kembali kebiasaan membacanya, tetapi buku yang sayang untuk dilewatkan bagi siapa saja yang ingin memaksimalkan kerja otak agar memperoleh hasil yang maksimal seperti yang diharapkan. Setelah selesai membaca buku ini justru membuat kita akan lebih percaya diri melahap bahan bacaan yang berbeda-beda. Mencoba keluar dari zona nyaman mulai dari bacaan yang kita pilih. Jika biasanya nyaman dengan tulisan fiksi, boleh sesekali mencicipi naskah non fiksi. Semoga otak kita akan semakin menyukai dinamika yang kita pilihkan untuknya. Semangat! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[EF#13] Badminton or Aerobic?

What kind of sport do I prefer to stay healthy? Hmmm … it’s interesting. BEC always make me smile when I read their challenges every weeks. The challenges burn my mind and refreshing my day. Yeay! Ok it’s enough making BEC 's team blushing hehehe. Back to the topic, actually I like sport eventhough I am not discipline enough in it *errrr … somebody please help me out of that undisciplined manner. It’s mean sometimes yes sometimes, I do sport and enjoy that activities. There are few kind of sport that I rarely do together with my family, like bicycling around the village enjoying the sunrise moment or sometimes I prefer playing badminton with my sons and the other times I choose to do aerobic. Which one that I like among them? Hmmm that's all interesting and make my day. But actually I like aerobic better than others hehehe. Why? Oh yes, because aerobic can make me moving and relaxing of course. The music that escort until the aerobic is so relaxing. Slow music and...

Nikah Yuk!

Ngomongin tentang nikah itu sering menimbulkan rasa sensitif dalam hati, terutama di dalam hati jomblowan dan jomblowati. Dan dulu, duluuuuu sekali ketika saya masih sebagai gadis imut yang tentu masih jomblo, saya sering merasa mupeng *agak ke iri sih sebenarnya hahaha ... *, jika ada teman seumuran yang udah nikah. Rasanya kok ajib aja gitu, masih muda tapi sudah ada yang punya, halal pula hehehe ... Karena penasaran dengan apa dan bagaimana persiapan menuju pernikahan yang barokah, maka ketika kuliah dan ada seminar pra nikah saya pun ikut serta hehehehe... Dan hasilnya saya semakin ingin menikah muda hahaha... Nah lo, kenapa? Iya, karena di seminar yang disampaikan oleh Mohammad Fauzil Adzim itu, membagi cerita tentang berbagai pernikahan muda yang tetap penuh prestasi. Oke banget kan? Contohnya ga usah jauh-jauh, Bapak yang nulis buku best seller Kupinang Engkau dengan Hamdalah ini adalah salah satu contoh bukti bahwa pernikahan di usia muda tidak akan memberi dampak buruk ba...

[EF#16] Sweet Memory from The Past

Hmmm get this challenge just turn back my memory about my grandmother. Yup, when I was a little girl, my grandmother often tell bedtime stories while for lice (there is no flea in my hair, but my grandmother always do it for me). Yes, I am so lucky that I had got that wonderful memories in my life. I am not sure, but my reading addict may be growing by that beautiful moments.  There were a lot of storytales that I have heard from my grandmother. Start from the legendary tale it is deer stealing cucumbers (Kancil Nyolong Timun), story about deer with crocodile, deer with tiger, storytale about frogs, until the story of flea. And do you know? That stories were repeated every night hahaha. Even though I have never complained about it, instead really enjoy it.  From that storytale I have learned so many things. I grow with that story affect and with that beautiful experiences. I would feel sad when one of the actors got supressions, or I became angry to someone else whose bad...