Langsung ke konten utama

Sudah Tua, Kamu Mau Apa?

 

“Kamu tidak pernah terlalu tua untuk menargetkan tujuan lain atau untuk mendambakan mimpi baru.’’ –C.S. Lewis

Usia saya saat menulis ini sudah lebih dari 44 tahun. Sudah bukan usia yang bisa dibilang muda. Meskipun begitu entah mengapa, rasanya masih banyak mimpi dan cita-cita yang sempat terkubur eee...kok akhir-akhir ini mencoba mengusik ketenangan yang sudah diupayakan. Jika beberapa waktu lalu saya sempat merasa semua sudah terlambat, ternyata kalimat di atas telah membuat saya sedikit lebih bersemangat meraih mimpi-mimpi saya yang sempat tertindih oleh tanggung jawab yang musti dikedepankan. Apakah ada rasa sedih karena banyak melewatkan kesempatan? Tentu saja ada. Saya juga tidak ingin berpura-pura bahwa semua sudah baik-baik saja, sudah ideal karena memang tidak ada yang benar-benar ideal. Hanya saja, saya tidak menyesali semua pilihan yang saya ambil. Alasannya tentu saja karena semua yang sudah terjadi ya sudah memang harusnya begitu. Alasan lainnya yaitu beberapa mimpi itu terkubur tetapi digantikan oleh banyak mimpi baru yang terwujud. Maka saya harus menjadi orang yang pandai bersyukur. Jangan hanya karena satu hal tidak tercapai lalu membuat saya lupa dengan lebih banyak kebaikan yang saya peroleh. 

Menjalani kehidupan rumah tangga saya anggap sebagai tim sepak bola. Tidak boleh semua anggota tim menjadi penyerang, atau penjaga gawang semua. Masing-masing harus mengerjakan peran dan porsinya dengan sebaik-baiknya, tanpa perlu merasa diri lebih menonjol atau sebaliknya merasa peran kita seolah tidak penting dalam tim tersebut. Jadi ketika kita memilih untuk menjaga gawang dalam rumah tangga kita, maka itu adalah peran penting yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Beruntungnya adalah menjaga gawang rumah tangga bisa dikerjakan berbarengan dengan mengerjakan hal-hal lainnya. Saat keadaan rumah sudah mulai bisa berjalan tanpa perlu sentuhan langsung dari seorang istri atau ibu maka kita bisa melakukan lebih banyak hal. Ya, meskipun kadang kesempatan itu datang setelah bertahun-tahun atau puluhan tahun kita fokus pada satu titik saja yaitu rumah tangga dan segala dinamikanya. 

Setiap orang pasti menjalani rumah tangganya masing-masing dengan badainya yang bermacam-macam. Mungkin ada yang bisa melakukan banyak aktivitas di luar pekerjaan sebagai istri dan ibu. Meskipun anak-anak masih kecil ibu itu sudah bisa memulai mengejar mimpinya. Di sisi lain ada juga seorang ibu yang energi, waktu dan bahkan dunianya memang hanya untuk keluarganya semata, sehingga sedikit melupakan mimpi-mimpinya. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk dari kedua hal tersebut. Toh, semua juga sedang bergulat untuk memperbaiki diri dan keluarganya. Untuk emak-emak yang sudah bisa menjalani dan mengejar mimpi tanpa banyak distraksi dari keluarga, sungguh saya turut berbahagia. Kalau diantara emak-emak di luar sana ada yang sekarang sedang berusaha meraih mimpi, meskipun usia tak lagi muda, jangan menyerah ya. Mungkin kita tidak yakin apakah masih ada kesempatan untuk kita mewujudkan mimpi tersebut, tetapi kalau kita tidak pernah mencoba kita tidak akan pernah tahu sejauh mana kita bisa mewujudkannya. Saya dulu bahkan pernah merasa bahwa usia saya yang sudah segini mending urungkan niat untuk kayak anak muda. Sok-sok punya mimpi segala. Begitu saya memarahi diri sendiri waktu itu. Hehehe. Pada saat yang sama justru saya mendengar sebuah kalimat penyemangat. "Kita memang sudah berusia 40 tahun, tetapi coba saja raih mimpimu yang tertunda. Siapa tahu kita masih punya 40 tahun tersisa yang akan sangat berterima kasih karena kita telah berani memulai hari ini." Demi mendengar kalimat barusan saya sampai terharu lo. Iya, ya. Kok saya selama ini hanya merasa bahwa mungkin waktu saya tinggal tersisa sedikit, tetapi saya melupakan kemungkinan yang lain bahwa bisa jadi ini baru separuh perjalanan usia saya. 

Maka kalau teman-teman membaca tulisan saya yang kadang berisi kalimat  penyemangat, itu sebenarnya saya sedang menyemangati diri sendiri. Kalau ternyata semangat itu bisa menular kepada teman-teman pembaca maka saya pasti sangat berbahagia. Jadi, biarlah usia itu menjadi tanda bahwa kita pernah melalui perjalanan dan pelajaran kehidupan. Mimpi kita masih di sana, tergantung di langit dan menunggu seseorang bangun dan bersemangat meraihnya. Semangat ya, Mak! 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

[EF#13] Badminton or Aerobic?

What kind of sport do I prefer to stay healthy? Hmmm … it’s interesting. BEC always make me smile when I read their challenges every weeks. The challenges burn my mind and refreshing my day. Yeay! Ok it’s enough making BEC 's team blushing hehehe. Back to the topic, actually I like sport eventhough I am not discipline enough in it *errrr … somebody please help me out of that undisciplined manner. It’s mean sometimes yes sometimes, I do sport and enjoy that activities. There are few kind of sport that I rarely do together with my family, like bicycling around the village enjoying the sunrise moment or sometimes I prefer playing badminton with my sons and the other times I choose to do aerobic. Which one that I like among them? Hmmm that's all interesting and make my day. But actually I like aerobic better than others hehehe. Why? Oh yes, because aerobic can make me moving and relaxing of course. The music that escort until the aerobic is so relaxing. Slow music and...

Nikah Yuk!

Ngomongin tentang nikah itu sering menimbulkan rasa sensitif dalam hati, terutama di dalam hati jomblowan dan jomblowati. Dan dulu, duluuuuu sekali ketika saya masih sebagai gadis imut yang tentu masih jomblo, saya sering merasa mupeng *agak ke iri sih sebenarnya hahaha ... *, jika ada teman seumuran yang udah nikah. Rasanya kok ajib aja gitu, masih muda tapi sudah ada yang punya, halal pula hehehe ... Karena penasaran dengan apa dan bagaimana persiapan menuju pernikahan yang barokah, maka ketika kuliah dan ada seminar pra nikah saya pun ikut serta hehehehe... Dan hasilnya saya semakin ingin menikah muda hahaha... Nah lo, kenapa? Iya, karena di seminar yang disampaikan oleh Mohammad Fauzil Adzim itu, membagi cerita tentang berbagai pernikahan muda yang tetap penuh prestasi. Oke banget kan? Contohnya ga usah jauh-jauh, Bapak yang nulis buku best seller Kupinang Engkau dengan Hamdalah ini adalah salah satu contoh bukti bahwa pernikahan di usia muda tidak akan memberi dampak buruk ba...

[EF#16] Sweet Memory from The Past

Hmmm get this challenge just turn back my memory about my grandmother. Yup, when I was a little girl, my grandmother often tell bedtime stories while for lice (there is no flea in my hair, but my grandmother always do it for me). Yes, I am so lucky that I had got that wonderful memories in my life. I am not sure, but my reading addict may be growing by that beautiful moments.  There were a lot of storytales that I have heard from my grandmother. Start from the legendary tale it is deer stealing cucumbers (Kancil Nyolong Timun), story about deer with crocodile, deer with tiger, storytale about frogs, until the story of flea. And do you know? That stories were repeated every night hahaha. Even though I have never complained about it, instead really enjoy it.  From that storytale I have learned so many things. I grow with that story affect and with that beautiful experiences. I would feel sad when one of the actors got supressions, or I became angry to someone else whose bad...