Di usia yang sudah medium
well ini, tentu kita sudah makan asam garam kehidupan, kan Mak?
Hehehe. Gakpapa, jangan sedih karena dengan begitu kita jadi tambah ngerti
bahwa hidup ini ya memang begini. Kadang menyebalkan, kadang juga pasti kita
merasakan bahagia. Semua hanya sementara.
Sebagai seorang
perempuan yang juga sudah cukup lama malang melintang di dunia penuh misteri ini, saya juga sudah mencicipi pahit manis kehidupan. It's Ok!
Semua juga ngalami hal yang serupa, hanya mungkin bentuk soalnya saja yang
berbeda. Ada yang diuji dengan orang tuanya, ada yang diminta sabar dari sisi
ekonomi, ada yang harus berjuang untuk sehat dan banyak lagi kasus-kasus
lainnya.
Makanya saya sering
sebel kalau ada yang bilang, lebih tepatnya menyangsikan dan mengucapkan
kalimat nyeleneh:
"Mosok orang
kayak kamu gini sedih, sih?"
Aduh...kalimat seperti
itu kenapa harus keluar, sih? Lah emang ada makhluk di dunia ini yang tidak
pernah sedih? Emang ada ya, manusia yang bebas masalah sehingga sering
membuatnya tidak bisa tidur? Kalau ada, saya juga pingin kenalan sama orang
itu. Supaya bisa belajar gimana caranya hidup di dunia tanpa kenal dengan yang
namanya masalah. Dan lagi, maksudnya orang kayak saya itu kayak mana? Nah,
jadi sewot kan sayanya. Hehehe.
Ah, tapi sudahlah.
Lupakan kalimat yang gak penting tadi. Saya cuma mau bilang, kalau teman-teman
sedang ada masalah yang berat, please, jangan pernah ngerasa sendiri.
Trus merasa seolah-olah hanya kamu yang paling nelangsa hidupnya. Kalau lagi
ngerasa paling lemah, coba lihat sekeliling pasti akan kita temukan orang lain
yang hidupnya lebih sulit daripada kita. Dengan begitu kita jadi tahu kalau di
luar sana juga banyak yang sedang dalam kesulitan, tetapi tetap bersemangat
menjalani hidup. Tetap mensyukuri hal-hal kecil yang masih hadir di kehidupan
mereka.
Kalau pun karena saking
beratnya masalah trus membuat dada kita sesak, ya nangis saja. Nangis sampai
dadamu terasa lega. Nangis saja seperti anak kecil yang ingin mendapatkan
mainan tapi dilarang ibunya. Nangis saja, karena menangis bukan tanda kita
lemah. Namanya perempuan, kadang kita benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat
apa. Nah, pada saat merasa sangat rapuh tersebut menangis adalah sebuah cara
untuk mengerti dan menyadari serta mengakui bahwa kita lemah. Meskipun begitu,
jangan karena kita merasa langkah kita berat lantas kita memilih menjatuhkan
diri alias menyerah.
Menangis mungkin membuat
kita terlihat rapuh dan itu tidak apa-apa. Kita hanya terlihat rapuh di mata
orang lain, tetapi kita menangis itu sebagai mekanisme untuk segera bangkit.
Setelah menangis memang tidak lantas masalah akan selesai sendiri, tetapi
setelah tangisan itu reda yang terasa adalah rasa lega. Perasaan lega tersebut
akan membuat kita merasa lebih tenang. Dari rasa tenang kita bisa lebih jernih
berpikir dan merasa mampu melanjutkan perjalanan kehidupan. Kalau kita sudah
merasa mampu, insyaAllah kita akan benar-benar dimampukan. Jangan lupa, selalu
melibatkan Allah, ya. Kan tadi kita sudah mengakui bahwa kita ini makhluk
lemah.
Sayangnya, tidak semua
orang yang kita temui bakal mau mengerti dan bersimpati pada kita. Kadang yang
terjadi justru penghakiman yang membuat kita semakin merasa terpuruk. Nah, untuk
kamu yang merasa bahwa semua orang seolah-olah tidak siap melihat kamu rapuh,
yuk saling menguatkan.
Dalam kehidupan yang
semakin mendewasa ini, kita semua pasti pernah merasakan sebuah tuntutan yang
tanpa diucapkan tetapi tetap kita rasakan dan seolah menyudutkan. Kita tidak
bisa atau mungkin kita tidak pernah diberikan kesempatan untuk menyampaikan perasaan
kita secara jujur bahwa kita juga butuh dimengerti.
Kita tidak butuh
dikasihani, hanya cukup diberi jeda untuk sesekali terlihat rapuh. Bolehlah
sekali-kali kita menjadi orang yang diberi pengertian, karena selama ini kita
telah selalu berusaha mengerti. Jadi, kalau lingkungan teman-teman pembaca masih belum bisa memahami kesedihan kalian atau malah membuat kalian
merasa bersalah, mending jangan terlalu didengarkan, deh. Kalian boleh, kok, meluapkan
kesedihan itu. Seperti yang tadi saya tulis di depan, bahwa dengan meluapkan
kesedihan justru bisa bermanfaat untuk kita sendiri.
Cara meluapkan kesedihan
memang berbeda-beda. Asalkan pelampiasan rasa sedih itu tidak melanggar norma hukum
dan agama, serta tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain, saya rasa
sah-sah saja dan bahkan baik. Tapi jangan lama-lama ya, Mak. Karena kehidupan
masih menunggu kita untuk hadir dan memberi warna. Semangat, Mak.
Komentar
Posting Komentar