Masih lekat diingatan saya,
bagaimana rasanya bisa mendengarkan langsung nasihat, pelajaran dan gambaran
perjalanan panjang seorang sastrawan, penulis yang cerpen-cerpennya sudah
banyak mengisi kolom surat kabar dan media lainnya. Saya termasuk pembaca pemula
dalam membaca karya beliau. Jadi selain baru baru dalam dunia menulis, saya juga
belum banyak membaca karya beliau. Cerita beliau yang menurut saya agak berat
dicerna oleh otak saya, sering membuat saya mengurungkan niat untuk mencari
karya beliau. Satu cerpen yang saya baca, berjudul Pelajaran Mengarang, dan
telah membuat saya takjub.
Ya, beberapa hari lalu saya
bisa langsung melihat wajah dan mendengarkan suara beliau, Pak Seno Gumira
Ajidarma, meskipun masih lewat perantara media zoom meeting. Perasaan
saya tentu saja campur aduk karena ini baru pertama kali bisa ikut dalam kelas
menulis beliau, sehingga saya hanya bisa menyimak sambil terus manggut-manggut.
Beliau tampak seperti seorang seniman sastra yang bisa saya dengarkan langsung
petuahnya, luar biasa. Semua yang beliau sampaikan penuh dengan pengalaman yang
sekali lagi hanya bisa membuat saya manggut-manggut.
Beliau telah melewati
banyak peristiwa, telah menuliskan banyak kisah lewat cerpen-cerpennya yang
selalu menggugah lalu memunculkan pertanyaan bagaimana beliau bisa menulis cerita
yang ide dan hasil ceritanya bisa jadi luar biasa jika diramu oleh Pak Seno.
Dari banyaknya pelajaran
yang kami terima kemarin malam ada sebuah kalimat di penutup acara. Beliau
berpesan begini, “Membacalah supaya anda tidak mengenaskan, karena orang yang
tidak membaca itu sangat mengenaskan. Kalau tidak percaya silakan lihat
sekeliling Anda.”
Saya tersenyum sambil terus
manggut-manggut, lagi. Saking groginya dan tidak ingin hilangan momentum untuk
mendengarkan saya malah lupa tidak mencatatnya. Saya beruntung karena teman-teman
yang lain rajin dan bersedia membagikan catatan mereka di dalam grup. Sekali
lagi pesan membaca itu kami terima dari orang yang memang kesehariannya sudah
diisi dengan kegiatan membaca dan menulis dan bisa merasakan betapa sengsara
dan mengenaskannya hidup tanpa membaca. Sebuah nasihat yang sangat valid untuk
diikuti. Beliau bahkan bercerita bahwa kalau kita membaca maka kita sebenarnya lebih
kaya daripada orang-orang yang tidak pernah membaca itu, meskipun mungkin kita
terlihat tidak cukup secara harta atau materi kebendaan, tetapi sejatinya kita
lebih kaya dari orang kaya itu yang tidak membaca.
Saya sendiri, sesungguhnya
tidak terlalu hobi membaca. Hmm, mau membaca, tetapi belum merasa membutuhkan
membaca untuk jadi konsumsi sehari-hari saya. Banyak alasan mengemuka jika
ditanya kenapa? Ya, karena menurut saya (dulu), kegiatan membaca hanya bisa
dilakukan oleh orang yang memang mempunyai waktu luang atau privilege untuk
membaca. Maka dengan dalih kesibukan itulah saya merasa membaca bisa jadi
kegiatan nomor sekian. Lalu banyak nasihat dari orang asing lewat media sosial yang
menyadarkan akan pentingnya membaca. Setelah sedikit tergugah saya mencari cara
bagaimana agar saya jadi dipaksa untuk terus membaca. Dan setelah saya tilik ke
belakang, ternyata saya punya kebiasaan yang lumayan baik, yaitu menulis. Dulu
saya menulis apa saja untuk mengurangi beban pikiran dan penat di hati. Kalau
hanya seperti itu rasanya saya tidak perlu banyak membaca, kan ya? Hehehe. Entahlah,
saya hanya merasa demikian. Jadi untuk mendorong minat baca, maka saya memaksa
diri agar lebih banyak menulis yang bertujuan untuk bisa dibaca lebih banyak
orang. Apalagi ada anggapan bahwa kalau ingin menulis sebuah karya maka kita
harus membaca setidaknya 100 buku. Asyiiik, ada alasan kuat untuk bisa membaca!
Sungguh, di jaman sekarang, dimana scroll media sosial sudah jadi jalan yang
umum untuk mengisi waktu luang, kegiatan membaca semakin terasa berat untuk
dilakukan. Saya yang dulunya, waktu kecil, belum terpapar media sosial saja
kesulitan untuk membiasakan membaca, lalu apa kabar anak-anak muda umur
belasan? Wah, menjadi pekerjaan rumah untuk kita yang ingin meninggalkan
generasi kuat dan pintar, nih. Dan lagi setelah saya perhatikan, membaca buku
atau artikel panjang itu memberikan sensasi menyenangkan pada otak kita.
Berbeda dengan saat kita scroll media sosial, saat membaca otak kita akan terasa
diperas dan otak seperti sedang berolah raga. Itu yang saya rasakan. Nah, sensasi
itu juga bisa menjadi pendorong kita untuk terus membaca. Karena sensasi saat
memeras otak untuk memahami bacaan itu ternyata bisa memberikan efek aneh yang
menyenangkan. Kalau tidak percaya coba aja sendiri ya, Mak. Nah, sekarang sudah
punya alasan untuk membaca, kan? Yuk, semangat membaca agar hidup kita tidak
mengenaskan seperti yang tadi dibilang Pak Seno. Semangat ya, Mak!!
Komentar
Posting Komentar