Entah kenapa tiba-tiba saya teringat kenangan masa lalu. Kala itu saya masih kanak-kanak. Sebagai anak kecil pada umumnya, saya juga kerap bermain ke rumah teman. Bahkan kadang tidak hanya berhenti di satu rumah saja, karena justru kami akan menghampiri lebih banyak teman lain lalu bermain bersama-sama. Sungguh masa kecil yang menyenangkan.
Sayangnya, di balik semua kenangan manis tersebut, saya justru masih menyimpan kenangan tidak mengenakkan. Kejadian tidak mengenakkan itu bukan tentang saya, tetapi tentang keluarga teman saya. Sebut saja teman saya itu namanya Bunga.
Bunga adalah anak sulung dan hanya mempunyai seorang adik laki-laki. Kedua orang tuanya adalah pemilik warung kelontong. Pada saat itu saya cukup sering main ke rumah Bunga karena jaraknya cukup dekat dengan rumah saya. Kami biasanya bermain di ruang tengah yang kebetulan memanjang dan jadi satu dengan warungnya. Saat sedang bermain bersama tersebut kami sering melihat adik Bunga membuka laci dan mengambil beberapa lembar uang. Saya tidak tahu akan dipakai untuk apakah uang tersebut, mungkin dipakai untuk jajan. Bunga juga melihat saat adiknya mengambil uang dari laci warung dan ekspresinya tampak biasa saja. Pada saat itu saya hanya tertegun, atau lebih tepatnya saya heran karena baru kali ini saya melihat anak bisa mengambil uang dengan bebas. “Wah, enak ya bisa ambil uang semaunya, jadi bisa jajan kapan pun kita mau tanpa perlu minta ijin dulu”. Itu yang ada di pikiran saya dulu.
Pernah suatu ketika, ibu Bunga melihat hal tersebut. Tanpa saya sangka respon ibu Bunga justru berkebalikan dengan Bunga. Ibu Bunga terlihat marah. Dengan berteriak ibu Bunga memanggil anak bungsunya tersebut.
“Hei, dasar anak nakal. Sejak kapan kamu berani mengambil uang tanpa ijin Ibu?”
Saya yang sedang asyik bermain bersama Bunga, terkejut seketika. Saya bingung sekaligus sedih melihat hal tersebut. Pada saat itu saya juga tidak terlalu mengerti mengapa saya merasa sedih, padahal kan bukan saya yang dimarahi.
Di lain waktu, kejadian yang hampir sama. Hanya saja pada saat itu adik Bunga sudah tidak ada di rumah, mungkin sedang main ke rumah temannya. Saat ibu Bunga sedang menghitung uang hasil dari warung. Rupanya ibu Bunga menyadari bahwa uangnya berkurang yang membuatnya kembali marah-marah. Dari banyak kalimat yang diucapkan, masih ada satu kalimat yang masih sering terngiang di telinga saya hingga saya dewasa. Kalimat tersebut berupa hardikan yang berbunyi “Dasar bocah nakal, tidak tahu diri!”. Sebenanrya kalimat yang dikeluarkan lebih kasar, tetapi saya tidak sanggup menuliskannya dan dibaca orang banyak. Semoga pilihan kata saya cukup bisa diterima teman-teman pembaca. Agak ngeri memang, bahkan saya sendiri masih bergidik jika mengingat hal tersebut.
Memang pada jaman itu informasi tentang parenting belum sebanyak sekarang. Sepertinya kebanyakan orang tua jaman dulu juga tidak memiliki pengetahuan tentang bagaimana mendidik anak-anaknya. Mungkin mereka tidak sadar bahwa ada ucapan tertentu, terutama yang keluar dari seorang ibu, yang tidak boleh diucapkan karena akan berakibat buruk bagi anak-anaknya.
Sekarang saya sudah dewasa dan sudah mempunyai anak. Sebagai seorang ibu tentu saja saya juga sering menghadapi situasi yang hampir sama dengan peristiwa yang pernah saya saksikan dulu. Bedanya bentuk perilakunya saja yang berbeda. Intinya kita sebagai orang tua pasti sering berhadapan dengan tingkah laku anak-anak kita yang kerap membuat kita mengernyitkan dahi, mengelus dada dan mengehla napas panjang. Tenang, Mak. Hehehe. Ya, perilaku anak-anak memang kadang membuat kita, orang tua, seolah kehabisan cara untuk mendidik mereka.
Dalam masa pengasuhan anak di jaman canggih seperti ini, kita mungkin jauh lebih beruntung karena akses menuju informasi terbuka lebar. Bahkan kadang informasi tersebut menghampiri kita seolah tahu bahwa kita membutuhkan informasi tersebut. Algoritma yang berlaku di media sosial memang selalu memanjakan kita. Alhamdulillah.
Dari berbagai informasi yang saya terima tersebut, saya mulai mengerti penyebab kegelisahan yang saya rasakan pada saat saya mendengar kalimat-kalimat dari ibu Bunga. Sekarang, sebagai ibu saya semakin mengerti bahwa kalimat yang telah dikeluarkan oleh seorang ibu sangat berarti untuk anak-anaknya. Mungkin itulah kenapa pada saat mendengar kalimat yang harusnya tidak keluar dari seorang ibu, saya menjadi gelisah. Alhadulillah lagi. Saya menganggap ini sudah pertanda baik bagi saya, karena dengan munculnya perasaan gelisah tersebut semoga membuat saya lebih bisa mengontrol kalimat yang keluar dari mulut saya, khususnya untuk anak-anak saya. Dan lebih khusus lagi saat saya sedang marah.
Anak-anak mungkin kerap membuat jengkel orang tuanya. Apalagi ketika mereka sudah beranjak remaja. Fiuh, ada saja kelakuan yang membuat kita geleng-geleng kepala. Kayaknya kita tidak mendidik seperti itu, kok jadinya seperti itu. Yee! Itu hanya perasaan saya saja, padahal mungkin saya juga banyak melakukan kekeliruan dalam mendidik mereka. Ya, namanya juga baru pertama kali jadi orang tua. Jadi tolong sedikit lebih toleran ya, Nak. Hehehe.
Hal yang wajar jika kita merasa kecewa terhadap sikap dan perilaku mereka. Belum lagi sikap dingin dan tertutup yang mulai mereka tunjukkan ketika beranjak remaja. Bagaimana pun juga, semua sikap mereka yang menjengkelkan tersebut tidak sepenuhnya salah mereka. Mungkin mereka tidak bermaksud mengecewakan kita. Atau mungkin karena kita hanya bisa menceramahi tanpa memberi bukti berupa teladan sikap yang bisa ditiru mereka. Bukankah para pakar parenting juga sudah kerap menyinggung hal ini?
Saat mendengarkan wejangan dari para ahli di bidang pengasuhan anak, saya mendapatkan sebuah kisah yang sangat menyentuh. Salah satu kisah yang saya ingat dan berusaha saya pegang dalam menjalani peran sebagai ibu. Kisah seorang anak yang sewaktu kecil sangat nakal. Perilaku anak tersebut sering merepotkan orang tuanya khususnya ibunya. Hingga pada suatu hari keluarga tersebut akan kedatangan tamu. Ibu sedang sibuk menyiapkan hidangan di belakang dan kadang ke ruang makan untuk meletakkan sebagian hidangan yang sudah matang. Tanpa sepengetahuan siapa pun, anak laki-laki tersebut bermain tanah di dekat hidangan yang disiapkan dan menghamburkan tanah ke atas makanan yang terhidang. Sontak saja ibunya terkejut saat mengetahui makanan untuk tamu sudah kotor dengan tanah. Tentu saja ibu itu sangat marah. Yang mengesankan adalah kalimat yang keluar dari ibu itu. Kalimat yang keluar bukanlah makian, celaan atau sumpah serapah yang buruk, tetapi yang keluar adalah sebuah kalimat yang kelak akan menuntun takdir baik anak tersebut. Ya, kalimat tersebut disampaikan dengan cukup keras sebagai bentuk jengkel dan kalimat yang keluar kurang lebih berbunyi “Aduuuh, anak ini! Saya sumpahi besok kalau sudah besar kamu akan jadi imam besar di Masjidil Haram!” Sebuah kalimat indah, kan?
Mengingat peristiwa ketika saya masih kecil dan kisah imam besar Masjidil Haram tersebut memberikan pelajaran besar bagi saya. Sebuah pengingat bahwa sebagai ibu kita memiliki hak dan wewenang untuk anak-anak kita. Kita bisa menjadi sebab kebaikan mereka. Sebaliknya kita juga sangat bisa membuat mereka sengsara karena kalimat yang keluar dari mulut kita. Hal tersebut membuat saya harus selalu mawas diri terutama saat emosi sudah memuncak dan hampir tidak bisa dikendalikan. Pada saat seperti itu saya akan memilih diam sejenak dan menjauh dari anak-anak. Tujuannya adalah untuk menghindari hal-hal yang lebih buruk. Hal lain yang bisa kita lakukan selanjutnya adalah memohon ampun, beristighfar. Karena menjadi orang tua yang bisa mengantarkan anak-anaknya menuju kesuksesan dunia akhirat memang tidak mudah. Oleh karena itu kita harus selalu memohon pertolongan Allah dalam setiap upaya kita. Semoga dimudahkan semuanya. Semangat!
Komentar
Posting Komentar