Senin, 09 Maret 2015

[Suka Duka Hijabku] Jilbabmu Mempesonaku

Dari judulnya terkesan bahwa yang nulis ikhwan (alias mas-mas) yang sedang terkagum-kagum dengan kibaran jilbab seorang akhwat bukan? Eits, Anda keliru teman, yang nulis ini perempuan tulen (buktinya dah melahirkan dua anak laki-laki hehehe ...). Tapi begitulah, jilbab (begitu saya biasa menyebutnya) telah saya kenal sejak tahun 1996, tepatnya sejak saya duduk di kelas 2 SMP. *Nah mulai menghitung kan, kira-kira sekarang saya umur berapa, hehehe ...* Yah, biarpun pada masa itu jilbab belum sepopuler sekarang, tapi di sekolah saya jilbab biasa digunakan saat ada pelajaran agama, sehingga lumayan kenal lah dengan jilbab.

Pada jaman saya masih remaja imut itu, saya termasuk yang kolot *itu kata orang tua saya dulu hehehe*. Iya, karena saya selalu menolak memakai baju ketat dengan lengan super pendek, apalagi yang model you can see my lek ( baju yang ga ada lengannya ituuu...), aduuuh ga banget deh. Rasanya kok kayak seluruh tubuh saya tidak tertutup baju. Betul kan saya bilang tadi, saya ini kolot udah dari bawaan lahir meski mungkin tidak diturunkan oleh bapak ibu saya hehehe karena bapak ibu saya modis banget.

Oh ya, sebelum saya cerita tentang jilbab, saya mau cerita tentang lingkungan dan keluarga di mana saya dulu dibesarkan. Saya adalah anak perempuan, sulung dari dua bersaudara, dengan adik laki-laki. Saya tinggal dan dibesarkan di keluarga yang boleh dibilang jauh dari nilai agama. Susahnya hidup membuat orang tua saya terlalu berorientasi pada materi saja. Sehingga mereka hampir melupakan bahwa ada Dzat Yang Maha Tinggi yang mempunyai kuasa terhadap dunia dan isinya.

Kehidupan tersebut saya jalani dengan sangat nyaman, hingga akhirnya saya beranjak remaja. Sifat saya yang sering haus ilmu dan senang mempelajari hal-hal baru lantas mempertemukan saya dengan jilbab *bukan sedang songong, beneran ini cerita saya dan proses saya mengenal si jilbab :)*. Alhamdulillah, meskipun orang tua saya terlalu hedonis tetapi mereka tidak pernah melarang saya mengikuti berbagai macam kegiatan termasuk kegiatan-kegiatan keagamaan, termasuk pula pesantren kilat yang diadakan di sebuah pesantren di kota saya.

Allah Yang Maha Mengatur, saya menjalani berbagai kegiatan tersebut dengan semangat bergelora. Seperti musafir yang kehausan di padang pasir dan menemukan mata air. Begitulah saya kala itu, girang bukan kepalang, menyambut berbagai macam pengalaman dan ilmu. Dan saya semakin haus menimbanya. Hingga saya semakin terlarut menikmati balutan jilbab di tubuh saya, meski belum secara konsisten saya pakai.

Hingga akhirnya kelas 2 SMP saya merasa tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menutupi seluruh tubuh saya dengan pakaian yang disyariatkan agama saya, Islam. Entah karena alasan apa, tetapi saya mengutarakan niat berhijab saya kepada orang tua. Meski saya ragu dengan jawaban mereka ,tetapi saya benar-benar mencobanya. Tanpa ba bi bu saya mengatakan pada mereka "Pak, Buk, saya ingin berjilbab." Tentu saja keinginan saya tersebut mengagetkan kedua orang tua dan jawabannya dapat ditebak. Saya belum boleh berjilbab, saat itu mereka memberi alasan bahwa jika waktunya belum tepat, karena jika harus berjilbab berarti seragam sekolah harus ganti yang serba panjang. Jadi akan rugi jika harus menyingkirkan baju yang lama. Alasan yang sebenarnya agak terlalu dipaksakan menurut saya, tetapi saya tetap menurut.

Baiklah, akhirnya saya mencoba berdamai dengan keadaan. Saya menahan diri, karena saya tahu betapa bapak ibu tidak gampang dalam menyukupi kebutuhan kami meski sebenarnya tidak bisa dibilang kesusahan. Akhirnya saya meminta mereka untuk mengabulkan keinginan berjilbab saya ketika saya masuk SMA. Mereka terdiam.

Waktu terus berganti, dan saya terus berdoa semoga akan ada kesempatan bagi saya untuk menjalankan perintah-Nya menutup aurot. Hingga tiba waktunya saya lulus SMP. Itu artinya saya sudah memasuki pendidikan yang lebih tinggi, dan itu artinya saya bisa menagih janji pada kedua orang tua saya untuk mengabulkan permintaan berhijab saya. Dan, meski dengan berat hati, bapak ibu mengijinkan saya. Kalau kata pepatah jawa "Diculke ndhase nanging digoceki buntute", yang arti gampangnya mereka tidak sepenuhnya memuluskan langkah saya untuk berjilbab. Banyak sekali kejadian-kejadian yang sering memancing emosi dan menyulitkan langkah saya berhijab (Alhamdulillah saya masih diberi kekuatan untuk tidak terpancing emosi) *Kesannya saya sedang menceritakan aib keluarga ya hehehe ... santai dulu teman ga usah terlalu tegang gitu ah bacanya ... Ambil cemilan dulu apa ngopi-ngopi dulu juga boleh*

Singkat cerita, saya merasa terintimidasi selama proses penghijaban diri saya itu hehehe. Akhirnya, saya kalah, jadilah saya memakai jilbab hanya ketika pergi ke sekolah (meski saya bersekolah di sekolah umum yang tidak mewajibkan siswinya berhijab). Bertahun-tahun hingga saya melanjutkan pendidikan menjadi seorang mahasiswi saya masih menjadi diri saya yang aneh itu. Meskipun begitu, sebenarnya dalam hati saya selalu berharap diberikan kekuatan lagi agar bisa menutup aurot secara kaffah sesuai yang diperintahkan-Nya. Dan saya tetap menjadi diri saya yang sibuk dengan pencarian ketenangan jiwa yang mengiringi hampir tiap malamnya dengan doa dan air mata kerinduan terhadap kedamaian.

Jadi di luar sana, saya dikenal sebagai muslimah taat (maksudnya penampakan seperti para akhwat dengan jilbab besarnya...). Saya memang seperti memakai topeng, saya memakai topeng ketika saya di lingkungan rumah tetapi saya menjadi diri saya ketika berada di luar rumah. Saya tidak bermaksud menipu siapapun ketika itu. Karena itulah kenyataan yang harus saya jalani.

Nah, karena saya ingin menjadi lebih baik maka saya lebih senang bergaul juga dengan orang-orang yang cukup baik. Baik akhlaknya dan baik pula ilmu agamanya, baik pula budi pekertinya *halah. Karena itulah mungkin saya juga bertemu jodoh juga dengan orang yang InsyaAllah cukup baik ilmu agamanya hehehe ....

Lelaki yang kemudian menjadi suami saya itu tahu betul bahwa saya di lingkungan rumah tidak memakai jilbab, tetapi dia tidak pernah menyinggungnya. Hingga beberapa bulan setelah kami menikah pun saya masih demikian adanya. Hingga hari itu pun tiba, suami saya yang saat itu di luar kota menelepon dan menyuruh saya untuk membaca surat Al Ahzab ayat 59 yang isinya tentang kewajiban menutup aurot, yang tentu saja dia sangat tahu bahwa saya pasti sudah sering membacanya. Tetapi satu kata yang selalu saya ingat darinya adalah. "Pakailah jilbabmu mulai sekarang dengan benar, dan saya akan menemani kamu melaluinya."

Mengapa suami harus mengatakan itu semua? Karena dia tahu kondisi istrinya masih tinggal dengan orang tua akan sulit menjalani perintah yang satu itu. Akhirnya, suami saya pulang dari luar kota, dan saya diajak jalan-jalan (tentu dengan hijab lengkap plus kaos kaki hehehe), hingga pulang ke rumah tidak saya lepas-lepas lagi (karena di rumah saya banyak non muhrim berseliweran keluar masuk hehehe), sampai sekarang. Saya akan berusaha menjaga amanah indah ini dengan sebaik-baiknya dan tidak akan saya lepas lagi. Insya Allah

Indahnya lagi, sekarang orang tua saya justru semakin senang memperdalam ilmu agama dan ibu saya mulai menutup aurotnya. Meskipun sekarang saya telah tinggal sendiri dengan keluarga kecil saya, selain suami dan anak-anak, bapak ibu tetap menjadi kekuatan saya menapaki jalan menuju kebaikan ini. Alhamdulillah ... Nikmat Tuhan Yang Mana Lagi Yang Kamu Dustakan


2 komentar:

  1. Balasan
    1. Alhamdulillah ... Tidak ada daya dan kekuatan kecuali pertolongannya. Makasih sudah mampir mak. Ku follow blognya ya :)

      Hapus