Langsung ke konten utama

Postingan

Mengurangi Insecure, Lebih Banyak Bersyukur

  Kita pasti sudah sering mendengar ungkapan “Rumput tetangga selalu lebih hijau”. Sebuah kalimat yang menggambarkan suatu perasaan bahwa apa yang kita miliki sekarang tidak terlihat lebih baik daripada milik orang lain. Sebuah perasaan yang semakin diperlihara akan semakin menyiksa. Benar begitu? Contohnya adalah ketika masih kanak-kanak terlintas kalau menjadi anak bapak atau ibu itu kayaknya enak. Lalu beranjak remaja bertemu lebih banyak orang, berkenalan dan berteman lebih luas kita jadi tahu ternyata tinggal di rumah sana lebih menyenangkan karena apa-apa dekat tidak seperti rumahku jauh dari mana-mana. Merasa bahwa diri tidak menarik karena tidak seputih Si Anu, tidak setinggi Si Ana atau penyebab yang lainnya. Masih tidak berhenti di situ, godaan bahwa hidup orang lain selalu lebih indah daripada kehidupan sendiri akan terus berlanjut seiring perjalanan usia. Semua yang dimiliki orang lain selalu saja tampak asyik, menarik dan lebih membahagiakan. Sibuk berandai-andai hin...

Beberapa Hal yang Sebaiknya Disimpan Sendiri

  Pernah gak merasa menyesal setelah menceritakan sesuatu mengenai diri kita kepada orang lain? Kalau saya sering merasa begitu. Sebenarnya saya lebih nyaman sendiri, meskipun begitu saya juga bukan orang yang sama sekali tidak mau bergaul dengan orang lain. Karena semakin bertambahnya umur tentu ada tuntutan untuk bisa berbasa-basi, kan? Nah, saat kehabisan bahan obrolan saya justru sering terjebak pada suatu kondisi di mana saya lebih banyak bercerita. Rasanya kok canggung gitu, kalau dalam suatu kondisi yang mengharuskan kita berada dalam suatu obrolan dan tiba-tiba hening. Hingga kadang karena bingung mau ngomong apa lagi, saya malah banyak membuka hal-hal yang sepertinya tidak pas untuk diceritakan. Dan ini biasanya baru saya sadari di perjalanan pulang atau ketika sampai rumah. Saya sering mengingat kembali apa saja yang telah saya obrolkan atau lakukan. Hal itu demi memastikan yang saya lakukan tidak menyinggung orang yang diajak bicara. Dari situ kadang jadi ada perasaan ...

Lepaskan yang di Luar Kendali, Ketenangan akan Menemani

Sebut saja namanya Rani dan Dewi. Keduanya adalah teman yang sangat akrab. Sebagai perempuan yang sudah berkeluarga dan rentang usia yang hampir sama membuat pertemanan mereka lebih mudah terbentuk. Apalagi jarak rumah diantara kedua ibu muda itu tidak terlalu jauh, sehingga mereka cukup sering bertemu. Seperti umumnya sahabat dekat, mereka kerap bertukar cerita untuk sekedar membuang penat atau memang ingin mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Kadang Rani yang sibuk bercerita, tak jarang pula Dewi yang mencurahkan perasaannya, berharap mendapatkan sedikit rasa lega setelah menumpahkan uneg-unegnya. Memang lebih sering Dewi yang mencurahkan banyak kisah hidup dibandingkan Rani, tetapi mereka tetap bisa nyambung. Tidak seperti biasanya, pagi ini Dewi menelpon Rani. Dari seberang suara Dewi terdengar diantara deru suara knalpot. Menelpon dengan diawali kalimat yang sudah sangat dihapal Rani. “Ran, aku mau cerita banyak kali ini jadi kamu jangan bosan.” Rani mengehntikan aktivit...

Bagaimana Menumbuhkan (Kembali) Minat Baca pada Anak-anak Kita?

  Di jaman yang dipenuhi dengan produk digital dan video pendek ini, kadang saya bingung bagaimana caranya mengembalikan anak-anak kita pada kesukaan membaca. Saya memperhatikan sekitar saya, dan menemukan bahwa semakin sedikit anak kecil dan anak muda yang masih berminat dengan membaca. Mereka lebih tertarik dengan video pendek dan tulisan pendek yang setiap hari mereka konsumsi di medsos. Bahkan kita yang belum lama kenalan dengan medsos saja langsung jatuh cinta dengan hiburan di medsos, apalagi anak-anak kita yang sejak lahir sudah dimanjakan oleh teknologi tersebut. Bagaimana pun juga, anak-anak harus kenal dan tetap suka dengan kegiatan membaca. Karena kalau mereka hanya menjadi konsumen medsos setiap hari, kemungkinan besar mereka akan kehilangan kemampuan berpikir dan berkonsentrasi dalam jangka waktu lama. Di tengah kebingungan tersebut, saya mendapatkan banyak pencerahan dari beberapa artikel. Kebetulan artikel tersebut berbahasa Inggris, tetapi isinya membuat saya seol...

Boleh Rapuh, Asal Tidak Jatuh

Di usia yang sudah  medium well  ini, tentu kita sudah makan asam garam kehidupan, kan Mak? Hehehe. Gakpapa, jangan sedih karena dengan begitu kita jadi tambah ngerti bahwa hidup ini ya memang begini. Kadang menyebalkan, kadang juga pasti kita merasakan bahagia. Semua hanya sementara. Sebagai seorang perempuan yang juga sudah cukup lama malang melintang di dunia penuh misteri ini, saya juga sudah mencicipi pahit manis kehidupan. It's Ok ! Semua juga ngalami hal yang serupa, hanya mungkin bentuk soalnya saja yang berbeda. Ada yang diuji dengan orang tuanya, ada yang diminta sabar dari sisi ekonomi, ada yang harus berjuang untuk sehat dan banyak lagi kasus-kasus lainnya. Makanya saya sering sebel kalau ada yang bilang, lebih tepatnya menyangsikan dan mengucapkan kalimat nyeleneh: " Mosok orang kayak kamu gini sedih, sih?" Aduh...kalimat seperti itu kenapa harus keluar, sih? Lah emang ada makhluk di dunia ini yang tidak pernah sedih? Emang ada ya, manusia yang bebas...

Hati-hati dengan Kalimat yang Keluar dari Mulutmu, Bu

  Entah kenapa tiba-tiba saya teringat kenangan masa lalu. Kala itu saya masih kanak-kanak. Sebagai anak kecil pada umumnya, saya juga kerap bermain ke rumah teman. Bahkan kadang tidak hanya berhenti di satu rumah saja, karena justru kami akan menghampiri lebih banyak teman  lain lalu bermain bersama-sama. Sungguh masa kecil yang menyenangkan. Sayangnya, di balik semua kenangan manis tersebut, saya justru masih menyimpan kenangan tidak mengenakkan. Kejadian tidak mengenakkan itu bukan tentang saya, tetapi tentang keluarga teman saya. Sebut saja teman saya itu namanya Bunga. Bunga adalah anak sulung dan hanya mempunyai seorang adik laki-laki. Kedua orang tuanya adalah pemilik warung kelontong. Pada saat itu saya cukup sering main ke rumah Bunga karena jaraknya cukup dekat dengan rumah saya. Kami biasanya bermain di ruang tengah yang kebetulan memanjang dan jadi satu dengan warungnya. Saat sedang bermain bersama tersebut kami sering melihat adik Bunga membuka laci dan mengam...

Mereka Bilang Membaca hanya untuk Orang Pintar, Bagiku Membaca adalah Kebutuhan Semua Orang

“ Read, read, read. Read everything—trash, classics, good and bad, and see how they do it. Just like a carpenter who works as an apprentice and studies the master. Read! You’ll absorb it. Then write. If it’s good, you’ll find out. If it’s not, throw it out of the window.’’ –William Faulkner Membaca kutipan di atas membuat siapa pun, khususnya untuk yang memang hobi membaca, akan setuju. Apalagi setelah mengetahui manfaat yang diperoleh, pasti akan semakin semangat membaca. Namun begitu, di sekeliling kita ternyata masih banyak yang anti dengan kegiatan yang sebenarnya tidak asing tersebut. Sejak kecil kita selalu diberikan penjelasan mengenai pentingnya membaca. Bahkan sebelum mulai bersekolah kita sudah dikenalkan dengan aktivitas tersebut, tetapi mengapa tidak lantas membuat kita jadi suka membaca? Sejujurnya saya sempat menjadi orang yang setelah selesai sekolah, selesai pula membacanya. Setelah saya coba kilas balik, salah satu pemicunya karena semasa sekolah dulu saya harus m...