Langsung ke konten utama

Postingan

Anak Hebat itu Anak Ayah!

Pernah mendengar ungkapan dari para ayah “Anak Hebat Pasti Anak Ayah!”, dan kalau anak sedang tidak berprestasi atau mungkin malah sedang bermasalah maka menjadi anak ibunya. Masih adakah suami-suami yang biasa berucap demikian? Agak nyinyir dan nyebelin ya dengernya? Yah, bagaimana tidak, ibu yang susah payah jungkir balik (nah mulai lebay kan… J ) mendidik dan mendampingi anak-anak. Dikala ayah di luar menjalankan kewajibannya, maka tugas mendidik anak-anak menjadi kewajiban seorang ibu. Lantas mengapa para ayah suka mengaku-ngaku kalau itu adalah prestasinya. Huh! Agak jengah ya? Hehehehe aku dulu juga sering merasa jengah kalau suami, yang mungkin sebenarnya niatnya hanya menggoda, berlaku seperti yang telah disebutkan di atas. Tetapi sekarang malah sudah kebal, alias ya sudahlah. Ambil aja kalau mau! Begitulah kira-kira bahasa kasarnya. J Bagi seorang ibu, sudah tidak penting lagi apakah kebaikan dan prestasi yang ditunjukkan anak-anak, akan berimbas pada diakuinya...

Tulisan Galau

Weleh-weleh, dah masuk hari ke enam di bulan November. Dan baru ada satu tulisan di blog. Gejala apakah ini? Mendadak mandeg begitu saja. Ga ada ide. Eh salah ding, kata penulis senior, orang yang menganggap miskin ide atau malah ga ada ide sama sekali itu berarti tidak tahu apa itu ide. “Ide kan bisa diperoleh dimana saja” begitu penjelasan penulis senior tersebut. Hehehe iya ide bisa datang dari arah mana saja, tetapi keterampilan menangkap ide itu memang tidak mudah bagi sebagian orang, termasuk aku. Hmmm PR untuk bisa menulis dengan baik masih sangat menumpuk. Sebanyak tumpukan buku yang ingin aku baca. Ingin, ya kata itu harus benar-benar digarisbawahi. Karena, jujur aku belum pintar membagi waktu antara membaca dan menulis serta membagi dengan aktivitas lainnya. Saat jari sedang gatel ingin terus menulis, maka yang ada hari-hari aku isi dengan menulis. Itu saja. Padahal mengutip kalimat di sebuah buku yang sedang aku baca, jika aku kurang membaca maka aku hanya ak...

Menulis dengan baik.

Benarkah menulis itu mudah? Tentu saja menulis itu sangat mudah. Kita tinggal menuliskan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Semua yang ingin kita luapkan tinggal kita ketikkan saja. Mudah bukan? Tetapi, lalu siapa yang akan mau membaca tulisan kita itu? Jika semua yang kita tulis bagaikan sampah dari dalam tubuh dan jiwa kita yang ingin kita buang ke tong sampah? Menulis itu memang sangat mudah, jika kita hanya butuh tulisan kita dibaca oleh kita sendiri. Tidak perlu ada orang lain yang harus membaca tulisan kita apalagi menghargainya. Menjadikan tulisan kita layak dibaca dan dirindukan oleh orang lain, itulah yang tidak mudah. Itulah yang saya temukan sekarang. Saya menyadari, sebagai pemula dalam hal penulisan, masih banyak yang harus saya persiapkan. Karena jika saya ingin tulisan saya tidak selesai menjadi diary pribadi saja, maka saya harus menjadikan tulisan saya bermakna untuk orang banyak. Dan saya mulai merasakan betapa tidak mudahnya itu. Satu hal yang ...

Perjalanan Mimpiku (1)

Sudah ba’da Ashar, dan belum ada satu tulisan pun untuk hari ini. Padahal sudah niaaat banget harus buat tulisan minimal 1 dalam 1 hari. Hehehe. Sebenarnya banyak ide berseliweran tetapi kabur seiring derap langkah kakiku menyusuri jalanan panjang siang ini. Ah tidak boleh menyalahkan apapun dan siapapun. Salah sendiri, kenapa tadi tidak menuliskan ide-ide itu meski harus setengah berlari memburu “kepastian”, meski harus tetap pegang setir. “Gawat! Jika sampai hari ini bolong, tidak membuat satu tulisan pun. Pasti bakalan merembet di hari-hari berikutnya.”   begitu pikirku. Coba ubek-ubek blog teman-teman blogger. Sapa tahu ada ide nyantel di kepala setelah baca tulisan teman-teman yang lain. Yang ada malah asyik membaca karya para blogger yang keren-keren bgt. Selama 2 hari ini, disela-sela kegiatan ku yang lumayan padat. Hehehe sengaja dipadet-padetin, supaya terbiasa. Siapa tahu suatu saat nanti, aku jadi penulis yang sudah pandai menulis. Sehingga banyak penerbi...

Jatuh Cinta Lagi

Busyeet, sudah lama semenjak rasa cinta pada suamiku bersemi. Sekarang aku merasakan hal yang sama. Semua terasa indah. Hari-hariku menjadi penuh gairah. Mengawali hari dengan sangat gembira. Ya! Aku sedang jatuh cinta lagi. Dan cinta ini bukan lagi untuk suamiku. Tidak! Tapi aku tidak selingkuh. Karena aku memang tidak ingin menghianati cintanya. Ah tapi mengapa rasanya seperti ini? Tapi rasa ini tumbuh tak terbendung lagi. Mengisi ruang hati yang sempat sepi. Setiap hari aku ingin segera menyelesaikan tugasku sebagai istri. Mengurusi dan melayani kebutuhan anak dan suami di waktu pagi. Mengantarkan kepergian mereka menuju tempat menggapai asa. Bergegas aku, menutup pintu pagar. Masuk rumah untuk segera menyelesaikan tugas yang tersisa. Harus segera selesai, agar aku bisa segera menjumpainya dan berbahagia bersamanya. Jika sehari tak dapat melihat dan merasakan keindahannya, maka hari itu seperti kehilangan makna. Ah, benar-benar aku mulai terpesona karenanya. Suamiku pernah...

Belum

Dulu Lama Kegelisahan mengajak pencarian Tak berkesudahan Amarah dan getir hati tertahan Tak terbuncahkan Mengalir butir kegundahan Mengiringi tapak demi tapak Bersama waktu Menyusuri keheningan Sendirian Kini Damai dan senyum diri Lelah, Menggoda tuh berhenti Hingga suara itu menggetarkan Langkah itu Belum boleh berhenti Disini? Tidak untuk saat ini

Pengagum kesunyian

Hening menyapa lembut Kabut menorehkan kesejukan Tak ada suara Hiruk pikuk itu untuknya Bukan untukku Hingga terdengar jelas suara hati Tak mengapa tak jadi berita Memang bukan itu tujuannya Menjadi catatan Ilahi Itu cukup Tak perlu orang lain mengerti Apalagi memahami Itu semua tak akan berarti Untuk suatu hari yang pasti Sambut dengan lega dan harapan Semoga Tuhan tidak menampik Segala persembahan Sebagai wujud pengabdian #dariHAtiUntukPahlawanTakDikenal