Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Keluarga

Being a Happy Mother

  Today is Wednesday. I am so happy because I can go jogging. I am not sure when I realized that I really like doing sports, especially walking or jogging. A long time ago, I sometimes did sports. But my life changed when the babies came. I was happy, of course. I enjoyed the time I spent with my children. But somehow, I also forgot a few things I used to like. Time flies, they have grown well. Now they are teenagers. Like any typical teenager, they have their own life. They became quieter. I know that they aren’t kids who are talkative, but the differences made me confused. Sometimes I feel they don’t need my attendance anymore. At the first time I realized it, I felt upset. I wasn’t ready to “lose” them so soon. I just want to do everything with them like what we did. But, I know it is ridiculous. I can not be so selfish and ignore the fact that they also need more space to be someone stronger and better. So, I decided to accept the reality and move on. What I do then? Of c...

Tetap Tenang Mendampingi Anak Remaja

  Mak, pernah gak merasa bingung dengan perubahan sikap anak-anak yang mulai tumbuh besar? Saya pernah dan hampir tersulut emosi dengan sikap anak remaja saya. Anak lelaki yang baru tamat SMA itu menunjukkan sikap membangkang dan tidak bersahabat. Kok mereka berubah jadi pendiam. Oke, kalau gak mau cerita gakpapa, toh mungkin memang bukan karakternya yang suka cerita, tetapi kalau jadi pendiam kan kita yang jadi emak jadi ngerasa serba salah, ya? Apa aku ada salah? Ya jelas banyak lah, Mak. Gitu aja kok nanya to, Mak. Hehehe. Oke deh, maap. Awalnya saya diamkan, tetapi lama-lama saya tidak tahan. Hehehe. Ya, mau gimana lagi. Emak-emak yang selama ini terbiasa menjadi tempat “pulang” bagi anak-anaknya, sekarang justru sedang merasa ditinggalkan. Yang agak mengaduk-aduk emosi adalah mereka kok jadi kayak ingin menunjukkan bahwa mereka gak butuh orang tuanya. Loh, loh, loh. Bagaimana bisa muncul perasaan seperti itu? Kan mereka masih membutuhkan biaya untuk macam-macam. Ya, tapi kem...

Bagaimana Menumbuhkan (Kembali) Minat Baca pada Anak-anak Kita?

  Di jaman yang dipenuhi dengan produk digital dan video pendek ini, kadang saya bingung bagaimana caranya mengembalikan anak-anak kita pada kesukaan membaca. Saya memperhatikan sekitar saya, dan menemukan bahwa semakin sedikit anak kecil dan anak muda yang masih berminat dengan membaca. Mereka lebih tertarik dengan video pendek dan tulisan pendek yang setiap hari mereka konsumsi di medsos. Bahkan kita yang belum lama kenalan dengan medsos saja langsung jatuh cinta dengan hiburan di medsos, apalagi anak-anak kita yang sejak lahir sudah dimanjakan oleh teknologi tersebut. Bagaimana pun juga, anak-anak harus kenal dan tetap suka dengan kegiatan membaca. Karena kalau mereka hanya menjadi konsumen medsos setiap hari, kemungkinan besar mereka akan kehilangan kemampuan berpikir dan berkonsentrasi dalam jangka waktu lama. Di tengah kebingungan tersebut, saya mendapatkan banyak pencerahan dari beberapa artikel. Kebetulan artikel tersebut berbahasa Inggris, tetapi isinya membuat saya seol...

Hati-hati dengan Kalimat yang Keluar dari Mulutmu, Bu

  Entah kenapa tiba-tiba saya teringat kenangan masa lalu. Kala itu saya masih kanak-kanak. Sebagai anak kecil pada umumnya, saya juga kerap bermain ke rumah teman. Bahkan kadang tidak hanya berhenti di satu rumah saja, karena justru kami akan menghampiri lebih banyak teman  lain lalu bermain bersama-sama. Sungguh masa kecil yang menyenangkan. Sayangnya, di balik semua kenangan manis tersebut, saya justru masih menyimpan kenangan tidak mengenakkan. Kejadian tidak mengenakkan itu bukan tentang saya, tetapi tentang keluarga teman saya. Sebut saja teman saya itu namanya Bunga. Bunga adalah anak sulung dan hanya mempunyai seorang adik laki-laki. Kedua orang tuanya adalah pemilik warung kelontong. Pada saat itu saya cukup sering main ke rumah Bunga karena jaraknya cukup dekat dengan rumah saya. Kami biasanya bermain di ruang tengah yang kebetulan memanjang dan jadi satu dengan warungnya. Saat sedang bermain bersama tersebut kami sering melihat adik Bunga membuka laci dan mengam...

Apa Saja Tantangan Remaja di Era Digital?

Sebagai ibu dengan dua anak laki-laki yang sudah mulai remaja, saya seringkali merasa gusar, selalu muncul kekhawatiran bahwa saya tidak bisa mengawal dua amanat yang dititipkan Tuhan ini. Untuk sedikit menambah pengetahuan saya tentang dunia anak-anak remaja sekarang maka saya sering membaca atau menyimak hal-hal yang ada kaitannya dengan remaja. Saya mencoba meringkas beberapa hal yang menjadi tantangan anak remaja di jaman teknologi digital ini. Beberapa masalah yang dialami remaja sekarang ini yaitu : Pertemanan yang toksik Pertemanan yang toksik ini tidak hanya baru muncul sekarang, sejak jaman dulu juga sudah ada tipe-tipe teman yang seperti ini. Entah apa maksudnya dengan menjadi teman yang toksik tetapi sungguh keberadaannya sangat menjengkelkan dan menakutkan bagi remaja lain seusianya. Jika tidak mempunyai kepercayaan diri yang cukup rasanya sangat sulit keluar dari pertemanan toksik ini. Jadi kuncinya adalah percaya diri dengan cita-cita sendiri dan mampu memperjuangka...

Remaja dan Organisasi Sekolah. Mengapa Berorganisasi Semenarik itu?

 " Anak ini sepertinya nurun ibunya, narsis banget. Kalau bapak kan gak gitu, bapak kayaknya gak sukan narsis-narsis kayak gitu pake acara sibuk-sibuk ngurusin organisasi segala!" Adakah yang pernah mendengar kalimat seperti di atas?  Ataukah kita yang malah sering mengucapkannya? Ya kalimat di atas adalah sebuah kalimat yang kurang lebih ingin menunjukkan ketidaksukaan seorang bapak pada anaknya yang sekarang lebih senang berorganisasi di sekolahnya. Menurutnya itu lebih ke kegiatan narsis, saya juga tidak tau persis mengapa beliau bisa beranggapan seperti itu. Tetapi wajar beliau mengatakan itu, karena setau saya di jaman beliau sekolah hingga kuliah beliau memang tidak pernah ikut organisasi, dan saya tidak pernah menanyakan penyebab aslinya mengapa beliau tidak tertarik untuk ikut organisasi. Saya sebagai orang yang waktu kecil hingga dewasa banyak mengikuti organisasi, lebih bisa mengerti mengapa ada anak yang sangat getol berorganisasi. Awal mulanya ya hanya tertar...

Apa Saja Penyebab Mental Load pada Seorang Ibu?

Pernah gak teman-teman para emak-emak merasakan pikiran kemrungsung (bahasa jawa yang artinya cemas dan merasa tergesa-gesa)? Hal ini biasanya terjadi karena pekerjaan rumah tangga yang sangat banyak hingga seolah sedang berderet menunggu dituntaskan lalu yang terjadi malah bingung harus mulai dari mana. Lalu segalanya menjadi semakin runyam karena seorang ibu yang kelelahan akan dengan mudah tersulut emosi, mudah tersinggung dan mudah marah. Rasa capek yang kerap kali muncul saat menjadi istri dan ibu tentu sudah tidak diragukan lagi. Setiap hari sibuk dengan pekerjaan yang tiada habisnya. Semua tenaga ibu terkuras bahkan energi dari dalam pun ikut tersedot. Saya adalah seorang istri dan ibu dua orang anak, beberapa tahun yang lalu saya pernah bekerja di suatu instansi pendidikan. Tetapi selama menjalaninya saya merasa tidak bahagia, ada beban yang teramat besar yang saya rasakan. Pada saat sedang merintis karier tersebut, beban dan tanggung jawab saya sebagai ibu rumah tangga ...

Memahami Arti Sebuah Pernikahan

 “A Great marriage is not when the ‘perfect couple’ comes together. It is when an imperfect couple learns to enjoy their differences.”—Dave Meurer   Kalimat di atas sedikit saya coba artikan, yaitu pernikahan yang hebat bukanlah pernikahan yang dilakukan oleh orang-orang yang sempurna, tetapi pernikahan hebat adalah pernikahan di mana isinya orang-orang yang tidak sempurna yang belajar menikmati perbedaan. Pernah mendengar sebuah nasihat bahwa pernikahan adalah ibadah seumur hidup? Ya, bagi yang telah menjalani kehidupan berumah tangga tentu paham dengan kalimat bijak tersebut. Menjalani sebuah pernikahan tentu tidaklah semudah dan seindah bayangan. Ada banyak sekali rintangan, ujian dan bahkan mungkin kekacauan yang terjadi di dalamnya. Ada masa di dalam pernikahan itu terasa sangat berat dan hampir menyerah. Tak jarang malah merutuki diri, betapa bodohnya memilih dia sebagai pasangan hidup. Heheheh…tetapi itulah ujian pernikahan. Berbagai rasa tidak enak itu mau tidak ...

Apakah Boleh Berlama-lama Gabut?

Hari ini ditelpon anak kedua. Percakapan mengalir seperti biasa. Kami adalah ibu dan anak yang berusaha untuk berbagi cerita, terutama saya. Karena saya ingin agar anak-anak juga begitu terus nantinya. Diantara isi percakapan itu adalah pertanyaan "Umi sedang apa? Umi habis melakukan apa? "Umi akan melakukan apa?"  Atau gantian saya juga akan bertanya hal yang sama "Hari ini kamu ngapain aja?, Kegiatan hari ini atau nanti apa?" Lalu ada jawaban yang tidak memuaskan saya. Jawaban itu adalah "Gak ngapa-ngapain." Jawaban yang sederhana tapi tidak akan menjadi sederhana jika diteruskan begitu saja.  "Gak ngapa-ngapain itu maksudnya apa? Definisi dari gak ngapa-ngapain itu apa? Umi kok gak ngerti ya kenapa ada orang yang gak ngapa-ngapain?"  Rentetan pertanyaan itu lebih berkesan protes dan tidak suka dengan jawabannya. Ya, memang benar saya tidak menyukai jawaban itu. Bukan karena semata-mata dijawab demikian tetapi lebih karena jika dibiarkan i...

Belajar bahasa ibu, Bahasa Jawa

Saya tinggal di Yogya, membesarkan dan mendidik anak-anak juga di kota ini. Kota Yogya masih berada di wilayah Jawa Tengah . Jadi, sudah barang tentu, bahasa ibu yang digunakan adalah Bahasa Jawa . Itu sudah harga mati, tidak boleh ditawar! Kecuali kita menginginkan anak cucu kelak tidak mengenal lagi bahasa ibunya (Bahasa Jawa). Saya bukan ibu yang baik sebenarnya, terutama dalam memperkenalkan bahasa ibu kepada anak-anak saya. Ada banyak alasan saya untuk itu *hhh… terlalu banyak alasan, atau memang sengaja ngeles. Hehehe, tetapi tentu saja saya tetap ingin memperbaiki keadaan, sekaligus juga dipaksa oleh keadaan untuk dapat mengajari anak-anak berbicara dan mengerti Bahasa Jawa *iya, karena pelajaran Bahasa Jawa ada di mapel sekolah dasar hehehe … Oke, ternyata di tengah masa saling belajar itu, saya menemukan kejanggalan … Apakah itu? Ternyata eh ternyata, kosakata Bahasa Jawa sudah merupakan hal yang merepotkan untuk dapat mempelajari bahasa tersebut. Banyak sekali kata-ka...

Lepas Mukenanya Saja

Pengalaman ini sebenarnya bukan pengalaman saya pribadi. Tetapi pengalaman teman saya yang saya saksikan sendiri juga kejadiannya. Kejadiannya saat saya menjadi salah satu siswi di SMU Negeri di kota tempat tinggal saya, Yogyakarta. Ceritanya begini ... Saat bel tanda istirahat berbunyi. Kami para siswi segera berhambur keluar kelas. Kebanyakan menuju mushola sekolah untuk melaksanakan sholat Dhuhur. Karena jika tidak lapar betul, biasanya kami memilih sholat dulu baru kemudian jajan di kantin sekolah. Saya beserta teman-teman juga memadati mushola sekolah yang sebenarnya sudah cukup luas itu. Meski kami bersekolah di sekolah Negeri tetapi saat ada pelajaran Agama biasanya para siswa putri diwajibkan memakai jilbab.  Hari ini kebetulan kelas 3 IPA 1 (kelas saya) ada pelajaran agama. Jadi hampir semua siswi memakai jilbab. Semua terlihat cantik dan rapi. Apalagi saat rombongan berjilbab rapi itu berbondong-bondong menuju mushola sekolah. Terlihat menyejukkan pandangan. Sel...

Obrolan Meja Makan

Melanjutkan cerita tentang   Mumun   yang sedang memperjuangkan perkataan cinta dari suaminya. Pagi ini Mumun dan Maman sedang sarapan bersama. Kebetulan hari ini mereka sarapan tanpa anak-anak. Karena anak-anak sudah berangkat sekolah. Mumun yang memang senang caper (cari perhatian) dan sedikit   menthel   (centil) senantiasa mencuri-curi kesempatan untuk bermanja-manja dengan suaminya. Dan pagi itu sepasang suami istri itu makan bersama sambil tentunya ngobrol santai. "Pah, Mamah pernah dengar nanti kalau kita sudah meninggal, jika kita tinggal di surga maka istri akan ditemani oleh suaminya yang terakhir.  Maksudnya laki-laki yang terakhir menjadi suami itulah yang akan menemani sang istri di surga." Mumun berusaha menjelaskan.*entah dapat ilmu dari mana Si Mumun* Tapi yang jelas Mumun bercerita dengan semangat. "Kalau begitu Mamah tidak akan menikah lagi jikalau Papah meninggal duluan. Supaya kalau Mamah udah meninggal dan boleh tinggal di surg...

Bagaimana Cara Menyiapkan Liburan agar Tetap Menyenangkan dan Bermakna?

Liburan akhir semester dan akhir tahun sudah di depan mata. Anak-anak riang bukan kepalang. Membayangkan bebasnya hari-hari mereka tanpa tumpukan tugas, PR dan belajar. Tetapi saya kok malah agak riweuh mempersiapkannya. Hehehe. Karena saya tidak ingin liburan anak-anak hanya diisi dengan rutinitas yang kurang bermanfaat. Saya memang berusaha membuat anak-anak tidak semakin jatuh cinta dengan TV dan gadget. Penyebab mengapa saya menghindari kedua piranti tersebut tentu tidak perlu saya sebutkan karena sudah banyak ahli yang menyarankan dan memberi penjelasan mengenai hal tersebut. Lalu bagaimana agar waktu liburan yang cukup panjang itu dapat berkesan bagi anak-anak tetapi juga ada efek positif khususnya bagi mereka. Karenanya saya coba ngubek-ubek artikel tentang liburan dan inilah hasilnya yang telah saya sesuaikan dengan kebutuhan keluarga kami: 1.   Isi liburan dengan kegiatan yang menunjang kreatifitas anak misal membuat kerajinan tangan bersama-sama. Belum lama ini...