Langsung ke konten utama

Bagaimana Meringankan Tanggung Jawab Kita?

 "Anda tidak akan bisa lari dari tanggung jawab pada hari esok dengan menghindarinya pada hari ini." –Abraham Lincoln

Apakah masih ada yang lari dari tanggung jawab ? Atau mungkin diantara kita yang masih sering menunda pekerjaan dan tanggung jawab? Tentu semuanya pernah melakukannya kan. Saya juga termasuk yang sering menunda pekerjaan tapi semoga tidak termasuk yang sering lari dari tanggung jawab ya hehehe. Rasanya berat saat akan melakukan pekerjaan tersebut. Entah karena alasan apa, tetapi menunda sebuah pekerjaan atau tanggung jawab seolah-olah dianggap sebagai penyelamat. Padahal menunda pekerjaan itu sama artinya kita menunda penderitaan kita. Toh akhirnya kita juga yang harus bertanggung jawab mengerjakannya, lalu kalau ditunda apakah akan berkurang bebannya, tentu tidak bukan? Justru yang ada kita akan semakin kewalahan karena tumpukan pekerjaan hasil penundaan yang selama ini kita lakukan. Sama seperti yang dikatakan Abraham Lincoln di awal, sesuatu yang menjadi tanggung jawab kita akan selamanya harus kita penuhi, kecuali kita memang rela menjadi orang yang tidak bertanggung jawab yang artinya kita tidak bisa menjadi orang yang bisa dipercaya. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa merasa ringan dalam melakukan tanggung jawab pekerjaan kita?

  • Mengerjakan dari yang paling mudah dijangkau oleh kita

Melakukan sesuatu yang bukan keinginan kita kadang membutuhkan dorongan semangat yang tinggi. Berbeda jika kita melakukan hal-hal yang memang kita sukai, tentu kita akan melakukannya dengan senang hati meski tidak ada yang menyuruh. Tetapi semakin dewasa seseorang tentu dituntut tanggung jawab yang lebih tinggi. Mungkin itu yang membedakan orang dewasa dengan yang belum dewasa. Orang dewasa adalah orang yang berusaha melakukan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya tanpa sibuk mencari berbagai alasan untuk bisa menghindari tanggung jawab tersebut. Sebagai contoh seorang mahasiswa (dalam hal ini tentu saja mahasiswa sudah bisa dikategorikan sebagai manusia dewasa) dituntut untuk bisa menjalani perkuliahan dengan sebaik-baiknya tanpa banyak aturan seperti waktu masih sekolah di tingkatan sebelumnya. Untuk itu dalam menjalaninya akan sangat terlihat mahasiswa yang sudah dewasa dan belum. Mahasiswa yang sudah dewasa akan berusaha melakukan tanggung jawab perkuliahan dengan berbagai kebebasan yang dimilikinya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa waktu belajar mahasiswa tentu lebih banyak harus dilakukan secara mandiri dari pada tatap muka dengan dosen pengajar. Tanpa memiliki sikap tanggung jawab maka mahasiswa akan banyak menemui kesulitan dalam melakoni perannya sebagai mahasiswa yang baik. Lalu tumbuh lagi menjadi orang yang lebih dewasa misalnya menikah tentu saja tanggung jawabnya juga akan semakin meningkat. Maka semakin besar dan berat tanggung jawab itu membutuhkan strategi agar dalam melaksanakannya tetap terasa ringan yaitu dengan memulai dari yang paling bisa kita lakukan, dengan fasilitas yang ada di sekitar kita saat ini. Tidak perlu menunggu sebuah kondisi ideal untuk melakukan tanggung jawab kita, maka lambat laun tanggung jawab kita akan terpenuhi. Kerjakan saja sedikit demi sedikit tanpa perlu banyak memikirkannya, karena pekerjaan ringan sekalipun tidak akan selesai jika tidak dikerjakan dan hanya dipikirkan saja. Jadi mulai saja dari yang paling bisa kita jangkau, setelah kita mulai bergerak melaksanakan sesuatu maka secara tidak sadar kegiatan akan terus berlanjut hingga akhirnya kita bisa menyelesaikan pekerjaan dan tanggung jawab kita.

  • Disiplin

Melaksanakan pekerjaan dan tanggung jawab tidak akan tercapai jika kita tidak mendisiplinkan diri. Saya pernah mendengar suatu nasihat yang intinya adalah tidak setiap waktu kita termotivasi maka langkah terbaik untuk terus maju adalah dengan berdisiplin. Apapun bentuknya tujuan itu tidak akan tercapai jika kita tidak disiplin dan konsisten menjalankannya. Semakin dipikir maka semakin terasa berat, maka yang bisa dilakukan adalah dengan membagi dan memperjelas ruang lingkup tanggung jawab kita, mengelolanya dalam bagian-bagian yang lebih sederhana dan mudah dikerjakan lalu membuat daftar pekerjaan dan tanggung jawab dan terakhir disiplin melaksanakan rencana yang sudah dibuat. Disiplin terdengar sebagai aktivitas yang berat, tetapi sebenarnya kita bisa lebih mudah disiplin jika sudah ada perencanaan dan jadwal pekerjaan lalu mengerjakannya tanpa banyak berpikir. Sekali lagi, kadang kebanyakan berpikir justru membuat kita merasa semakin berat melakukan sesuatu. Membayangkan bahwa deretan to do list yang telah kita buat itu akan melelahkan malah membuat kita tidak jadi melakukan apa-apa. Yang berarti kita sedang menggiring diri sendiri pada kegagalan dalam melaksanakan tanggung jawab.

  • Semua orang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya

Dulu waktu saya kuliah pernah mendengar ada hadits yang mengatakan bahwa:

“Semua kamu adalah pemimpin dan seluruh pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang mereka pimpin. Imam (presiden, raja) adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Suami adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas keluarganya itu. Istri adalah pemimpin di rumah tangganya dan bertanggung jawab atas rumah tangganya itu. Pembantu adalah pemimpin bagi harta tuannya dan bertanggung jawab atasnya. Dan, kalian semua adalah pemimpin serta bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Setelah membaca hadits ini tentu kita semakin yakin bahwa melakukan tanggung jawab memang bagian dalam berbuat baik. Selain tentu saja dengan melakukan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya hal itu akan membuat kita menjadi lebih dapat dipercaya. Karena kalau kita mau melaksanakan bagian masing-masing atau tanggung jawab masing-masing maka keseimbangan dan keharmonisan dalam hidup akan semakin mudah tercapai. Misalnya saja seorang suami melaksanakan kewajibannya misal mencari nafkah sebaik-baiknya dan melakoni perannya sebagai suami dengan baik. Istri juga demikian, menjalankan semua tugas dan fungsinya dengan baik. Maka sudah bisa dibayangkan bahwa rumah tangga mereka berjalan dengan harmonis. Masalah tentu tetap ada, tetapi jika semua menyadari peran dan fungsinya dan melaksanakannya dengan bertanggung jawab maka segala permasalahan itu akan semakin meningkatkan nilai mereka masing-masing. Begitu juga dengan peran-peran yang lain misalnya sebagai anak, sebagai adik, sebagai tetangga, sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa jika semua mengetahui perannya dan bertanggung jawab di dalamnya maka impian sebuah kehidupan yang harmonis akan lebih mudah tercapai.

  • Menjadi orang yang bertanggung jawab itu keren

Pernah gak mendengar sebuah kalimat yang menyindir yang berbunyi kurang lebih begini:

"Rajin banget sih kamu, sok banget ya pingin dibilang yang paling rajin, hebat, bertanggung jawab dan lain-lain…."

Kalimat yang bisa beragam bentuknya tetapi kurang lebih isinya adalah sindiran akan sebuah tindakan yang mengacu pada mengemukakan tanggung jawab dan kebaikan. Jika mengambil kosa kata anak jaman sekarang mungkin kalimat tersebut bisa disebut dengan kalimat toxic, yang mengungkapkan juga orang toxic dan jika itu berupa sebuah lingkungan pertemanan atau pergaulan maka bisa disebut sebagai lingkungan yang toxic. Memang benar bahwa kita dianjurkan untuk menjaga jarak dengan orang-orang dan lingkungan seperti itu. Karena kita jadi lelah gak sih kalau bergaul di lingkungan seperti itu. Kalau kita mau jujur, bukankah melakukan tanggung jawab itu adalah hal yang wajar dan seharusnya memang semua orang memiliki kesadaran serupa. Tetapi karena kita salah mengambil tempat, salah memilih teman dan lingkungan yang terjadi justru sebaliknya menjadi orang yang bertanggung jawab malah dianggap sebagai hal yang memalukan dan sebaiknya tidak dilakukan. Menjadi pelajar yang rajin adalah bentuk tanggung jawab tetapi akan berbeda makna dihadapan anak yang belum memilikinya. Menjadi suami yang rajin bekerja misalnya adalah bentuk pertanggungjawaban yang layak dijadikan contoh, tetapi jika mempunyai teman yang tidak bertanggung jawab maka sikap itu akan dicemooh dan dianggap sebagai suami takut istri. Menjadi istri yang berbakti dan mengerjakan tugasnya dengan baik akan diuji dengan berbagai anggapan bahwa dirinya tidak memiliki nilai di mata suami hingga harus mengabdi dan masih banyak contoh lainnya. Padahal kan memang begitulah seharusnya kehidupan bekerja. Semua akan berjalan dengan normal jika tidak ada yang saling ambil peran orang lain, cukup mengerjakan perannya masing-masing dengan baik maka kehidupan ini akan menjadi seperti yang kita inginkan bersama. Jadi kapan mulai bisa bertanggung jawab dalam hidup? Karena menjadi manusia yang bertanggung jawab itu keren lho.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[EF#13] Badminton or Aerobic?

What kind of sport do I prefer to stay healthy? Hmmm … it’s interesting. BEC always make me smile when I read their challenges every weeks. The challenges burn my mind and refreshing my day. Yeay! Ok it’s enough making BEC 's team blushing hehehe. Back to the topic, actually I like sport eventhough I am not discipline enough in it *errrr … somebody please help me out of that undisciplined manner. It’s mean sometimes yes sometimes, I do sport and enjoy that activities. There are few kind of sport that I rarely do together with my family, like bicycling around the village enjoying the sunrise moment or sometimes I prefer playing badminton with my sons and the other times I choose to do aerobic. Which one that I like among them? Hmmm that's all interesting and make my day. But actually I like aerobic better than others hehehe. Why? Oh yes, because aerobic can make me moving and relaxing of course. The music that escort until the aerobic is so relaxing. Slow music and...

[EF#16] Sweet Memory from The Past

Hmmm get this challenge just turn back my memory about my grandmother. Yup, when I was a little girl, my grandmother often tell bedtime stories while for lice (there is no flea in my hair, but my grandmother always do it for me). Yes, I am so lucky that I had got that wonderful memories in my life. I am not sure, but my reading addict may be growing by that beautiful moments.  There were a lot of storytales that I have heard from my grandmother. Start from the legendary tale it is deer stealing cucumbers (Kancil Nyolong Timun), story about deer with crocodile, deer with tiger, storytale about frogs, until the story of flea. And do you know? That stories were repeated every night hahaha. Even though I have never complained about it, instead really enjoy it.  From that storytale I have learned so many things. I grow with that story affect and with that beautiful experiences. I would feel sad when one of the actors got supressions, or I became angry to someone else whose bad...

Menjadi Mompreneur? Ya iyalah!

Mompreneur. Keren ya kedengarannya? Yup, mompreneur ini istilah yang menggambarkan seorang ibu rumah tangga yang bekerja dari rumah. Jadi maksudnya, si ibu bekerja tetapi juga mengurus semua kebutuhan rumah tangga. Dan itu dilakukan dari rumah saja, tidak perlu pergi pagi pulang petang.  Hmmm, membayangkannya saja sudah ribet apalagi menjalaninya. Ibu dengan tumpukan tanggung jawab harus bekerja di rumahnya. Apa ga bingung tuh memilah prioritas pengerjaan tugasnya? Lebih baik jangan dibayangkan deh, tetapi langsung dicoba saja. Dijamin seru. Dan lagi mompreneur ini sekarang memang lagi booming banget.  Mengapa begitu? Karena ada banyak hal yang membuat mompreneur menarik sekaligus menggiurkan untuk para ibu rumah tangga, termasuk saya. Apa saja sih alasan ibu rumah tangga memilih menjadi mompreneur? Berdasarkan pengalaman sendiri dan teman ternyata ada beberapa alasan mengapa memilih menjadi mompreneur. Apa sajakah itu?  Please check this out. 1. Keingina...