Selasa, 19 Agustus 2014

Mendampingi Anak Belajar Puasa

Mendampingi Anak Belajar Puasa


*Tulisan ini dibuat pada bulan Ramadhan 1435 H

Ini adalah tahun ketiga bagi saya dalam mendampingi anak-anak berpuasa Ramadhan. Tiga tahun lalu, saat memulai proses belajar puasa, si sulung berumur 5 tahun dan adiknya berumur 4 tahun. Sebenarnya tidak diniatkan dari sebelum Ramadhan kalau saat itu anak-anak akan mulai belajar puasa. Hehehehe maklum saya termasuk ibu yang sering tidak tegaan terhadap anak-anak. Saya tidak tega membayangkan anak-anak kehausan dan menahan lapar. Tetapi, Alhamdulillah ketika itu, awal Ramadhan sampai dengan selesainya, saya dan keluarga (suami dan anak-anak) sedang berlibur di rumah mertua. Dan suasananya sangat kondusif untuk kondisi kami waktu itu untuk mengajari anak-anak puasa. Anak-anak sangat mengidolakan kakak sepupunya yang kebetulan tinggal di belakang rumah mbah-nya. Dan kebetulan lagi, sepupunya yang waktu itu duduk di kelas 1 SD (Sekolah Dasar), sudah menjalankan ibadah puasa semenjak dia duduk di TK (Taman Kanak-kanak). Wah, hal itu membuat saya dan suami bertamba semangat dalam melatih anak berpuasa. :)


Di hari pertama puasa, anak-anak masih sahur sesuai dengan jam mereka bangun tidur, jadi tidak secara khusus dibangunkan pada waktu sahur dan itupun masih puasa setengah hari (puasa bedhug, kalau orang jawa bilang) lalu dilanjutkan puasa sampai adzan maghrib. Latihan puasa seperti ini berlangsung kira-kira seminggu. Minggu selanjutnya anak-anak mulai belajar makan sahur sesuai dengan waktu sahur yang sebenarnya, tetapi masih dengan puasa bedhug :). Setelah anak-anak terbiasa dengan puasa, akhirnya kami memberanikan diri untuk melatih puasa full untuk anak-anak. Inilah latihan yang sebenarnya, bukan hanya untuk anak-anak, tetapi juga untuk kami orang tuanya. terasa berat, bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga kami, orang tuanya, khusunya saya :). Karena anak-anak lebih berani, atau mungkin lebih tepatnya mereka lebih nyaman merengek pada ibunya. Jadilah saya harus berusaha tahan banting untuk enanggapi setiap rengekan mereka (padahal dalam hati saya tidak tegaaaa.....).

Saya coba menerapkan jurus reward and punishment untuk membantu mempermudah proses pelatihan puasa Ramadhan saat itu. "Mainan" menjadi senjata saya untuk mensukseskan program reward punishment tersebut. Cara itu saya lakukan agar anak-anak lebih bersemangat dan tentunya dapat mengurangi beragam tingkah yang mengganggu proses pelatihan puasa (dan tentunya meringankan beban saya hehehe). Saya buatkan draft sederhana yang berisi kolom-kolom untuk menilai tingkah laku dan puasa mereka). Draft itu hanya berisi nama mereka dan kolom untuk diisikan jumlah bintang sesuai dengan prestasi yang dibuat mereka dalam satu hari tersebut. Semakin sholih, maka bintang yang diperoleh akan semakin banyak dan kesempatan mendapatkan mainan sesuai pilihan mereka akan semakin mudah mereka peroleh. Jurus ini cukup sukses mendamaikan hari-hari kami :).

Dalam masa pelatihan itu, setiap berlalunya menit, jam dan hari saya rasakan dan saya hitung hehehe. Hal-hal lucu dan mengharukan mewarnai hari-hari kami selama melatih anak-anak puasa. Mulai dari si sulung yang kedapatan minum air ketika kumur-kumur pas wudhu maupun sikat gigi dan si kecil yang di waktu-waktu Ashar selalu bingung mencari saya di dapur yang sedang menyiapkan hidangan berbuka. Pernah suatu kali, mungkin karena sudah terlampau lapar dan sudah tidak kuat menahannya, anak saya yang paling kecil merengek "Ummi, aku lapar banget. Rasana seperti mau mati." Hehehehe saya geli sekaligus terharu mendengarnya, yang kemudian saya usap kepalanya sambil berkata " Sebentar lagi kan waktu berbuka,  sayang kalo harus buka duluan. Ini ummi lagi buatkan es teh kesukaanmu, jadi tahan sebentar lagi ya." Alhamdulillah akhirnya ujian hari itu dapat terlampaui juga (legaaa banget rasanya). Hingga hari-hari yang tidak ringan itu pun berlalu dengan senyum di setiap waktu berbuka :). 

Hari yang dinanti pun tiba, waktunya berlebaran. Horeeee....Anak-anak merasa senang karena sudah tidak puasa lagi dan tentunya dapat hadiah mainan kesukaan karena telah lulus latihan puasanya. Dan tentunya kami, orang tuanya, merasa lebih berbahagia karena dapat mendampingi dan mendidik anak belajar puasa pertamanya. Alhamdulillah, kami sangat bersyukur karena berbagai kemudahan yang kami peroleh dalam melatih anak-anak berpuasa yang pertama. Lingkungan khususnya keluarga sangat menentukan keberhasilan pelatihan tersebut.  Dan di tahun ke tiga ini, masih dengan tantangan yang sama yaitu meng-istiqomah-kan anak-anak dalam berpuasa. Tambahan tugas di tahun ini yaitu menyisipkan pesan kejujuran untuk anak-anak. "Nak, tidak ada yang tahu tentang puasa kita, apakah kita benar-benar berpuasa atau tidak. Tetapi Allah SWT pasti mengetahuinya". :)

Selamat menjalankan ibadah puasa dan selamat berproses mendampingi anak-anak belajar puasa. :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar