Senin, 17 Maret 2014

Open Source Software untuk Indonesia

Open Source Software untuk Indonesia


Pemerintah dalam hal ini Kementrian Riset dan Teknologi (Kemenristek) sepertinya sedang gencar mendukung program pengembangan dan penggunaan Open Source Software (OSS) untuk dapat diterapkan dalam pengembangan sistem informasi yang ada di Indonesia khususnya untuk instansi baik di pusat maupun daerah, sehingga menargetkan 2 tahun kedepan sejumlah 500 pemerintah daerah (pemda) menggunakan sistem teknologi informasi berbasis open source. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa belum lama ini juga telah digelar Indonesia Creative Open Source Software 2013 (ICroSS 2013), yang bertujuan memperluas wawasan bagi industri maupun regulator untuk lebih terlibat dalam rangka menumbuhkembangkan industri berbasis teknologi OSS, sekaligus membuka wawasan bagi industri dan regulator untuk mengkaji dan memahami tantangan penerapan OSS. Hal tersebut semakin memperkuat dorongan dalam menggunakan teknologi OSS untuk pengembangan sistem informasi diIndonesia.

Menurut definisi yang diberikan oleh Open Source Initiative (www.opensource.org), software open source (OOS) memungkinkan penggunanya untuk dapat mengakses ke dalam sumber kode software (source code), menggunakan, memodifikasi dan mendistribusikan software tersebut secara gratis maupun komersial (berbayar). Menurut suatu penelitian diperoleh data bahwa berbeda dari software komersial, proyek OSS sebagian besar tergantung pada pengembang yang sukarela sehingga indikator keberhasilan suatu software seperti pada software komersial tidak dapat diterapkan di software dengan teknologi OSS ini. Sehingga kesesuaian waktu, anggaran dan pemenuhan spesifikasi tidak berlaku untuk proyek-proyek dengan teknologi OSS. Meski hal tersebut sekarang tidak sepenuhnya dapat diterima setelah melihat berbagai keberhasilan dan kehandalan produk sistem informasi yang berhasil dikembangkan dengan menggunakan teknologi OSS.

Alasan yang mendasari berkobarnya semangat pemerintah dalam penggunaan teknologi OSS ini adalah keberhasilan sistem e-government di Pekalongan yang berhasil menghemat milyaran rupiah setelah menggunakan teknologi OSS, juga karena tersebarnya komunitas pengembang software open source diseluruh Indonesia, sehingga potensial diimplementasikan oleh masyarakat luas. Tetapi selain alasan di atas banyak juga kelebihan dalam menggunakan teknologi OSS diantaranya yaitu mengurangi ketergantungan pada vendor tertentu, yang tentu menuntut kreativitas tinggi untuk dapat mengembangkan sebuah perangkat lunak yang berkualitas tinggi, penghematan biaya, mengurangi pembajakan serta kelebihan lainnya. Tetapi, tentu saja ada kelemahan yang mengiringi berbagai kelebihan yang ditawarkan oleh teknologi OSS ini diantaranya yaitu teknologi kebanyakan hardware yang ada sekarang tidak sesuai untuk software open source, masalah keamanan software juga merupakan tantangan dalam teknologi ini disamping kesulitan mempelajari teknologi OSS yang tidak dapat langsung digunakan karena biasanya tidak dapat selesai dipelajari dalam satu hari.

Berbagai kelebihan dan kelemahan diatas merupakan tantangan yang harus diselesaikan jika ingin menggunakan teknologi OSS ini dalam pengembangan sistem informasi khususnya di tingkat pemerintah yang pasti membutuhkan kehandalan dari sistem informasi yang digunakan dalam rangka meminimalkan resiko dan meningkatkan kualitas layanan. Potensi yang telah ada tidak akan berarti jika tidak ada dukungan nyata dari pemerintah.

Dukungan yang sangat diharapkan berupa komitmen penuh dari pemerintah untuk tetap mendukung secara moril dan materiil sehingga ada keberlanjutan proses. Dukungan pemerintah (Kemenristek) sangat penting karena selaku pimpinan dalam proyek pengembangan sistem informasi berbasis OSS di Indonesia, pimpinan harus ikut terlibat sehingga proyek pengembangan dapat terus diawasi dan dikendalikan agar sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Dan dukungan pemerintah harus selalu berlanjut secara terus menerus karena proyek pengembangan sistem informasi berbeda dengan proyek yang lain. Pengembangan sistem informasi bukanlah pengembangan yang setelah selesai dikembangkan lantas selesai tugasnya, akan tetapi merupakan proses berkelanjutan dimana hasil usaha tidak dapat dirasakan dalam waktu singkat. Karena tidak akan ada artinya keberhasilan dalam satu tahap jika tidak diikuti dengan penjagaan dan peningkatan keberhasilan pada tahapan selanjutnya.Dan biasanya ini adalah penyakit yang ada di pemerintah seperti yang sudah-sudah, dimana pemerintah menginginkan keberhasilan instant yang dapat dilihat dan dirasakan dalam waktu cepat.
Keberhasilan yang berkelanjutan dapat dicapai jika ada dokumentasi yang jelas mengenai langkah dan berbagai hal yang telah dilakukan dalam pengembangan proyek sistem informasi berbasis teknologi OSS. Dokumentasi yang penting harus dilakukan adalah mendokumentasikan dan mengelola semua pengetahuan yang ada dengan menggunakan alat bantu berupa KMS (Knowledge Management Systems). Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management) adalah serangkaian proses yang dikembangkan dalam suatu organisasi untuk menciptakan, mengumpulkan, memelihara dan mendiseminasikan pengetahuan organisasi tersebut. KMS merupakan sistem menajemen pengetahuan yang dapat dikembangkan untuk mengelola semua pengetahuan yang ada sehingga dari pengetahuan-pengetahuan yang ada tersebut dapat meningkatkan kualitas dan produktivitas. Karena dengan menggunakan KMS, berbagai pengetahuan baik yang berujud (eksplisit) maupun yang tidak berujud (tacit/implisit) dapat dikelola untuk tujuan meningkatkan nilai dari informasi dan pengetahuan tersebut.

Pengembangan suatu sistem informasi merupakan proses yang menghasilkan dan membutuhkan kumpulan pengetahuan untuk dapat meningkatkan nilai dan manfaat sistem informasi tersebut, sehingga pengetahuan-pengetahuan yang ada tepat jika dikelola dengan menggunakan alat bantu KMS tersebut. Kegiatan manajemen pengetahuan biasanya bertujuan untuk mencapai suatu hasil tertentu seperti pengetahuan bersama, peningkatan kinerja, keunggulan kompetitif maupun tingkat inovasi yang lebih tinggi.

Dalam menggunakan KMS untuk membantu keberhasilan pengembangan sistem informasi berbasis OSS maka budaya tukar menukar pengetahuan menjadi keharusan, sehingga tidak ada lagi pengetahuan individual yang disimpan rapat sebagai kompetensi pribadi. Karena kumpulan pengetahuan yang tervalidasi dan terdokumentasi tersebut merupakan sumber kekuatan dalam organisasi maupun pemerintah. Kegiatan saling berbagi atau tukar menukar pengetahuan bukan hal sepele apabila dikaitkan dengan sumber penghidupan seorang manusia. Sehingga dorongan dan langkah strategis pemerintah merupakan langkah penting untuk mendorong keberhasilan penerapan KMS dalam proyek pengembangan sistem informasi berbasis teknologi OSS. Reward (imbalan) sebagai salah satu strategi pendorong semangat dan kesediaan dalam berbagi pengetahuan untuk kepentingan pengembangan sistem informasi berbasis OOS harus dijelaskan dan ditepati.

Jadi untuk mencapai keberhasilan dalam pengembangan sistem informasi berbasis teknologi OSS, dukungan penuh dan berkelanjutan dari pemerintah mutlak diperlukan. Selain tentu saja semangat demi kemajuan bangsa dari para anggota komunitas pengembang software open source. Jika pemerintah bersungguh-sungguh dalam program pelayanan terhadap masyarakat maka hal tersebut tidaklah sulit. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar