Langsung ke konten utama

Berprasangka Baik Kepada-Nya


Pernah suatu ketika di sebuah kajian rutin yang saya ikuti, seorang teman menyeletuk sebuah hal yang membuat saya cukup lama merenunginya bahkan berusaha mencari jawaban dengan mengajak berdiskusi beberapa orang yang saya anggap “mengerti”. Ketika itu, pembicaraan menyoroti masalah syukur dan mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya.

Ketika semua orang sedang khusuk menyimak, salah seorang teman saya tersebut berujar “Tapi menjalani kehidupan saat ‘diatas’ tentu lebih mudah kan ya bu, dari pada menjalani kehidupan saat berada ‘dibawah’.”  Saya agak tersentak dengan kalimat yang diucapkan teman saya tersebut. Dan berbagai jawaban berusaha saya cari untuk dapat menolak anggapan ibu itu. Hingga beberapa hari setelahnya, pernyataan mengagetkan itu masih saya cari jawaban sebenarnya.

Setelah beberapa hari kemudian, ada jawaban dari teman saya yang saya ajak diskusi mengenai hal tersebut. Dari pembicaraan tersebut satu kesimpulan yang dapat diambil bahwa, sikap tersebut dapat dengan mudah menunjukkan bahwa orang yang merasa demikian adalah orang yang belum dapat menerima segala karunia-Nya dan mungkin belum dapat mensyukurinya. Padahal menurut saya, orang yang tidak dapat mensyukuri segala ketentuan-Nya berarti orang tersebut sedang membuka pintu-pintu kemalangan yang lain.

Benar sampai saat kalimat itu meluncur dari teman saya, tidak pernah terlintas akan ada ungkapan perasaan yang saya anggap jujur tersebut. Peristiwa tersebut selalu teringat dalam pikiran saya. Perasaan takut menyelinap dalam diri saya, saya sangat takut jangan-jangan saya juga seperti itu. Menerima saat bahagia tetapi memberikan penolakan terhadap kemalangan.

Ah tapi apakah kemalangan itu? Benarkah sebuah kemalangan memang kemalangan untuk kita? Ternyata tidak! Kita saja mungkin yang kurang menyadari bahwa kemalangan yang kita rasakan itu sebenarnya bukanlah kemalangan, karena terselip kebaikan dan keindahan di baliknya.

Peristiwa yang kita anggap kemalangan itu bisa jadi adalah perlindungan-Nya terhadap keburukan di sebalik kebahagiaan yang kita agungkan sebelumnya. Lalu apakah pantas kita menerima kebahagiaan dan menolak sebentuk tekanan? Tanpa kita tahu maksud sebenarnya? Harus menjadi pegangan bahwa kita memang harus senantiasa mengingat untuk selalu berprasangka baik pada-Nya.

Jika kita meyakini bahwa apapun yang kita miliki adalah kebaikan yang diberikan untuk kita, maka semoga kejadian apapun tidak akan mengurangi nilai kecintaan kita pada pengupayaan meninggikan derajat kita dihadapan-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[EF#13] Badminton or Aerobic?

What kind of sport do I prefer to stay healthy? Hmmm … it’s interesting. BEC always make me smile when I read their challenges every weeks. The challenges burn my mind and refreshing my day. Yeay! Ok it’s enough making BEC 's team blushing hehehe. Back to the topic, actually I like sport eventhough I am not discipline enough in it *errrr … somebody please help me out of that undisciplined manner. It’s mean sometimes yes sometimes, I do sport and enjoy that activities. There are few kind of sport that I rarely do together with my family, like bicycling around the village enjoying the sunrise moment or sometimes I prefer playing badminton with my sons and the other times I choose to do aerobic. Which one that I like among them? Hmmm that's all interesting and make my day. But actually I like aerobic better than others hehehe. Why? Oh yes, because aerobic can make me moving and relaxing of course. The music that escort until the aerobic is so relaxing. Slow music and...

[EF#16] Sweet Memory from The Past

Hmmm get this challenge just turn back my memory about my grandmother. Yup, when I was a little girl, my grandmother often tell bedtime stories while for lice (there is no flea in my hair, but my grandmother always do it for me). Yes, I am so lucky that I had got that wonderful memories in my life. I am not sure, but my reading addict may be growing by that beautiful moments.  There were a lot of storytales that I have heard from my grandmother. Start from the legendary tale it is deer stealing cucumbers (Kancil Nyolong Timun), story about deer with crocodile, deer with tiger, storytale about frogs, until the story of flea. And do you know? That stories were repeated every night hahaha. Even though I have never complained about it, instead really enjoy it.  From that storytale I have learned so many things. I grow with that story affect and with that beautiful experiences. I would feel sad when one of the actors got supressions, or I became angry to someone else whose bad...

Menjadi Mompreneur? Ya iyalah!

Mompreneur. Keren ya kedengarannya? Yup, mompreneur ini istilah yang menggambarkan seorang ibu rumah tangga yang bekerja dari rumah. Jadi maksudnya, si ibu bekerja tetapi juga mengurus semua kebutuhan rumah tangga. Dan itu dilakukan dari rumah saja, tidak perlu pergi pagi pulang petang.  Hmmm, membayangkannya saja sudah ribet apalagi menjalaninya. Ibu dengan tumpukan tanggung jawab harus bekerja di rumahnya. Apa ga bingung tuh memilah prioritas pengerjaan tugasnya? Lebih baik jangan dibayangkan deh, tetapi langsung dicoba saja. Dijamin seru. Dan lagi mompreneur ini sekarang memang lagi booming banget.  Mengapa begitu? Karena ada banyak hal yang membuat mompreneur menarik sekaligus menggiurkan untuk para ibu rumah tangga, termasuk saya. Apa saja sih alasan ibu rumah tangga memilih menjadi mompreneur? Berdasarkan pengalaman sendiri dan teman ternyata ada beberapa alasan mengapa memilih menjadi mompreneur. Apa sajakah itu?  Please check this out. 1. Keingina...