Langsung ke konten utama

Perjalanan Mimpiku (1)




Sudah ba’da Ashar, dan belum ada satu tulisan pun untuk hari ini. Padahal sudah niaaat banget harus buat tulisan minimal 1 dalam 1 hari. Hehehe. Sebenarnya banyak ide berseliweran tetapi kabur seiring derap langkah kakiku menyusuri jalanan panjang siang ini.

Ah tidak boleh menyalahkan apapun dan siapapun. Salah sendiri, kenapa tadi tidak menuliskan ide-ide itu meski harus setengah berlari memburu “kepastian”, meski harus tetap pegang setir. “Gawat! Jika sampai hari ini bolong, tidak membuat satu tulisan pun. Pasti bakalan merembet di hari-hari berikutnya.”  begitu pikirku.

Coba ubek-ubek blog teman-teman blogger. Sapa tahu ada ide nyantel di kepala setelah baca tulisan teman-teman yang lain. Yang ada malah asyik membaca karya para blogger yang keren-keren bgt.

Selama 2 hari ini, disela-sela kegiatan ku yang lumayan padat. Hehehe sengaja dipadet-padetin, supaya terbiasa. Siapa tahu suatu saat nanti, aku jadi penulis yang sudah pandai menulis. Sehingga banyak penerbit yang ingin aku menulis buku untuk mereka. Hahaha ngarep betuull! Nah sekarang latihan dulu jadi orang sibuk, supaya saat benar-benar sibuk nantinya, aku sudah tidak kaget lagi. Halah iki opo J

Saya ulangi, selama 2 hari ini saya menemukan blog teman-teman blogger yang super keren sampai tidak sampai hati saya untuk menutup halaman blognya. Aiihhh segitunya…hehehe. Betul! Beneran! Saya sampai bingung mau baca yang mana dulu, saking semuanya bagus-bagus banget.

Ya! Tulisannya itu lho keren abiisss. Memang beliau-beliau ini sepertinya sudah lama malang melintang di dunia penulisan. Terbukti dari banyaknya karya berupa buku, artikel dan pengalamannya yang aduuuhh bikin geregetean!

Kok bisa ya ada orang dengan kemampuan yang memikat seperti itu? Sejak kapan dia menyadari mimpi dan kemampuan meraih mimpinya tersebut? Terselip sedikit iri (sedikiiiit aja kok hehehe).

Setiap orang memang harus punya mimpi. Termasuk aku. Cuma aku (sepertinya) agak tidak peka terhadap mimpiku sendiri. Aku termasuk yang easy going. Apa yang ada di depanku yang jalani aja. Toh semua sudah diatur oleh-Nya. Itu yang selalu kupikirkan dan sedikit banyak mempengaruhi cara pandangku mengenai mimpi. Hehehe

Dari kecil hingga menginjak waktu kuliah sebenarnya aku termasuk anak yang mendapatkan kebebasan dalam menentukan masa depan. Alias dari dulu sebenarnya aku sudah dituntut peka terhadap mimpiku.

Tapi tetap saja, aku jalani saja apa yang ada didepanku. Prinsipku sampai sekarang ya cuma satu, yaitu bertanggung jawab dan menyelesaikan yang menjadi kewajibanku saat itu. Tidak neko-neko. Tapi hasilnya ya begini, jadi kurang sensitif dan kurang bergairah mengejar mimpi.

Sebenarnya apa yang disebut dengan mimpi? Bagaimanakah mimpi tersebut dihubungkan dengan bakat seseorang? Bagaimana agar seseorang dapat menyadari mimpi terbesarnya? Hhhhhh banyak sekali yang ingin kuketahui.

Dari kecil hingga mau masuk kuliah, aku masih belum sadar betul apa-apa yang ingin kucapai berdasarkan keahlianku. Bahkan mungkin aku juga tidak tahu apa saja kemampuan yang kumiliki. Ataukah aku tidak mempunyai kemampuan? (Halah lha kok jadi negative begini mikirnya? Lupakan!) Semua yang terjadi kuanggap sudah menjadi takdir. Dan aku tinggal menjalaninya.

Dulu selepas SMP sebenarnya bapak sudah membuka jalan mimpiku dengan menawarkan beberapa sekolah lanjutan atas untuk kupilih. Saat itu bapak menyodorkan beberapa pilihan SMA dengan beberapa konsekuensi yang menyertai.

Saat itu bapak memberi dua pilihan awal. Aku disuruh memilih untuk melanjutkan sekolah di sekolah kejuruan atau di sekolah menengah umum. Bapak menjelaskan menurut sepengetahuan beliau “Jika kamu ingin melanjutkan kuliah maka pilihlah SMU, jika kamu pingin segera bekerja maka ambil yang SMK.”

Dulu entah informasi yang sampai ke bapak “hanya” itu, ataukah memang masuk SMK tidak bisa lanjut kuliah. Tapi itu menjadi dasar pilihan pertamaku untuk masa depanku. Aku memilih masuk di SMU. Alasanku tentu saja karena aku ingin kuliah. Mumpung orang tua masih mampu membiayaiku, maka aku ingin sekolah seeeetinggi-tingginya. J

 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[EF#13] Badminton or Aerobic?

What kind of sport do I prefer to stay healthy? Hmmm … it’s interesting. BEC always make me smile when I read their challenges every weeks. The challenges burn my mind and refreshing my day. Yeay! Ok it’s enough making BEC 's team blushing hehehe. Back to the topic, actually I like sport eventhough I am not discipline enough in it *errrr … somebody please help me out of that undisciplined manner. It’s mean sometimes yes sometimes, I do sport and enjoy that activities. There are few kind of sport that I rarely do together with my family, like bicycling around the village enjoying the sunrise moment or sometimes I prefer playing badminton with my sons and the other times I choose to do aerobic. Which one that I like among them? Hmmm that's all interesting and make my day. But actually I like aerobic better than others hehehe. Why? Oh yes, because aerobic can make me moving and relaxing of course. The music that escort until the aerobic is so relaxing. Slow music and...

Nikah Yuk!

Ngomongin tentang nikah itu sering menimbulkan rasa sensitif dalam hati, terutama di dalam hati jomblowan dan jomblowati. Dan dulu, duluuuuu sekali ketika saya masih sebagai gadis imut yang tentu masih jomblo, saya sering merasa mupeng *agak ke iri sih sebenarnya hahaha ... *, jika ada teman seumuran yang udah nikah. Rasanya kok ajib aja gitu, masih muda tapi sudah ada yang punya, halal pula hehehe ... Karena penasaran dengan apa dan bagaimana persiapan menuju pernikahan yang barokah, maka ketika kuliah dan ada seminar pra nikah saya pun ikut serta hehehehe... Dan hasilnya saya semakin ingin menikah muda hahaha... Nah lo, kenapa? Iya, karena di seminar yang disampaikan oleh Mohammad Fauzil Adzim itu, membagi cerita tentang berbagai pernikahan muda yang tetap penuh prestasi. Oke banget kan? Contohnya ga usah jauh-jauh, Bapak yang nulis buku best seller Kupinang Engkau dengan Hamdalah ini adalah salah satu contoh bukti bahwa pernikahan di usia muda tidak akan memberi dampak buruk ba...

Bijak Berkendara. Bisa kan?

Beberapa hari lalu kota Jogja geger oleh kasus Moge. Hmmm... kalau dibilang tidak terganggu dengan seliweran para geng motor itu memang bohong. Tidak mungkin masyarakat rela mempersilakan orang-orang yang merasa dapat membeli dunia itu untuk melanggar hak mereka.  Sebelum kisah moge itu menggemparkan dunia nyata dan dunia maya, ada juga geng motor lain yaitu rombongan motor King, dan sebelumnya lagi ada rombongan motor CB yang tak kalah membuat geregetan. Mereka memadati seluruh jalan dan mengancam keselamatan pengguna jalan yang lain.  Saya yang juga tinggal di Jogja sebenarnya sudah sering menemui banyak geng motor menunjukkan aksinya, yang menurut saya tidak banyak memberikan manfaat itu. Justru banyak korban dalam even tersebut. Korbannya tidak hanya dari para peserta touring, tetapi juga pengguna jalan bahkan pejalan kaki harus ikut terkena dampak buruknya. See... mengapa kami menjadi galak? Ya karena nyawa kami terancam, bukan sekedar terganggu. Saya tidak a...