Langsung ke konten utama

Membangun Mimpi

Membangun mimpi

Dibesarkan oleh keluarga dengan latar belakang wiraswasta ternyata memberikan pengaruh dalam caraku memandang hidup. Ketika kecil sangat bangga dengan cara orang tua membesarkanku, tetapi lama-lama kebanggaan itu luntur berganti kebimbangan dan resah tak bertepi. Bagaimana tidak? Lambat laun aku menyadari bahwa menjadi pengelola losmen atau penginapan ternyata sangat dekat dengan perkara maksiat. Tahun demi tahun kulalui dengan gelisah. Berbagai mimpi terlintas dalam diri. Mungkin mimpi yang terlalu tinggi bagi orang yang bernasib sepertiku. Kedua orang tuaku benar-benar menggantungkan hidupnya di usaha penginapan atau orang biasa menyebutnya losmen. Aku ingin terbebas dari semua itu, sempat mencari dimana keadilan Tuhan karena menempatkanku di situasi seperti itu. Sering dulu aku bertanya pada Tuhan, mengapa Kau munculkan rasa gelisah ini?

Seperti orang dengan dua kepribadian, aku mengurai mimpiku di luar rumah dengan mengikuti berbagai kegiatan yang untungnya kegiatan positif. Aku dulu sering dan aktif ikut organisasi, berbagai kepanitiaan dalam berbagai kegiatan, bahkan aku sangat suka mengikuti kegiatan yang berbau religi. Tentu hal tersebut menyulitkan situasi ku sendiri pada masa itu. Sering merasa minder saat berada di lingkungan yang sebenarnya merupakan mimpiku. Sering merasa marah dengan orang-orang yang menganggap dirinya suci dan menganggap orang yang tidak seperti mereka pasti ahli neraka. Aku seperti orang yang menggali sendiri kuburannya. Seperti bermain-main api, panas dan menyakitkan dan bisa membahayakan tapi kehangatan api itu selalu kurindukan dulu. Pandangan aneh dari lingkungan sekitar sering kuperoleh saat aku mencoba mengikrarkan diri dengan pilihan hidupku dan berhijab. Pada masa remajaku masih sangat sedikit orang yang mengenakan hijab dalam keseharian. Dan apalagi dengan profesi orang tuaku, pilihan itu terasa sangat berat untukku dan untuk orang tuaku. Mereka takut dan marah, demikian juga denganku aku juga takut dan marah dengan pilihanku dan respon yang harus kuhadapi. Hari-hari berlalu terasa berat, apalagi tidak ada teman dan sahabat yang mengerti pilihanku tersebut. Mungkin karena kami masih sama-sama remaja dan labil jadi cara berpikirnya juga masih belum sebijaksana orang dewasa.

Sempat buka tutup dalam berhijab. Mencoba berkompromi dengan kondisi di lingkungan rumah, begitu kilahku waktu itu. Tetapi, tetap dengan menapaki jalan untuk meraih mimpi. Hingga jodoh mempertemukanku dengan lelaki sholih itu (sampai saat itu aku tidak pernah mengungkapkan kepada siapapun betapa rapuhnya aku). Aku tidak percaya dengan orang lain, aku tidak yakin mereka akan mengerti mimpiku dan keadaanku. Tapi Tuhan telah menunjukkan kuasaNya. Aku bertemu dengan orang yang baik hati dan mengerti aku. Alhamdulillah. Dan orang baik itu sekarang menjadi suamiku. J

Bersamanya aku mulai lagi rajutan mimpiku, dimulai dengan paksaannya untuk memberanikan diri menghijabi diri. Suamiku sampai rela pulang dari Bandung ke Jogja untuk memberiku kekuatan (pada tahun-tahun awal pernikahan kami harus LDR karena suami masih kuliah S2 di ITB Bandung). Dan pada hari suamiku pulang dari Bandung, aku diajak jalan-jalan (tentunya dengan berhijab) dan sesampainya di rumah tetap aku kenakan. Dan mencoba berhijab dengan sebenar-benarnya. Alhamdulillah berjalan dengan baik sampai sekarang.


Sebagian mimpiku sudah dikabulkan-Nya. Keluarga sakinah dambaanku selama ini, insyaAllah akan selalu kurajut bersama teman sejatiku (suamiku). Tapi, ternyata Tuhan masih menunjukkan kebaikanNya lagi. Aku diberikan petunjuk untuk dapat memperbaiki jalan masuk uang dalam keluarga orang tuaku, dengan tetap menjalankan usaha penginapan tetapi dengan konsep yang berubah dari penginapan konvensional menjadi berbasis syariah. Bismillah. J Sungguh nikmat TuhanMu yang manakah yang kamu dustakan. Terima kasih Tuhan untuk segala rahmat dan segala kebaikan dan berbagai pembelajaran. Mohon ampun untuk segala kesalahan dan kemarahan yang dulu sering hadir. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[EF#13] Badminton or Aerobic?

What kind of sport do I prefer to stay healthy? Hmmm … it’s interesting. BEC always make me smile when I read their challenges every weeks. The challenges burn my mind and refreshing my day. Yeay! Ok it’s enough making BEC 's team blushing hehehe. Back to the topic, actually I like sport eventhough I am not discipline enough in it *errrr … somebody please help me out of that undisciplined manner. It’s mean sometimes yes sometimes, I do sport and enjoy that activities. There are few kind of sport that I rarely do together with my family, like bicycling around the village enjoying the sunrise moment or sometimes I prefer playing badminton with my sons and the other times I choose to do aerobic. Which one that I like among them? Hmmm that's all interesting and make my day. But actually I like aerobic better than others hehehe. Why? Oh yes, because aerobic can make me moving and relaxing of course. The music that escort until the aerobic is so relaxing. Slow music and...

Nikah Yuk!

Ngomongin tentang nikah itu sering menimbulkan rasa sensitif dalam hati, terutama di dalam hati jomblowan dan jomblowati. Dan dulu, duluuuuu sekali ketika saya masih sebagai gadis imut yang tentu masih jomblo, saya sering merasa mupeng *agak ke iri sih sebenarnya hahaha ... *, jika ada teman seumuran yang udah nikah. Rasanya kok ajib aja gitu, masih muda tapi sudah ada yang punya, halal pula hehehe ... Karena penasaran dengan apa dan bagaimana persiapan menuju pernikahan yang barokah, maka ketika kuliah dan ada seminar pra nikah saya pun ikut serta hehehehe... Dan hasilnya saya semakin ingin menikah muda hahaha... Nah lo, kenapa? Iya, karena di seminar yang disampaikan oleh Mohammad Fauzil Adzim itu, membagi cerita tentang berbagai pernikahan muda yang tetap penuh prestasi. Oke banget kan? Contohnya ga usah jauh-jauh, Bapak yang nulis buku best seller Kupinang Engkau dengan Hamdalah ini adalah salah satu contoh bukti bahwa pernikahan di usia muda tidak akan memberi dampak buruk ba...

[EF#16] Sweet Memory from The Past

Hmmm get this challenge just turn back my memory about my grandmother. Yup, when I was a little girl, my grandmother often tell bedtime stories while for lice (there is no flea in my hair, but my grandmother always do it for me). Yes, I am so lucky that I had got that wonderful memories in my life. I am not sure, but my reading addict may be growing by that beautiful moments.  There were a lot of storytales that I have heard from my grandmother. Start from the legendary tale it is deer stealing cucumbers (Kancil Nyolong Timun), story about deer with crocodile, deer with tiger, storytale about frogs, until the story of flea. And do you know? That stories were repeated every night hahaha. Even though I have never complained about it, instead really enjoy it.  From that storytale I have learned so many things. I grow with that story affect and with that beautiful experiences. I would feel sad when one of the actors got supressions, or I became angry to someone else whose bad...